TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Menyiapkan Perangkap Kecil


__ADS_3

Helen mulai kebakaran jenggot begitu tahu Yuka sudah memberitahukan semuanya kepada Luna. Menurutnya, Luna kali ini tidak bisa dianggap enteng, wanita itu benar-benar berubah 180 derajat. Mendengar itu Helen tak mau kalah, walaupun kebusukannya sudah terbongkar, ia masih berpikiran licik berusaha memutarbalikkan fakta di depan Alvin nanti malam.


"Baiklah, Luna. Kita akan bermain malam ini," ucapnya.


Derap langkah kakinya mulai memasuki ruangan Alvin. Sebelum masuk ke dalamnya, Helen mencoba memperbaiki penampilannya terlebih dahulu agar terlihat sempurna di mata Alvin. Ya, rencana pertama Helen adalah mencoba merayu Alvin agar tidak datang ke Cafe Miracle malam ini.


"Apa Anda lembur sampai malam, Tuan?" Helen mendatangi Alvin yang tengah sibuk dengan layar komputernya.


Alvin tak menjawab apalagi menoleh, ia masih fokus dengan pekerjaannya. "Apa kamu sudah membatalkan janji dengan Tuan Ed?" Alvin balik bertanya.


Sedikit kecewa dengan sikap Alvin yang mengacuhkannya, Helen lebih mendekatkan lagi tubuhnya ke samping Alvin. Mencoba mengalihkan perhatian Alvin agar bisa melihatnya. Helen rela melakukan perawatan mahal agar bisa mengalahkan kecantikan Luna, berusaha supaya Alvin lebih menyukainya.


Lihatlah aku, Alvin.


"Tuan, apa Anda tidak berpikir sekali lagi. Tuan Ed hanya akan datang kemari setahun sekali. Malam ini adalah malam terakhirnya, setelah itu ia akan kembali ke negaranya." Helen berusaha merayu Alvin.


"Tidak," jawab Alvin singkat.


"Tuan, Proyek Lotus sudah kita rencanakan dari tahun kemarin. Apa Anda yakin ingin melewatkan kesempatan emas berkerja sama dengan anak perusahaan dari Genus Grup. Apalagi Tuan Ed akan datang bersama CEO dari Perusahaan WZ yang paling terkenal di Negara Zeoul, sudah pasti mereka akan berminat menaruh saham di perusahaan kita." Helen mencoba merayu sekali lagi.


Sayangnya Alvin tetap tak mendengar ocehan Helen.


"Sudah aku bilang batalkan janji dengannya. Apa kamu tidak mendengarnya, hah?" Alvin mulai tersulut emosi, lalu melihat wajah Helen sepintas, "menghadiri acara istriku malam ini lebih penting daripada menghadiri acara apa pun, kamu mengerti?"


Bahkan aku sudah tidak sabar menemuinya malam ini, batin Alvin.


Glek,


Mendengar Alvin mengatakan kata istriku untuk Luna, membuat Helen semakin memanas. Entah mengapa hatinya seperti tembok yang hampir runtuh ketika mendengarnya langsung.


Helen mengambil napas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Mau tak mau ia mengiyakan keinginan Alvin, kalau tidak pria itu akan memarahinya lagi.


"Baik, Tuan! Aku akan membatalkannya." Melihat raut muka Alvin yang tidak memungkinkan untuk ia rayu lagi, dengan sedikit kecewa Helen bergegas meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu!" seru Alvin.


Helen tersenyum ketika Alvin menghentikan langkahnya sebelum sampai pintu, ia pikir Alvin akan berubah lagi.

__ADS_1


"Ya, Tuan."


"Kamu juga wajib datang ke acara istriku malam ini," ucap Alvin tanpa melihat wajah kecewa Helen.


"Ta-tapi, Tuan.. "


"Tidak ada tapi! Aku akan memecatmu kalau tidak datang nanti malam," tegas Alvin lagi.


Dengan sangat terpaksa, Helen mengiyakan lagi perintah Alvin. Helen buru-buru pergi meninggalkan ruangan Alvin, sebelum pria itu membuat telinganya lebih panas lagi.


***


Alvin memutar kursinya kebelakang, memejamkan matanya lalu bersandar di kursi. Ya, Alvin sedang membayangkan seperti apa pertemuannya dengan Luna malam ini. Bahkan karena tidak sabarnya berulang kali Alvin melihat jam di tangannya.


Tiga jam lagi, kenapa waktunya mendadak lambat? Gerutu Alvin menghentakkan kakinya.



Kenapa bayang-bayang wajahnya selalu ada di otakku? Ah' aku sudah tidak sabar menemuinya malam ini.


Alvin mengacak-acak kasar rambutnya, tersenyum sendiri ketika mengingat lagi peristiwa tadi siang. Ia tidak menyangka selama dua hari ini, Luna membuatnya tak berhenti memikirkannya.


***


Jam 18.30


Setelah mendapatkan bukti, Aluna memutuskan kembali ke rumah Alvin. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah memilih gaun untuk acara malam ini. Menimbang-nimbang gaun apa yang cocok untuk dikenakannya, lalu memilah deretan baju yang ada di lemari Luna.


Sepertinya ini adalah gaun yang cocok untuk aku pakai, gumam Aluna.


Aluna sengaja memilih gaun dengan sederet kancing di depan dadanya, supaya ia dapat membukanya beberapa kancing, untuk menampakkan tulang selangka miliknya. Tentu saja itu adalah siasat Aluna untuk menjebak Helen dan Devan.


Sepertinya beberapa jam lagi akan menjadi malam yang menegangkan untukku.


Devan! Nama itu selalu dibawa-bawa, bahkan aku belum tahu bagaimana karakter pria itu?


Kerena penasaran, Aluna lalu mengetuk kalung sistem. Beberapa menit tak menyala, Aluna akhirnya mengetuk sekali lagi.

__ADS_1


"Miss K," ucap Aluna sambil bercermin.


...Sistem menjawab, "Selamat malam, Nona."...


"Haish, kenapa lama sekali menjawabnya? Apa bateremu sudah hampir habis?"


...Sistem tertawa, "Ha.. ha.. batereku tidak akan pernah habis, Nona."...


Sambil terus mengobrol, Aluna mencari spidol di dalam laci nakas. Aluna berniat menggambar tahi lalat di tulang selangkanya.


..."Apa yang akan Anda lakukan, Nona?"...


"Aku akan menggambar tahi lalat di sini, ini adalah perangkap kecil yang aku buat agar bisa membuktikan kalau Luna tidak bersalah."


Aluna memainkan jarinya, menggambar titik di bawah tulang selangkanya lalu merapikannya agar terlihat seperti tahi lalat yang nyata.


"Miss K, bagaimana sikap Devan terhadap Luna? Apa dia mencintainya?" tanya Aluna.


Sistem menjawab,


..."Devan adalah pria yang ambisius dan penuh tantangan. Tentu saja ia mencintai Luna, Nona."...


Aluna beranggapan sepertinya Devan bukanlah pria yang sulit ia hadapi. Di dunia nyata Aluna sudah terbiasa menghadapi lelaki, tapi bukan urusan cinta, melainkan urusan berkelahi.


Setelah selesai menggambar dan berbicara dengan sistem, Aluna melihat koper yang ia tinggal sebelum pergi ke rumah sakit kemarin. Ia lalu merapihkan beberapa baju ke tempatnya semula. Tangannya meraih buku harian Luna yang belum selesai ia baca.


"Aku harus menulis rencanaku malam ini di dalam buku ini. Aku ingin meninggalkan catatan untuk Luna kalau nanti aku sudah tak di sini lagi," ucap Aluna sembari menulis.


Rencana malam ini adalah membuktikan bahwa Luna tidak bersalah.


###


.


.


Maaf ya..Author agak telat updatenya, terus terang Author sedang terkena flu berat.

__ADS_1


Like dan komentar positif dari kalian bisa menjadi vitamin agar aku bisa lebih bersemangat lagi terusin novel ini.


Terima kasih.


__ADS_2