TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Mendatangi Bar Lagi


__ADS_3

"Nenek!" Lily dan Yuze berbicara berbarengan karena tercengang dengan ucapan Nenek Alma.


"Tolong pikirkan lagi, kami hanya ingin bersaksi yang sebenarnya. Tolong jangan cabut uang saku kami, Nek." ucap Lily memohon.


Lily dan Yuze saling melihat dengan hati khawatir. Jelas mereka tidak mau kalau sampai tak mendapat uang saku bulanan. Walaupun jumlahnya tidak ada artinya dari sebagian harta Alvin, uang saku itu sangat berarti, karena jumlahnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan tersier mereka.


Gawat! Kalau aku tak mendapat uang saku, darimana lagi aku akan mendapatkan uang untuk bersenang-senang? Aku tak bisa mengandalkan perusahaan ayah yang hampir bangkrut, batin Yuze ketakutan.


Nenek Alma hanya menggeleng pelan, tak menggubris. Wanita tua itu kembali meneruskan langkahnya menaiki tangga. Ia merasa di wajah kedua cucunya itu tak menunjukan rasa penyesalan sama sekali karena sudah memfitnah Luna.


Karena tak ada sahutan, secara bersamaan Lily dan Yuze langsung berdiri, hendak mendekati neneknya. "Nenek, aku ..."


"Berhenti!" Ucapan Lily langsung dipotong Nenek Alma. Sebelum kedua cucunya berjalan, ia kembali berkata, "aku sedang tidak ingin diganggu. Sebaiknya kalian pulang saja!" Wanita itu kembali berjalan tanpa menoleh.


"Ta-pi Nek!"


"Sebaiknya kalian pulang. Apa kalian tidak dengar nenek bilang ingin beristirahat!" Sindir Aluna, dari tadi ia sengaja mengawasi perilaku mereka berdua yang terlihat bodoh sambil duduk santai di sofa menikmati secangkir teh. Walaupun pikirannya sedang kacau, Aluna masih bersikap seolah tenang di hadapan musuhnya.


"Jadi kamu merasa menjadi menantu emas di sini?" teriak Lily.


"Tentu saja, apa kalian iri denganku?" Aluna terus memanasi, ia sangat senang dengan keputusan Nenek Alma.


Lily yang tidak terima ingin sekali membalas ucapan Aluna. Namun, karena Yuze menahan dan memberi isyarat agar tak membalas, akhirnya mereka memutuskan pulang dengan wajah masam.


Kita balas nanti Li! Aku juga muak karena nenek selalu membela Alvin dan Luna, batin Yuze menarik adiknya agar keluar.


***

__ADS_1


Di Bar Casablanka.


"Aku menyesal telah menaruh saham di bar ini!" Pekik Alvin marah. "Bisa-bisanya kalian memberikanku pecahan botol yang salah!"


Brak! Alvin menggebrak meja.


Melihat kemarahan Alvin, manager bar ketakutan. Dia tidak mau Alvin memutuskan kerjasamanya yang sudah terjalin beberapa bulan belakangan, perusahan Alvin sangat berpengaruh untuk kemajuan Bar. Lelaki yang berdiri di depan Alvin itu nampak terlihat meminta belas kasihan kepadanya. "Maafkan kami, Tuan! Aku akan menyuruh anak buahku agar mencari pecahan botol kemarin malam secepatnya," ujarnya memohon.


Ekspresi wajah Alvin terlihat sangat marah, kesal, geram campur aduk menjadi satu. Dia tak henti-hentinya mengumpat dalam hati, karena tindakannya belum menghasilkan apa pun. Ya, dia secara tulus ingin membantu istrinya. Namun sayang, karena kecerobohan salah satu pelayan membuatnya kembali menunda menuntaskan kasus Aluna.


"Kalau begitu cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu hari ini," ucap Alvin menggerutu.


Setelah mengangguk manager bar langsung bergegas, menyuruh anak buahnya membantu mencari pecahan botol bersamanya.


Di dalam gudang bar, beberapa pelayan tampak sibuk mencari plastik hitam berisi pecahan botol Aluna. Tidak hanya petugas kebersihan, karena takut manager bar sampai ikut mencarinya.


"Sepertinya di sini, Tuan. Tapi aku masih ...." Petugas kebersihan terlihat berpikir dan memotong kata-katanya. Dia yang baru beberapa hari bekerja itu tampak berpikir keras, mencoba memutar kembali memori kejadian semalam di otaknya. "Aku menumpuk semuanya di sini. Aku ingat betul ada tiga kantong plastik hitam berisi pecahan botol yang aku tumpuk di pojok itu." Tunjuknya ke arah pojok ruangan.


"Kenapa tidak ada di sini? Apa kamu sudah membuangnya di bak sampah tadi pagi?" tanya pemilik bar lagi.


Petugas kebersihan berpikir keras sekali lagi, dia tak yakin sudah membuang semua sampah tadi pagi atau tidak. Tetapi, kalau tak membuangnya kenapa sudah tak terlihat tiga plastik itu? Pikirannya masih berkecamuk.


"Kita harus mendapatkannya sekarang! Kalau tidak, Tuan Alvin akan memutuskan kerja sama dengan kita. Itu akan berdampak pada kemajuan bar, selain itu kalau kamu tidak mendapatkannya sekarang. Aku akan memecatmu hari ini juga!" Tegas manager bar.


"Tunggu, sepertinya aku menaruhnya di luar! Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya." sahut petugas kebersihan lalu pergi meninggalkan atasannya.


Merasa ketakutan karena akan diberhentikan, petugas bar akhirnya mencari sendiri ke belakang gudang. Dia tidak mau kalau hari ini adalah hari terakhirnya bekerja.

__ADS_1


"Ini pecahan botolnya, Tuan!" seru petugas kebersihan.


Lewat lima menit, akhirnya petugas kebersihan kembali menemui manager dengan membawa kantong plastik hitam di tangannya.


"Apa kamu yakin ini botol yang dipecahkan kedua wanita kemarin malam?" tanya manager bar memastikan.


"Benar, Tuan." sahut petugas kebersihan tak berani melihat wajah atasannya, kemudian dia menyerahkan kantong plastik itu seraya tersenyum dengan bibir rapat kepada atasannya. Dia tak tahu kalau pecahan botol itu akan dibawa ke laboratorium untuk mencari sidik jari yang menempel.


***


Di Rumah Hideon.


Sesampainya di rumah, Mona berdiskusi berdua dengan Helen di ruang depan. Dia ingin menanyakan langsung apa benar Luna yang menggores tangannya, karena sampai sekarang Mona masih belum mendengar kebenarannya langsung dari mulut anaknya itu.


Sembari duduk santai, Helen menceritakan semuanya dari awal sampai akhir kepada Mona. Tentunya kali ini dia berkata jujur.


"Jadi kamu sendiri yang melukainya?" tanya Mona kaget. Semula dia menyangka Luna lah yang melukai, karena menurutnya tidak mungkin Helen akan tega melukai tangannya sendiri. Tetapi, dugaannya ternyata salah. Setelah mendengar langsung, Mona tetap tidak berubah dan akan terus membela anaknya.


"Apa kamu yakin Luna akan mendapatkan buktinya?" tanya Mona kepada Helen. "Apa kamu yakin tidak meninggalkan jejak apa pun di bar itu?" tambahnya memastikan. Mona sangat takut kalau anaknya akan kalah lagi dari Aluna.


Semula Helen yang tadinya percaya diri karena Aluna tidak akan mendapatkan bukti, mendengar pertanyaan ibunya barusan membuatnya kembali berpikir.


Ah' apa dia akan mencari ....


Bodoh! Apa jangan-jangan dia akan mencari sidik jari di pecahan botol itu? Kalau begitu, aku harus cepat mencarinya agar tak keduluan Luna atau Alvin.


Helen terus membatin, pikirannya berkecamuk. Banyak kemungkinan muncul di otaknya. Dia baru sadar Alvin sempat bertanya apa benar dia tak memegang botol dan dia menjawab tidak. Seketika itu juga Helen dibuat syok, dia langsung berdiri.

__ADS_1


"Mommy, sepertinya aku harus pergi ke bar lagi sekarang!" serunya sembari berjalan keluar meninggalkan Mona yang terbengong.


__ADS_2