TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Laboratorium Forensik


__ADS_3

"Noah, bagaimana hasilnya? Apa kamu sudah menelitinya?" tanya Alvin kepada Noah yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Seketika, Noah langsung menoleh, dia yang sedang berbicara dengan asistennya langsung menghentikan pekerjaan. "Kamu duluan masuk ke dalam. Aku ingin berbicara dengan temanku terlebih dahulu," ucapnya menyuruh asistennya masuk ke dalam laboratorium duluan.


Setelah asistennya masuk, Noah berjalan mendekati Alvin mengajaknya berbicara di luar ruangan. "Ikutlah denganku, ada yang ingin aku bicarakan!" serunya.


Noah, adalah teman sekelas Alvin sewaktu sekolah menengah atas, mereka berdua sudah lama bersahabat. Noah adalah seorang ahli forensik di laboratorium departemen kriminal milik kepolisian. Kedatangan Alvin ke tempat kerjanya adalah untuk meminta tolong kepadanya, agar meneliti sidik jari di pecahan botol yang dibawanya tadi malam.


"Apa kamu sudah menemukan hasilnya?" tanya Alvin lagi. Sekarang mereka berdua berdiri di luar saling berhadapan.


Merasa tidak nyaman, Noah melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Sejujurnya hal yang kamu lakukan sudah menyalahi peraturan departemen laboratorium Kepolisian, Alvin. Kalau ketahuan warga sipil, bisa-bisa jabatanku diturunkan sekarang juga," bisik Noah.


Mendengar temannya berkata seperti itu raut wajah Alvin berubah masam, dengan dahi yang berkerut dia menatap marah Noah. "Jadi kamu tidak ingin membantu temanmu?" ketus Alvin menaikkan nada bicaranya.


Noah menghela napas pelan. "Tidak, tidak! Maksudku bukan begitu! Prosedur yang kamu lakukan itu salah, harusnya kamu melapor dulu dan membiarkan pihak berwajib yang bertindak. Bukannya mengambil pecahan botol itu sendiri lalu membawanya ke sini. Kalau ketahuan, itu akan membahayakan reputasiku," ucapnya penuh penekanan.


Alvin menangkap ekspresi ketakutan di wajah Noah, dia memang tahu telah menyalahi aturan. Namun, bukan masalah Alvin takut melapor ke polisi. Hanya saja lelaki itu sangat takut Luna istrinya malah akan terbawa kasus yang menimpa Helen. Walaupun dia yakin istrinya tidak menggores luka di tangan Helen, tetap saja tidak mau kalau sampai Luna ikut bermasalah.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau membantuku! Baiklah aku akan mencari laboratorium lain." Rahang Alvin mengeras, dia sangat kecewa kalau sampai temannya itu tidak akan membantunya.


Noah balik melihat wajah Alvin, belum sekalipun dalam pekerjaannya dia melakukan kesalahan ataupun sanksi. Namun, demi seorang Alvin mau tak mau dia melakukannya.


Sebelum Alvin melangkah pergi, Noah lebih dulu menahannya. "Tunggu, jangan marah dulu!" seru Noah.


"Aku hanya ingin melindungi istriku," ucap Alvin lagi. Dalam kondisi terdesak sekali pun dia tak mau menurunkan egonya.


"Aku hanya memberitahukan konsekuensinya, lagipula mana mungkin aku tidak membantu sahabatku yang pemarah ini," ucap Noah tersenyum serata mendorong pelan bahu Alvin, seperti yang dia lakukan ketika remaja. "Jangan emosi, apa yang ingin kamu selidiki? Katakan sekarang, sebelum atasanku melihat kita," tambahnya.


Alvin melengkungkan bibirnya ke atas, hampir saja dia dibuat emosi oleh temannya sendiri. "Saat di bar, Helen memfitnah istriku telah melukainya. Noah, aku tahu kamu sangat ahli di bidangnya. Aku ingin kamu menyelidiki sidik jari Luna dan Helen di beberapa pecahan botol itu. Tenang saja, aku tidak akan menyuruhmu tanpa imbalan. Kalau kamu berhasil menyelidikinya, aku akan memberi hadiah istimewa untukmu," ucapnya.


"Baiklah, serahkan padaku. Tanpa imbalan pun aku akan menolongmu. Tunggu saja, beberapa jam lagi kamu akan mendapatkan hasilnya," sahut Noah balas tersenyum.


***


Di Kediaman Alvin.

__ADS_1


Ketika Aluna masih beradu argumen, sistem berkedip memberitahukan sebuah pesan kepadanya.


...[Nona Aluna, saat ini Alvin sedang berada di laboratorium hendak meneliti sidik jari di pecahan botol]...


Mendengar suara Miss K, hati Aluna langsung menghangat, dia sangat senang dengan tindakan Alvin yang akan membantunya menyelesaikan masalah.


Di saat bersamaan, rupanya Mona yang tidak tahan dengan pernyataan Aluna tidak ingin berdebat terlalu lama. Semakin lama dia beradu argumen dengan Aluna, semakin menunjukan mereka berdua seperti orang bodoh.


"Sudahlah, aku tidak peduli dengan pernyataan Luna tentang pisau itu. Kami ke sini tetap ingin meminta ganti rugi karena terang-terangan Luna telah melukai lengan Helen, menyebabkan tangan anakku berdarah, ini jelas sangat menyakitkan dan merugikan. Aku tidak mau tahu! Beri kami bukti atau kami akan tidak lanjuti sampai ke meja hijau?" ucap Mona tegas melirik tidak suka ke arah Luna.


Desakan Mona tidak membuat Aluna takut, karena dia merasa tenang telah mendengar sendiri dari sistem, kalau Alvin sedang mencari bukti untuknya. Aluna berdiri tegap dengan gerakan pasti tanpa keragu-raguan menunjukan rasa percaya dirinya. "Beri aku waktu untuk mendapatkan buktinya. Tapi--" Ucapan Aluna terpotong, dia melihat Helen bergantian dengan ibunya satu persatu.


"Tapi apa?" tanya Mona ketus.


"Aku akan menyerahkan bukti secepatnya, tetapi dengan syarat ... selama aku sedang mengumpulkan bukti ... aku tidak mau melihat wanita bermuka dua ini datang ke rumah atau ke perusahan Alvin." Aluna berkata tegas di hadapan semua orang.


Mendengar itu Helen menahan tawa di hatinya. Ya, dia memang tak memiliki rencana licik lain. Namun, ia sangat yakin Aluna tidak akan mendapatkan bukti sampai kapan pun.

__ADS_1


Berkata lah sepintarmu, Luna! Tetapi nyatanya kamu tidak akan mendapatkan bukti apa pun, batin Helen sangat yakin.


__ADS_2