
Di dalam toilet Aluna bertanya lagi kepada sistem, mengapa misinya tak selesai? Padahal ia sudah mempertemukan Devan dangan Alvin di kafe itu.
"Miss K, bukannya misi kali ini mempertemukan Alvin dengan Devan. Itu berarti misi keduaku telah selesai?" tanya Aluna sambil mengetuk kalung sistem.
Sensor di kalung sistem langsung menyala.
...Sistem menjawab, "Nona Aluna, misi kali ini akan selesai apabila Anda melakukan makan malam bersama Devan di depan Alvin."...
Aluna baru ingat perkataan sistem tadi pagi, kalau misinya adalah makan malam bersama Devan. Pantas saja dari tadi suara sistem laki-laki belum ia dengar seperti kemarin.
"Hanya makan malam? Tidak harus menyelesaikannya sampai acara ini selesai, bukan?" tanya Aluna sekali lagi.
..."Tentu saja, Nona. Anda hanya perlu makan bersamanya, walaupun itu hanya beberapa menit. Yang harus perlu Anda lakukan adalah menghabiskan satu menu di meja yang sama dengan Devan di depan Alvin, baru misi hari ini terselesaikan."...
Aluna sedikit puas dengan jawaban sistem, jadi dia hanya perlu menghabiskan satu menu makanan bersama Devan. Itu adalah hal yang mudah menurut Aluna. Sekarang ia bersiap menggambar kembali tahi lalat di tulang selangkanya. Walaupun misi hari ini akan cepat selesai, ia tetap harus menyelamatkan nama baik Luna.
Bisa-bisanya Devan membuat video mesum itu bersama Yuka dan lebih parah lagi ia memfitnah bahwa wanita itu adalah Luna. Tidak terlalu mirip kalau dilihat aslinya, di video itu memang Aluna yang berjalan di depan kamar hotel, selebihnya bukan dia lagi. Barulah saat melakukan adegan tak senonoh itu di dalam kamar bukan Luna, melainkan tubuh Yuka. Di dalam Video yang berdurasi sekitar lima belas menit itu, tak terlalu jelas menampakkan wajah si wanita, karena posisi Yuka hanya menampakan bagian dadanya dengan posisi wajahnya tertutupi separuh rambut.
Video itu sudah pasti sangat panas, membuat Alvin kebakaran jenggot setiap kali melihatnya.
Aluna mulai memainkan jarinya, kembali menggambar titik di tulang selangkanya di depan cermin. Aluna tidak sadar kalau dari tadi Alvin kembali memperhatikannya dari pintu kamar mandi. Alvin tampak penasaran mengapa Luna melakukan itu?
"Apa yang sedang kamu buat, Luna? Untuk apa kamu menggambar tahi lalat di tubuhmu?" tanya Alvin mengagetkannya.
Sedikit kaget, Aluna lalu menghentikan aktifitasnya. "Lihat saja nanti, Tuan. Nanti juga Anda tahu," ucapnya kepada Alvin.
Tidak ada jawaban yang pasti, membuat Alvin hanya menonton Aluna dari pintu. Ia membiarkan wanita itu melakukan apa pun asal masih dalam batas wajar.
Beberapa menit setelah selesai menggambar, Aluna lalu keluar dari dalam kamar mandi, hendak kembali ke tengah kafe bersama Alvin.
__ADS_1
"Sebaiknya kita harus cepat kembali ke kafe, aku tidak ingin mereka menunggu terlalu lama," ucap Aluna.
Alvin menoleh sekilas ke arah istrinya, benar ia berhasil membuat tahi lalat lagi. Tapi entah mengapa Alvin kembali tidak suka saat Aluna melepas tiga kancing kemeja di depan dadanya.
"Tunggu!" seru Alvin.
Pria itu lalu mengancing tiga kancing atas kemeja punyanya yang dipakai Aluna. "Sebaiknya tutupi saja. Aku tidak suka kamu memperlihatkannya kepada orang lain," ucapnya.
Alvin menatap sekilas manik mata Aluna, lalu dengan cepat mengaitkan beberapa kancing ke lubangnya. Entah mengapa setelah ia yakin istrinya tidak bersalah, ia begitu posesif terhadap Aluna.
Tatapan mata mereka sempat bertemu. Namun dengan cepat Aluna segera mengalihkan perhatiannya. Ya, Aluna tidak ingin saat dirinya berada di dunia novel sampai terbawa perasaan kepada Alvin. Jelas misinya adalah untuk kembali ke tempat asalnya. Bukan untuk mencintai Alvin.
"Aku akan mengantarmu ke kafe, pegang lenganku, Luna!" perintah Alvin kepada Aluna agar mengaitkan tangannya.
Tampak tertegun sejenak, akhirnya mau tak mau Aluna mengaitkan tangannya. Jelas baru kali ini Aluna berjalan dengan seorang pria sedekat itu. Kalau saja dicerita ia bukan istrinya, sudah pasti Aluna akan menolaknya.
Bau tubuhnya? Kenapa aku sangat suka sekali, batin Aluna lagi.
Bukan hanya Aluna, bahkan Alvin merasakan hal yang lain dari biasanya. Ia merasa Luna yang dikenalnya sekarang bukan istrinya yang dulu, tapi anehnya ia lebih menyukai Luna yang sekarang.
Alvin sendiri bingung, kenapa dadanya begitu bergemuruh saat wanita itu memegang erat lengannya. Alvin menoleh sepintas ke arah Aluna yang dari tadi mengalihkan matanya ke arah lain. Ya, Aluna sangat takut ketika tatapan mereka kembali bertemu.
Kali ini aku begitu nyaman berada di dekatnya, batin Alvin.
Tidak! Aku tidak boleh menyukainya! Jelas dia bukan suamiku sebenarnya, aku tak boleh terbawa perasaan! Batin Aluna.
***
Di Kafe Miracle
__ADS_1
Clara terpaksa membujuk beberapa temannya agar tidak meninggalkan kafe. Itu semua demi Alvin, wanita itu memaksa teman-temannya agar menunggu sebentar lagi.
"Tunggu setengah jam lagi, kalau mereka tak datang barulah kalian boleh pul--" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Aluna dan Alvin sudah tiba di hadapan mereka.
Aluna lalu melepaskan tangannya dari lengan Alvin setelah semua orang begitu tercengang melihat kehadiran mereka, terutama Helen. Wanita itu tampak tidak suka dengan kedekatannya. Ia tampak cemburu ketika mengetahui Aluna memakai baju Alvin.
Kenapa dia memakai baju Alvin? Bukankah Alvin tak menyukai Luna? Batin Helen tidak suka.
"Tuan, aku ingin meluruskan masalah ini dulu dengan Devan," ucap Aluna pelan kepada Alvin.
Sebenarnya Alvin tak menyetujui. Namun, akhirnya ia mengangguk dan hanya memberikan waktu lima menit istrinya berbicara berdua dengan Devan.
"Lima menit tak lebih!" seru Alvin.
"Terima kasih, suamiku."
Setelah mengantongi ijin dari Alvin, Aluna berjalan menuju tempat di mana Devan duduk. Sementara Alvin sendiri menghampiri ibunya, memberitahukan apa alasan ia menyuruh mereka datang ke kafe.
Sebelum sampai di meja Devan, Helen sempat berpapasan dengannya. "Aku kira Anda tidak kembali lagi! Aku hanya memberitahukan kepada Anda sekarang, jangan berbicara omong kosong malam ini, atau berniat menjatuhkanku malam ini. Karena itu semua tidak mungkin! Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri," bisik Helen pelan.
Tak menjawab ocehan Helen, Aluna terus berjalan ke arah Devan yang sudah menunggunya. Aluna lalu membuka dua kancing kemejanya. Berusaha mengalihkan perhatian Devan agar mau makan malam bersamanya, itu adalah tujuan utamanya.
Tahan Aluna, jangan tersulut emosi. Jangan membuang waktumu berdebat dengan Helen sekarang. Ada waktunya aku menutup mulut ular itu! Batin Aluna.
Sementara Alvin yang melihatnya dari kejauhan merasa geram saat Aluna kembali membuka kancing kemejanya, untungnya hanya dua buah, ia masih bisa mentolelir.
Alvin yang barusan berpikir, sedikit paham dengan rencana Aluna kali ini. Sepertinya lagi ia tahu mengapa istrinya menggambar tahi lalat di tulang selangkanya. Baru kali ini ia sadar pikirannya sejalan dengan hatinya.
Hanya lima menit Luna kamu duduk bersamanya, setelah itu aku tidak akan membiarkanmu dekat dengannya lagi, batin Alvin.
__ADS_1