
Ponsel berdering, mata Helen melotot. Melihat panggilan telepon itu datang dari Lisa, dia langsung mengangkat telepon dan mendengar suara Lisa sedang memakinya di telepon.
"Kamu sudah tahu kan resikonya? Sekarang apa kamu mau terus melanjutkan hubunganmu?"
Lisa berbicara sangat jelas, nada bicaranya setengah mengancam. Dia akan terus menerus meneror Helen sampai wanita itu mau menyerah dan melepaskan Noah.
"Tak peduli siapa kamu. Jangan ganggu dan hubungi aku lagi. Lelaki itu ambil saja, bahkan aku tak akan menginginkannya jika dia mendadak kaya sekali pun!"
Helen tak kalah marah, berteriak dan memaki balik Lisa. Beberapa memori yang hilang saja sudah membuatnya emosi ditambah lagi harus berurusan dengan bajingan kecil seperti Lisa.
"Dasar wanita gila! Dasar aneh! Bisa-bisanya Noah menyukaimu. Kalian membuatku semakin pusing." Di kamarnya Lisa berteriak keras sambil membanting ponsel yang barusan dipegangnya. Mengenai perubahan pada diri Helen yang mendadak membuatnya ikut frustrasi, dia yakin ada yang janggal pada diri wanita itu. Lisa berpikiran kalau Nona Helen memilki kepribadian ganda.
Sementara Helen, seusai sambungan telepon Lisa terputus. Dia malah menghubungi Noah. Helen tak ingin berbasa-basi. Di menit itu juga dia meminta Noah mengklarifikasi hubungan mereka. Helen meminta mereka bertemu dan yang paling utama, Helen ingin membuat perhitungan kepada Noah.
***
__ADS_1
"Semua sudah siap, ayo kita berangkat," kata Aluna.
Aluna menenteng tiga kotak bekal. Memasukkannya satu persatu ke dalam mobil. Semua telah siap, karena surat izin mengemudi Alvin masih ditahan, Aluna lah yang mengemudikan.
"Nona, biar aku saja yang mengantar tuan muda Zero," kata Asisten Jo menawarkan diri. Dia melihat Aluna seperti kerepotan.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Luna. Aku yakin Asisten Jo dapat diandalkan," kata Alvin menambahi.
Tentu Aluna akan menolak. Kalau tidak Alvin, harus dia yang mengantar jemput Zero. Yah, walaupun terkesan memaksakan diri, Aluna merasa tak kerepotan.
"Tidak apa-apa. Kalau kamu terburu-buru, biar aku saja sendiri yang mengantarkan Zero," kata Aluna seraya menutup pintu tengah mobil.
"Tidak perlu khawatir. Istriku cukup dapat diandalkan," kata Alvin.
Tiga puluh menit kemudian, mobil hitam Aluna sudah sampai perusahaan Alvin. Tentunya sebelum ke tempat itu dia sudah mengantarkan Zero terlebih dahulu. Aluna berpesan banyak kepada penjaga sekolah, agar mereka jangan membiarkan orang asing mendekati anaknya.
__ADS_1
Baru saja Aluna sampai ke ruang kerjanya, sudah ada Helen di dalam. Dia sengaja datang lebih pagi, ingin bertanya banyak kepada Aluna, ingin menginterogasi wanita itu sebelum jam kerja dimulai.
"Selamat pagi, Helen. Apa kamu sudah sembuh?"
Aluna berjalan menuju meja kerjanya. Menaruh beberapa berkas dan kontak bekal miliknya ke dalam laci. Sebelum memulai kerja, dia melakukan gerakan ringan dengan merapihkan barang-barang yang akan dia gunakan.
"Kakak, senang bisa bekerja lagi bersamamu," jawab Helen masih berakting.
Sudut bibir Aluna terangkat sedikit. Baru saja dia menemukan kejanggalan pada kata-kata Helen. Aluna mendekati Helen, mendekati wanita itu tanpa merubah ekspresi wajahnya yang datar.
"Kamu, kenapa baru sekarang berkata senang bekerja denganku?"
Helen sedikit senang dengan balasan ucapan Aluna, dia semakin mendalami karakternya sebagai Ara. "Kakak, apa aku salah baru mengatakannya sekarang?"
"Tentu saja tidak. Kecuali kalau kamu berbohong," sahut Aluna cukup tenang.
__ADS_1
"Kakak, jangan berkata seperti itu. Aku tidak berbohong, aku senang bekerja denganmu."
Aluna menatap tajam mata Helen. Seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. "Jangan berbohong denganku. Umumnya orang yang berbohong denganku, tidak akan berakhir baik hidupnya."