TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 278. Menukar Keahlian


__ADS_3

Seorang pengendara mobil yang ditabrak Yuze, memarahinya. Meminta pertanggungjawaban terhadap lelaki itu karena membuat penyok body mobil belakang.


"Aku tidak mau tahu, kamu harus ganti rugi!" kata pengendara tersebut membentak Yuze.


Tidak hanya mobil di depannya, pengendara mobil yang ada di belakang Yuze pun menyalahkannya. Mereka tidak bersalah atas kecelakaan beruntun barusan. Yuze lah yang bersalah karena mengerem mobilnya secara mendadak, padahal lalu lintas sekarang lumayan padat.


"Lelaki inilah yang bersalah. Dia tak menyalakan lampu peringatan sampai aku sengaja menabraknya dari belakang. Aku juga ingin meminta ganti rugi karena body depan mobilku penyok!"


Lily terlihat memijat kening merasa pusing menghadapi kegaduhan di depannya. Apalagi orang-orang tersebut terus menyalahkan mereka, berniat memperkarakan Yuze ke jalur hukum.


"Tenang, Pak. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan mengirimkan sejumlah uang untuk kalian. Kami sedang terburu-buru ke pelabuhan. Kapal yang sudah kami pesan akan berangkat sebentar lagi. Jadi berikan saja nomor rekeningnya sekarang, nanti kami akan kirim," kata Yuze memohon.


"Tidak! Kami tak percaya! Bisa saja kalian berbohong agar bisa pergi dan tak bertanggung jawab 'kan? Ikut kami ke kantor polisi agar masalah kita cepat selesai," kata pengendara mobil yang ditabrak.


"Tunggu, Yu. Aku punya sedikit uang sebagai jaminannya."


"Cepat ambilkan! Kita harus cepat ke pelabuhan sekarang mengantarkan anak pembawa sial itu!"


"Aku baru ingat, Zero ada di dalam sendirian," kata Lily panik.


Lily langsung teringat telah meninggalkan Zero di dalam mobil sendirian. Lily yang kaget, langsung berjalan masuk. Ingin mengambil uang sebagai ganti rugi, dan tentunya ingin melihat Zero, memastikan kalau anak itu baik-baik saja.


"Zero," panggil Lily begitu membuka pintu, "Zero! Kamu di mana?"


Lily yang ada di kursi depan langsung membuka pintu tengah, mencari anak itu. Namun, Zero tetap tak dia temukan.


"Sial! Anak itu rupanya kabur!"


Wajah Lily mendadak merah padam. Setelah megambil uang, dia kembali berlari menghampiri Yuze, menepuk pundaknya dengan keras.


"Anak itu kabur. Kita harus mencarinya sekarang!" seru Lily.


Lily meyerahkan sejumlah uang sebagai biaya ganti rugi kepada para pengendara yang dirugikan. Sayangnya, jumlah uang yang dimiliki Lily tak sesuai dengan permintaan mereka. Membuat mereka tetap menahan keduanya.


"Ini semua gara-gara kamu, kenapa kamu malah ikut aku keluar?" Yuze menyalahkan Lily.


"Apa? Kamu menyalahkan aku? Bukan karena aku, semua ini karena kamu yang ceroboh sampai menabrak. Kalau tidak ceroboh dan ribut seperti sekarang, mana mungkin Zero bisa kabur. Kamu yang salah!"

__ADS_1


Lily tak mau kalah dan balik menyalahkan Yuze. Keduanya sangat marah, dan menyesali tindakan masing-masing. Bisa-bisanya mereka meninggalkan Zero sendirian.


"Kita ditipu oleh anak ingusan itu. Harusnya kamu sadar tadi!" gerutu Lily terus menyalahkan Yuze.


"Lily, bisakah kamu diam?" teriak Yuze mulai frustrasi. Karena usahanya yang sudah dirancang beberapa hari, akan gagal sebentar lagi.


Lily mendekati para pengendara yang dirugikan agar melepaskannya. Namun, para pengendara menolak karena jaminan yang mereka berikan terlalu sedikit.


"Tolong kami. Ponakan kami kabur dan harus segera ke pelabuhan sebentar lagi," kata Lily dengan wajah memelas.


***


Clara telah sampai rumah dan menghampiri Nenek Alma. Clara mengatakan dia sudah menjemput Zero, dan sekarang anak itu sedang ada di mobil Yuze.


"Telepon Zero sekarang! Kenapa sampai sekarang belum sampai rumah?" tanya Nenek Alma setelah menunggu hampir setengah jam lamanya dari Clara datang.


"Baik, Nek."


Kemudian Clara langsung menghubungi Yuze yang masih berselisih di jalanan. Yuze di tempatnya terpaksa menerima telepon Clara untuk meminta bantuan agar mengirimkan uang cepat.


"Bibi, mobil kami mengalami tabrakan beruntung. Kami kekurangan uang untuk mengganti rugi terhadap pemilik mobil yang aku tabrak. Bisakah Bibi membantu kami?" kata Yuze.


"Apa! Kecelakaan? Kenapa bisa terjadi? Bagaimana dengan cucuku, apa Zero baik-baik saja?"


Ekspresi keterkejutan Clara membuat Nenek Alma gemetar. Mendengar mereka kecelakaan saja membuat nenek was-was, apalagi sampai mendengar Zero kabur dan dalam bahaya. Nenek Alma meminta Clara mengeraskan suara di ponselnya.


Sedangkan Yuze di tempatnya, sedikit takut mengatakan kalau Zero telah menghilang. Dia diam sejenak setelah sebelumnya melirik ke arah Lily meminta pendapat.


"Biar aku saja yang menelepon," kata Lily berbisik di telinga Yuze.


Lily meraih ponsel Yuze, kemudian menjawab pertanyaan Clara tadi. "Bibi ... maafkan aku, hiks. Tadi saat kami kecelakaan ...."


"Jangan memotong ucapanmu. Di mana Zero sekarang?" kata Clara membentak Lily yang sedang bersandiwara menangis.


"Zero tidak ada di mobil kami saat kami menangani mobil yang kamu tabrak. Zero sampai bilang kalau dia ingin buang air kecil. Aku sudah mencarinya ke toilet bahkan ke tempat-tempat lainnya. Tapi ... kami tak bisa menemukan Zero. Maafkan kami, Bibi."


Lily dengan dengan kebohongannya berbicara dengan Clara di telepon. Dia berpura-pura menangis agar Clara dan Nenek percaya tahu kalau dia pun ikut sedih.

__ADS_1


"Jadi Zero menghilang lagi?" tanya Nenek Alma.


Wanita yang berumur hampir 80 tahun tersebut langsung memegang dada. Apalagi saat Yuze mengatakan kalau memang iya Zero telah menghilang.


"Kalian tak bisa diberikan amanat! Cepat cari Zero sampai ketemu!"


Bagian dada Nenek Alma mulai sesak. Para pelayan buru-buru mengambilkan obat dan air minum. Namun, sebelum Nenek Alma meminumnya, wanita tua itu sudah lebih dulu pingsan.


"Cepat cari Zero sekarang! Kalau sampai Zero tak ditemukan kalian tak boleh pulang dan Nenek tidak akan memaafkan kalian!" perintah Clara dengan tegas.


Para pelayan langsung memanggil perawat untuk melakukan pertolongan pertama kepada Nenek. Mendampingi Clara mengantar Nenek ke rumah sakit.


Clara baru sadar kesalahannya kali ini karena terlalu mempercayakan Yuze dan Lily. Dia juga baru sadar, kenapa Aluna sampai ingin menjemput dan mengantar Zero seorang diri. Yah, ternyata semua demi keselamatan cucunya.


"Nenek bertahanlah, aku akan berusaha mencari Zero."


***


Di mobil yang lain. Kalung sistem yang dikenakan Aluna menyala. Notifikasi dari sistem terdengar hebat di telinga Aluna. Bahkan Alvin baru kali ini melihat bandul di kalung sistem yang tiba-tiba menyala.


"Aluna, kalungmu?" tanya Alvin sambil menunjuk kalung Aluna.


Aluna yang sedang menyetir, menyempatkan diri menepuk kalung sistem. Dia tak pedulikan Alvin yang sekarang sedang melongo.


"Tidak apa-apa, mungkin sensornya saja yang menyala," kata Aluna.


Belum sempat Aluna bertanya, Miss K sudah memberikan informasi.


[Zero sudah lepas dari Lily dan Yuze. Sekarang anak itu sedang berlari menuju hutan kecil yang berada tidak jauh dari pelabuhan. Anda harus cepat mencarinya, Nona. Tinggal di hutan seorang diri bisa membahayakan nyawa Zero.]


Aluna berpikir sejenak. Waktu sudah beranjak malam, dan dia mengkhawatirkan Zero. "Miss K, apa aku masih punya sisa tas saran?"


Sistem langsung berkedip dan menjawab. [Yah, masih Nona.]


"Kalau begitu aku ingin menukarnya dengan kemampuan bertahan hidup untuk Zero. Aku ingin Zero memiliki keahlian bela diri," kata Aluna.


[Sistem setuju. Penukaran berhasil dan akan ditransfer ke tubuh Zero.]

__ADS_1


__ADS_2