TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
219


__ADS_3

"Bolehkah aku bermain dengan kalian?" Kata-kata itu dilontarkan begitu saja dari mulut Zero.


Semua anak melihat ke arah Zero, menatapnya dari ujung kaki sampai kepala. Mereka tampak asing melihat Zero, baru kali ini ada seorang anak lelaki di rumah Miwa.


"Darimana asalmu? Sepertinya kau bukan anak sini?" tanya salah satu dari mereka.


"Aku ... aku ...." Zero kebingungan menjawab pertanyaan anak-anak itu. Dia sendiri tak tahu asalnya dari mana, yang dia tahu, dia sering berpindah-pindah tempat untuk bertahan hidup.


"Dasar anak aneh! Jangan pedulikan dia, ayo kita bermain lagi," kata salah satu anak kepada anak lainnya.


Semua anak kembali bermain bola, menghiraukan Zero yang menatap sedih ke arah mereka. Sudah lama dia tak bermain dengan teman sebaya. Melihat anak-anak sebayanya bermain terlihat sangat menyenangkan, Zero ingin sekali ikut. Namun apa daya, dia tak diperbolehkan hanya bisa melihat sambil memperhatikan gerakan menendang mereka satu persatu.


"Aku bahkan bisa menendang bola itu sampai ke gawang dari sini," gumam Zero.


Mereka asik menendang dan mengoper bola dengan kakinya. Karena saking semangatnya salah satu dari mereka menendang bola terlalu jauh sampai masuk ke halaman rumah salah satu warga. Rumah itu lebih besar dan megah dari rumah lainnya. Karena ada anjing peliharaan yang terkenal galak, mereka semua ketakutan mengambil bola itu ke dalam.


"Kau ambil cepat. Kalau sampai ibuku tahu aku menghilangkan bola lagi, habislah aku nanti pas pulang," kata anak lelaki berbadan tambun kepada anak yang menendang bola tadi.


"A-aku takut, Jack. Di sana ada anjing yang sangat galak," jawab si penendang ketakutan.


"Lalu bagaimana dengan bolaku? Aku tidak mau tahu kau harus mengambilnya sekarang!" bentak anak lelaki berbadan tambun sambil menarik baju si anak tersebut.


Dia ketakutan dan memundurkan langkahnya. Tidak ada yang berani masuk ke rumah itu. Jangankan untuk mengambil bola, baru menengok halamannya saja anjing rumah itu sudah menggonggong hendak menggigit mereka.


"Aku bisa mengambil bola itu. Asalkan ...," ucap Zero mendekati mereka.


Semua mata melihat ke arah Zero. Anak lelaki tambun sempat meremehkan Zero, tubuh mereka yang sehat dan berisi saja tak berani masuk, apalagi dengan tubuh kurus seperti Zero, pikirnya.


"Ha, ha, asalkan apa? Apa kau berani menghadapi anjing galak itu? Lihat satu gigitannya saja sudah bisa merobek kulitmu sampai lepas." Tunjuk anak lelaki tambun kearah anjing hitam tinggi.


"Ha, ha, ha ...." Tawa nyaring diselingi teman-temannya.


"Baiklah, tantanganmu aku terima! Kalau kau berani dan berhasil mengambil bola punyaku di dalam sana. Kami akan mengajakmu bermain," imbuhnya lagi sambil mendorong tubuh Zero.

__ADS_1


Zero tersenyum dan bangkit. Dia melirik ke arah anjing. Memang besar dan menakutkan, tapi Zero langsung menepis pikiran itu. Menurut Zero, lebih menakutkan ketika dirinya dijual dibanding menghadapi anjing itu.


"Baik, aku Terima. Aku akan masuk ke dalam dan mengambil bola itu asalkan aku boleh bermain bersama kalian."


Zero mulai melangkah, menjadi tontonan anak-anak itu. Mereka yakin Zero tak akan berhasil, karena anjing itu terkenal galak dan suka menggigit. Zero menaiki tembok yang bertekstur kasar itu dengan kekuatan tangan dan kakinya. Walaupun tubuhnya sangat kurus, dia sudah terbiasa bekerja berat sehingga ketahanan otot tangannya sangat kuat.


"Kita saksikan anak itu, sebentar lagi pasti akan menangis dan menjerit karena kesakitan, ha, ha ...." Mereka kembali tertawa meragukan Zero.


Ke semua anak itu tertawa terbahak, mereka menonton dari luar. Sementara Zero kini telah berhasil menaiki tangga tersebut. Zero sudah punya strategi khusus, terlebih dulu dia telah mengumpulkan banyak kerikil untuk dirinya lempar ke arah jauh agar perhatian anjing tidak fokus melihatnya.


Sebelum anjing menyadari kehadirannya, Zero langsung melempar kerikil itu sangat jauh. Tak! Bunyinya sangat keras karena terjatuh mengenai seng, atap sebuah kandang. Zero tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia segera turun, dan berlari sangat kencang menuju bola berwarna merah itu.


"Hosh, hosh ...." Napas Zero mulai menggebu karena tak sempat mengambil napas dalam-dalam sebelum berlari.


Bola merah kini sudah berhasil diraih Zero, dia langsung mendekap dan kembali berlari ke arah gerbang tempat tadi dia naik. Zero tak melihat ke belakang, dia tak tahu kalau anjing itu sudah berlari ke arahnya.


Untungnya insting Zero sangat tajam. Sebelum anjing itu menerkamnya, dia sudah menengok lebih dulu. Anjing itu bertaring runcing, satu gigitan saja bisa merobek kulitnya sampai lepas. Tak kehabisan akal, Zero langsung membuka kaos yang dipakainya. Menaruh bola itu ke tanah, lalu mengambil sebuah kayu panjang untuk menghalau anjing itu.


"Guk, guk, guk."


"Aaarghhh!" teriak Zero.


Secepat kilat, dia mengikat mulut anjing langsung ke tengah giginya dengan kaos yang barusan dia lepas. Kemudian Zero menarik ikatan itu dengan kencang. "Menyerahlah kau! Aku bukan penjahat! Aku hanya ingin mengambil bola itu!" teriak Zero kencang.


Rupanya, adegan Zero saat melawan seekor anjing disaksikan seorang putri pemilik rumah itu. Wajahnya sangat cantik dan berusia sebaya dengan Zero. Gadis kecil itu tersenyum tak berhentinya, berdecak kagum melihat Zero. Didampingi asisten pribadinya. Dia berjalan mendekati Zero sambil bertepuk tangan.


"Kau sangat hebat!" teriak anak perempuan itu.


Zero langsung menoleh, melihat gadis dengan baju dan badan yang berisi, menurut Zero dipastikan kalau dia adalah anak pemilik rumah itu.


"Maaf, aku tak bermaksud menyakiti anjingmu, hanya saja tadi dia berusaha menggigitku. Maaf, aku juga sudah lancang masuk ke dalam halaman rumahmu, aku hanya ingin mengambil bola temanku," kata Zero sambil menunduk.


Anjing langsung Zero lepaskan, kini dia tak menyerang lagi. Karena Sindi, nama gadis kecil itu, menyuruhnya agar pergi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku sudah melihatnya tadi. Maaf anjingku yang bersalah," kata Sindi sambil tersenyum. Baru kali ini ada anak lelaki yang berani memasuki rumahnya. "Sepertinya aku belum pernah melihatmu. Perkenalkan namaku Sindi. Siapa namamu?" Sindi menyodorkan tangan ke arah Zero.


Zero menatap tidak suka. Bukannya menerima ukuran tangan itu, dia malah menepisnya. "Jadi kau melihatku dari tadi? Kenapa kau tak menolongku? Bagaimana kalau aku mati digigit oleh anjingmu tadi? Permisi, maaf aku sudah memasuki halaman rumahmu," ucap Zero dengan air wajah dingin.


"Bu-bukan begitu, tadi aku sebenarnya ingin menolongmu. Sayangnya kamu lebih dulu mengalahkannya," sahut Sindi beralasan.


Tetap saja Zero tak peduli. Dia tak suka dengan orang yang tak memiliki rasa empati terhadap sesama. Saat itu juga dia berlari dan menaiki kembali tembok itu. Tak menoleh sedikit pun ke belakang, dia menghiraukan Sindi yang merasa bersalah.


Di luar, semua anak lelaki terbengong ketika melihat Zero tak terluka sedikit pun. Mereka tak menyangka kalau Zero bisa kembali membawa bola itu secara utuh.


"Aku sudah mengambil bola ini. Jadi bolehkah aku bermain dengan kalian?" tanya Zero.


Semua anak lelaki tersenyum, mereka mengangguk. Mereka akhirnya mengakui kehebatan Zero dan membolehkannya ikut bermain.


Permainan bola berlangsung. Sebelum bermain, Zero sempat melihat satu persatu kelemahan lawannya. Zero sangat cepat belajar, terbukti belum ada satu jam dia mampu memenangkan pertandingan dengan membobol gawang berulang kali.


"Zero .... kau sangat hebat!" teriak mereka sambil menggotong tubuh Zero.


"Ha, ha, ha!" Zero tertawa lepas, hilang semua masalah apa pun yang ada di otaknya. Baginya hanya ingin bermain dan bermain sampai dia bisa tertawa terbahak seperti sekarang.


Kejadian itu disaksikan Sindi dari jauh. Untuk pertama kalinya Sindi keluar bersama asistennya untuk meyaksikan permainan bola Zero.


"Jadi namanya Zero," gumam gadis kecil itu sambil tersenyum.


...###...


Maaf ya para pembaca tersayang. Mungkin alurnya menurut kalian lambat. Tapi percayalah, author sudah berusaha sebisa mungkin terus update mengikuti kerangka agar tak keluar dari alur.


Semua akan indah pada waktunya, pertemuan Zero dengan orang tuanya sudah ada di bagian kerangka dan sudah ada di bab yang sudah ditentukan.


Semoga author bisa menyelesaikan misi kepenulisan ini, dan bisa menyelesaikan cerita ini agar tak putus di tengah jalan.


Terimakasih sudah membaca cerita ini, salam sayang dariku.

__ADS_1


_Afsheen_


__ADS_2