
Aluna masih tiduran sembari melihat isi handphone milik Luna. Dari ponselnya itu, Aluna bisa menilai kalau Luna sangat mencintai Alvin, melihat dari banyaknya foto Alvin yang memenuhi seluruh galeri.
Kenapa dia sangat manis sekali? Gumam Aluna melihat seksama foto Alvin yang sedang menyunggingkan bibirnya.
Sebenarnya aku tak bisa membohongi diri sendiri kalau Alvin memang tampan. Tetapi, entahlah aku bahkan belum bisa mengartikan perasaanku kepadanya.
Kenapa tidak ada foto mereka berdua selain foto pernikahannya?
Aluna melihat lagi buku harian Luna, lalu membacanya ulang. Dari tulisannya, Aluna bisa memastikan kalau perasaan Luna sangat tersiksa dengan sikap Alvin yang sangat dingin kepadanya.
Aku tidak menyangka kalau cintaku bertepuk sebelah tangan. Di malam pernikahanku, Alvin tidak ingin menyentuhku malah lebih memilih bersama wanita lain. Sakit, sudah pasti! Tetapi, aku masih berusaha dan terus berdoa, suatu saat nanti Alvin akan berubah mencintaiku.
Tulisan itu dibaca Aluna berulang-ulang. Kesimpulannya, di sini hanya Luna yang tergila-gila kepada Alvin.
Jadi sebelumnya dia tidak mencintai Luna? Lalu kenapa tadi dia senang menggodaku? Apa mungkin ... ah tidak Aluna! Jangan terlalu terbawa perasaan dengan Alvin.
Pikirannya terus berkecamuk mengenai Alvin, Aluna mengingat lagi saat Alvin menci*umnya tadi. Sangat manis, rasa itu masih melekat di bibirnya. Bahkan bau parfum Alvin masih tertinggal di bajunya, tak bisa dipungkiri Aluna sangat terbuai oleh wangi tubuhnya yang maskulin.
Terima karmamu Alvin karena sudah menyia-nyiakan Luna. Wanita selembut dia tak boleh kamu sakiti terus-menerus.
Seusai melihat foto Alvin, Aluna melihat lagi beberapa foto Helen di media sosial Luna. Melihat itu, timbul kepercayaan dirinya agar menyelesaikan misi hari esok. Aluna tidak sabar menunggu dua jam lagi.
Apa mungkin wanita di malam pertama Luna adalah Helen? kalau iya aku harus memberi pelajaran kepada wanita itu! Batin Aluna.
***
Di Kamar Alvin.
"Tuan ini adalah sabun yang sangat lembut. Tidak menimbulkan iritasi dan baunya tidak terlalu menyengat." Asisten Jo menaruh botol berisi sabun cair pesanan Alvin di mejanya.
"Taruh saja di situ," ketus Alvin.
__ADS_1
Lelaki itu dari tadi memijat keningnya yang terasa sedikit migren. Alvin terlihat sangat frustrasi dipegangnya erat botol itu lalu dia masukkan kedalam saku bajunya.
"Aku punya cara lain, Tuan. Agar Anda tidak pusing lagi." Asisten Jo memberikan solusi. Dia tahu sedikit banyak tentang tuan mudanya.
Alvin menegakkan punggungnya. "Cara apa yang kamu maksud?"
Asisten Jo terdiam sesaat, dia tak yakin tuan mudanya menerima sarannya. "Aku ... punya kenalan wanita--"
"Cukup!" seru Alvin, belum selesai asisten Jo berkata, sudah dipotong duluan oleh Alvin.
"Maafkan aku, Tuan! Aku hanya memberi saran," kata asisten Jo terus menunduk.
Alvin tahu apa yang asistennya maksud. Tentu saja seperti apa pun keadaannya sekarang, dia tak mau melakukan itu. Jangankan meni*durinya, menyentuhnya pun Alvin merasa jijik, karena bisanya wanita murahan dimatanya sangat kotor karena terlalu banyak bekas sentuhan lelaki lain.
"Sekali lagi kamu memberikan saran itu, maka aku tak segan-segan mengurus gaji terakhirmu saat itu juga. Sekarang pergilah!" seru Alvin.
"Maafkan aku, Tuan!"
***
"Selamat malam Helen, sudah lama kita tidak bertemu," ucap Lily sembari mencium pipi Helen bergantian.
"Duduklah, dari tadi aku sudah menunggumu," balas Helen. Ia lalu melambaikan tangan ke arah pelayan agar membawakan anggur yang lebih untuk Lily, sahabat karibnya itu.
Sekarang mereka duduk berhadapan di meja bar yang berbentuk bulat itu. Penampilan Lily tidak jauh dari Helen, sangat seksi dan cantik memakai dress di atas lutut menunjukan pahanya yang sangat putih mulus.
"Ada kabar apa hari ini?" tanya Helen sambil menyesap segelas wine.
"Benar katamu, Helen. Luna sudah berubah, malam ini dia bahkan dengan berani membungkam mulut kami! Aku sangat yakin kalau sebelumnya Luna berpura-pura polos tidak tahu apa-apa. Bahkan Aslinya lebih seram dari seekor singa yang sedang lapar." Lily menjelaskan tentang perubahan sikap Luna kepada Helen.
Helen terkekeh, ternyata bukan hanya dia saja yang berpikiran seperti itu. "Aku juga tak menyangka dia sepintar itu, padahal selangkah lagi akau akan mendapatkan semuanya," ucapnya. Terlihat raut kekesalan di wajah Helen.
__ADS_1
Apa mungkin akibat kecelakaan itu, mempengaruhi kepribadian Luna. Yang aku tahu wanita itu dari dulu sangat pendiam dan lugu. Tidak mungkin Aluna berubah secepat itu, pasti ada sesuatu yang mempengaruhinya, batin Helen terus merenung.
"Helen! Kenapa kamu malah melamun?" Tangan Lily melambai di depan wajah Helen.
"Tentu saja aku sedang memikirkan perubahan Luna. Sekarang aku sudah mempunyai siasat baru malam ini. Apa kamu sudah mengundang Luna? Kenapa sampai sekarang tidak kelihatan batang hidungnya?" tanya Helen.
"Kami sudah mengundangnya. Tetapi Alvin melarang kami membawa Luna. Alasannya mereka sedang menjalankan program kehamilan," kata Yuze memotong pembicaraan mereka berdua. Setelah kakinya sampai di meja mereka, Yuze lalu mendudukkan pantatnya di kursi.
Helen mendengar itu begitu terkejut. "Apa? Mereka ingin melakukan program kehamilan? Apa kamu yakin Alvin sendiri yang mengatakannya? Setahu aku Alvin sangat jijik menyentuh Aluna, apalagi sampai menid*urinya," ucapnya masih tidak yakin.
Yuze mengambil gelas kosong lalu mengisinya dengan cairan beralkohol itu, diteguknya satu gelas kecil itu ke mulutnya. "Bahkan Alvin sudah sangat berubah, semua orang di rumah itu sudah berubah, mereka sekarang malah berbalik mendukung Luna. Kita harus memiliki rencana agar wanita itu tak melahirkan anak dari Alvin," ucapnya.
"Kalau begitu kita harus segera menghentikannya sebelum semua itu terjadi. Aku punya ide agar Luna melahirkan anak bukan dari Alvin, kita harus menjebak Luna agar bisa melahirkan anak dari lelaki lain," ucap Helen tersenyum licik. Sudah ada gambaran dibenaknya bagaimana dia akan menjebak Luna malam ini.
Mendengar ide brilian dari Helen, kedua bersaudara itu langsung menyetujuinya. Mereka yakin rencana Helen kali ini akan berhasil.
"Kami setuju. Aku akan mengikuti caramu kali ini. Apa ide yang akan kamu rancang Helen?" Lily begitu sangat penasaran.
"Dekatkan telingamu," ucap Helen, setelah Lily mendekatkan telinganya ke mulut Helen, wanita itu segera berbisik pelan.
***
Triiiiingggg!
Alarm dari handphone Aluna berbunyi sangat kencang, membuatnya yang barusan tidur dua jam yang lalu kembali terbangun.
"Sudah jam dua belas malam!" seru Aluna.
Wanita yang masih belum membuka mata sepenuhnya itu langsung menepuk kalung sistem.
"Miss K, katakan padaku apa misi hari ini?" tanya Aluna kepada sistem.
__ADS_1
Kalung sistem berkedip.
...[Misi hari ini adalah, Anda harus berpura-pura kena jebakan. Anda juga harus mengganti cerita yang seharusnya menyedihkan karena terkena jebakan menjadi cerita yang sweet.]...