
"Miss K, aku masih ada sisa tas saran. Bisakah menukarnya dengan keahlian untuk anakku?"
Aluna bertanya setelah dia menidurkan Zero. Masa kecil menurutnya sangat berharga. Karena ingatan tentang masa kecil yang bahagia akan selalu diingat sampai dewasa. Jadi, dia berniat meminta Sistem memasangkan keahlian dasar untuk Zero tanpa mempertaruhkan waktu kecilnya.
Sistem menyala, kalung yang dikenakan Aluna kembali berkedip.
[Pemasangan keahlian akan terasa menyakitkan. Apa Anda yakin, Zero akan sanggup menahannya?]
Aluna ingat dulu saat dipasangkan keahlian oleh sistem. Memang terasa sakit, seperti ditimpa beban yang sangat berat dan membuat kepalanya pusing setelah pemasangan.
"Aku akan menemaninya di samping. Aku akan menukarkan seluruh tas saranku, Miss K. Berilah dia keahlian dasar pada Zero agar mertuaku tidak mengatur waktu kecilnya."
[Sistem setuju. Hanya menerapkan keahlian dasar bahasa Inggris dan kemampuan bermain alat musik. segera persiapkan anak Anda, Nona Aluna.]
Segera setalah itu, Aluna beranjak mendekati Zero yang sedang tidur. Aluna memeluknya di tempat tidur, agar rasa sakit yang akan dialami Zero sedikit berkurang. Sebelumnya, Aluna terlebih dahulu menyuntikkan obat pereda sakit di tubuh Zero.
[Transfer skill dimulai.]
"Jangan takut Zero. Kamu pasti bisa menahan sakitnya."
[O% ... 5%]
Jari-jari di tangan Zero sedikit bergerak. Tubuhnya terlihat sudah menangkap sinyal dari sistem.
[5% ... 10% ... 30%]
Tubuh Zero bergetar hebat seperti kesetrum dalam keadaan mata tertutup.
[30% ... 50% ....]
"Miss K, bisa lebih pelankan. Anakku terlihat kesakitan," kata Aluna sambil memegangi tubuh Zero. Dia yakin anaknya sedang merasakan sakit meskipun berada di alam mimpi.
[ ... 70% ... 99% ....]
Tubuh Zero mulai menegang. Urat-uratnya terlihat menyembul dan Aluna melihatnya. Beruntung tidak berlangsung lama dan akhirnya selesai dalam waktu lima menit.
__ADS_1
[100%]
[Sistem telah berhasil memasang keahlian dasar berbahasa Inggris dan bermain alat musik untuk Zero.]
Aluna akhirnya merasa lega. Dipeluknya Zero erat kemudian mengecup keningnya. "Maaf sudah mendatangkan mimpi buruk untukmu, Zero."
***
Esok harinya, seperti biasa Aluna kembali bekerja setelah sebelumnya mengantarkan Zero terlebih dahulu. Sebelum masuk ke halaman sekolah, Zero banyak bercerita kepada Aluna tentang mimpinya tadi malam. Dia bercerita sedang bertarung melawan puluhan serigala yang sangat buas di sebuah hutan belantara.
"Mama, ada naga yang melintas saat aku melawan puluhan serigala tadi malam. Naga itu memberikanku sebuah bola kristal dan memasukkannya ke tubuhku. Sangat sakit dan panas," kata Zero menceritakan mimpinya.
Aluna menduga mimpi yang dialami Zero berkaitan dengan pemasangan skill untuk dirinya. Dia cukup tenang, membalas cerita anaknya, "lalu bagaimana setelah bola kristal itu masuk. Apa kamu masih merasakan sakitnya?"
Zero menggeleng. Kemudian bercerita lagi, "Tidak, Mama. Setelah bola kristal masuk dan naga itu menghilang. Rasa sakit pun ikut menghilang. Tiba-tiba aku mendadak kuat dan bisa mengatur strategi melawan mereka satu persatu. Aku bisa melawan mundur puluhan serigala itu di mimpiku dengan tanganku sendiri, Mama."
Aluna mengusap lembut pucuk kepala Zero. Membalas mimpi anaknya dengan bijak. "Tentang mimpimu tadi malam, jangan terlalu dipikirkan Zero. Mimpi adalah bunga tidur. Tapi kamu bisa ambil hikmahnya dari mimpi semalam," kata Aluna sambil melihat mata Zero, "terkadang untuk mendapatkan kekuatan atau sesuatu yang kita inginkan, kita harus bersakit-sakit dahulu."
Zero tersenyum mengangguk. "Semoga hanya bunga tidur, Mama. Kemarin malam aku juga bermimpi Mama ingin pergi meninggalkan kami. Mama pergi ke bulan. Aku yakin ini hanyalah bunga tidur. Iya kan, Mama?"
"Heum. Zero, lihat teman-temanmu menunggumu di sana, sekarang sudah waktunya belajar. Masuklah," kata Aluna mengalihkan pembicaraan.
Aluna masih berdiri sebelum anaknya menghilang di balik pintu gerbang. Aluna kembali mengingat kalau dia harus cepat menyelesaikan misi sebelum semua orang tahu siapa dirinya. Akan tetapi, melihat ekspresi kebahagian Zero tadi, jelas sudah anak itu tak mau ditinggalkan.
"Aku akan menjadikanmu anak yang kuat dan pintar sebelum aku pergi Zero."
***
Di perusahaan Alvin, semua karyawan sudah duduk di belakang meja kerja masing-masing. Begitu pula Alvin yang sudah lebih dulu sampai kantor, sudah menempati ruangannya.
"Aku yakin Helen tidak akan bekerja hari ini. Kemarin dia sudah meninggalkan pekerjaan sebelum jam kerja berakhir, seenaknya saja dia pergi sesuka hati," kata pegawai Fang mengompori pegawai lainnya.
"Yah, lagian cara kerjanya juga sangat buruk beberapa Minggu ini. Kemarin saja tingkahnya sangat aneh teriak-teriak seperti orang gila saat komputernya mati."
Di saat masih pada bergosip, Helen datang. Aluna yang sedang duduk di belakang meja kerjanya langsung menatapnya serius. Tentunya sedang memperhatikan tingkah laku Helen.
__ADS_1
"Maaf aku telat hari ini," kata Helen dengan entengnya, "pegawai Suni, apa komputerku telah selesai diperbaiki?"
Pegawai Suni menjawab iya, mengatakan kalau komputernya tidak terjadi kerusakan yang fatal. Dia juga mengatakan semua dokumen yang tersimpan di dalamnya aman.
"Terima kasih pegawai Suni."
Helen mendudukkan diri, kemudian mengecek rekaman suara Ara di komputernya. Sambil sesekali melirik Aluna yang kedapatan diam-diam memperhatikannya dari tadi. "Halo, Kak. Selamat pagi," sapanya.
Aluna hanya menjawab dengan lengkungan di sudut bibirnya. Sekarang dia malah datang dan mendekati Helen. "Kalau ada yang ingin ditanyakan, kamu bisa bertanya padaku, Helen."
Kesempatan yang bagus untuk Helen. Dia pun hendak memutar rekaman video yang dibuat Ara, hendak menjebak Aluna dengan berbagai pertanyaan. Akan tetapi, setelah dia melihat lagi dokumennya, semua yang Ara rekam sudah tidak ada.
"Apa kamu menghapusnya?" tanya Helen dengan alis berkerut.
Aluna menanggapi dengan santai seakan tak tahu apa pun. "Rekaman apa yah?"
"Kamu pasti sudah melihatnya!"
Aluna tertawa dan mengejek Helen dengan kata gila. "Sekarang waktunya bekerja. Jangan mencampur adukkan dengan urusan pribadi. Kerjakan saja tugas yang lain," kata Aluna sambil menaruh setumpuk berkas yang harus Helen kerjakan, "selesaikan semuanya hari ini atau kamu dipecat!"
"Ini terlalu banyak. Apa kamu ingin aku pergi dengan cara licik seperti ini. Menaruh setumpuk tugas yang harusnya dikerjakan tiga hari, kamu malah memberikanku waktu hanya sehari?"
Aluna menatap lekat Helen. Menyorot langsung ke bola matanya. "Kamu benar Helen, kan?"
Helen langsung sadar. Dia harus berpura-pura menjadi Arabella dan tidak boleh marah kepada Aluna. Dia pun harus terus menurut agar Aluna tak curiga.
"Baiklah, Kakak. Aku akan menyelesaikannya dalam sehari."
Setelah itu, Helen sibuk dengan tugasnya. Dia sangat rajin agar Aluna tak mencurigainya. Di waktu istirahat Helen juga selalu menunjukkan kesopanan kepada Aluna, hingga membuat Aluna sedikit terkecoh dengannya. Terkadang dia menduga Ara telah kembali. Tetapi selanjutnya dia kembali sadar lagi.
"Misteri kematian Luna belum terpecahkan. Aku harus cepat menyelidikinya."
Di sela waktu sibuknya, Aluna menghubungi Noah. Dia ingat waktu dulu Alvin pernah meminta bantuannya untuk memeriksa sidik jari di pecahan beling. Kali ini dia pun ingin meminta tolong kepadanya.
"Noah aku minta bantuanmu. Bisakah kamu menolongku?" tanya Aluna di telepon.
__ADS_1
Noah di tempat lain tak menduga kalau Aluna menghubunginya. Noah pun langsung menjawab bersedia.
"Tolong selidiki sidik jari di pisau yang aku kirimkan ke laboratoriummu. Aku sudah menyuruh seorang kurir untuk mengantarkannya," kata Aluna di telepon.