
"Presdir Alvin, ini berkas laporan yang Anda pinta." Sam, sekretaris baru itu menghampiri mereka berdua. Kedatangan Sam membuat Aluna menghentikan kemesraan mereka.
Aluna melirik sekilas berkas laporan itu. Ketika membaca judul laporannya, Aluna baru sadar kalau itu adalah laporan yang diminta Alvin untuk dia buat.
Alvin meraih kertas itu, dia membaca satu persatu laporan. Alvin sangat suka cara kerja sekretaris barunya yang cepat. Dia pun memuji Sam di depan istrinya. "Saya suka cara kerja Anda yang cepat dan tepat. Laporan yang Anda buat sangat sesuai dengan yang saya harapkan. Anda sangat cocok menjadi sekretaris. Selamat bergabung di perusahan kami. Tugasmu di sini adalah sebagai sekretarisku. Besok Anda bisa bekerja setengah jam sebelum jam kerja dimulai. Dan jangan lupa, baca file aturan pekerjaan di email yang staf personalia kirim. Saya tidak suka dengan pegawai yang datang terlambat."
"Terima kasih Presdir Alvin. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda." Tak berbasa-basi lagi, sekretaris Sam langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Pujian yang dilontarkan Alvin kepada sekretaris Sam di depan Aluna, sengaja dia lakukan. Alvin sengaja menyindir Aluna, agar wanita itu tahu bagaimana menjadi seorang sekretaris. "Lihat hasil laporannya sangat sempurna. Aku yakin dia akan bisa diandalkan dibandingkan sekretaris Fang."
Mereka berdua berjalan bersebelahan memasuki ruang kantor. Ketika Alvin memamerkan hasil laporan pegawai barunya, Aluna tampak tak senang. Dia hanya melirik sekilas dan berkata dengan percaya diri, "Aku juga bisa melakukannya. Hanya saja ... aku belum bisa melakukannya sekarang."
Lihat saja kalau kemampuanku sudah pulih. Jangankan satu laporan, sepuluh laporan pun aku siap mengerjakannya, batin Aluna sambil mendengus kesal.
Alvin tak membalas ucapan Aluna. Dia hanya membalas tersenyum-senyum, melirik sekilas Aluna, sambil berjalan ke tempat duduknya. "Ya ... ya ... ya ...," ucap Alvin.
Senyuman Alvin membuat Aluna tersindir, untuk kesekian kalinya Aluna menunjukkan wajah cemberutnya. Dan itu berhasil membuat Alvin begitu gemas saat melihatnya.
Kenapa kamu imut sekali setiap marah, batin Alvin.
"Luna," panggil Alvin. Dia mendekati Aluna lagi. "Aku tahu kamu ingin menjadi asistenku karena takut Helen bekerja lagi, bukan? Tenanglah, wanitaku yang cantik. Aku tidak akan memperkerjakan Helen lagi." Alvin mencubit hidung Aluna, karena dia saking gemasnya dengan wajah Aluna ketika sedang cemberut.
"Argh!" teriak Aluna kaget. Dia merasa tenang dengan perkataan Alvin. Namun, bukan itu yang Aluna inginkan.
Aluna teringat sistem yang menyuruh agar dia memaksa Alvin. Di saat mereka saling berhadapan, muncullah ide di otak Aluna.
Baiklah! Siap tidak siap aku harus memaksamu sekarang! Batin Aluna.
"Bukan itu yang aku inginkan, suamiku. Kamu ingin aku segera menunjukan kemampuanku, bukan?" Sambil menggigit bibir bawahnya, Aluna memandang buas Alvin.
Alvin mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, ci um Aku sekarang!" seru Aluna.
"Apa!?" Kening Alvin mengernyit.
Dengan gerakan cepat, Aluna mendudukkan Alvin di meja. Secepat kilat Aluna menarik tengkuk Alvin. Di detik itu pula, Aluna langsung menyambar bi bir Alvin, dia langsung meyesapnya dengan cepat.
"Cup." Satu ciu man berhasil di dapatkan Aluna. Sementara, dia harus menyelesaikan tujuh ciu man lagi agar bisa mendapatkan tas saran.
"Ini baru satu!"
"Mmuach."
Untuk kedua kalinya Aluna menci um Alvin lagi.
"Lun--" Belum selesai berucap, bi bir Alvin kembali dibungkam.
"Emmmm"
Awalnya Alvin masih tenang. Ciu man pertama, kedua, sampai ke empat dia diam saja. Dia membiarkan Aluna menguasai dirinya. Namun, ketika Aluna menci umnya lagi dan lagi, Alvin merasa tidak bisa bernapas. Di saat Aluna akan mendaratkan ciu man yang kelima, Alvin merasa tidak suka, dia merasa kelakuan Aluna semakin aneh.
"Tidak bisa aku harus melakukannya sekarang! ... cup!"
Namun, Aluna terus memaksanya. Bahkan mengunci tubuh Alvin agar lelaki itu tidak pergi. "Bisakah kamu diam! Aku belum selesai." Aluna kembali menci um Alvin lagi dan lagi. "Eum ..."
Aluna berhasil mencium tujuh kali Alvin dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Meskipun terlihat konyol, Aluna sedikit bernap su ketika melihat bibir sensual Alvin. Meskipun sedikit memberontak Alvin akhirnya membiarkan bi birnya dilu mat habis.
"Cukup, Luna. Ritual apa ini!" Meskipun suka, Alvin merasa kelakuan Aluna terlalu konyol dan berlebihan, bahkan tangannya sampai Aluna kunci ke belakang punggungnya.
"Satu kali lagi!" Aluna terus mendesak Alvin.
"Tidak, tidak!"
__ADS_1
Di saat Aluna akan mendaratkan ci uman yang terakhir, lelaki itu memberontak. Tangannya yang berhasil dia lepas dari jeratan Aluna tak sengaja mendorong tubuhnya, membuat wanita yang bersikukuh ingin menci umnya lagi itu, hampir terjengkang ke belakang. Secepat kilat, Alvin langsung menangkap punggung Aluna.
"Ahh ...."
Brugh!
Mereka berdua terjatuh di lantai, dengan posisi menumpuk jadi satu, tubuh Alvin berada tepat di atas Aluna. Akibatnya, tak sengaja bi bir mereka saling bersentuhan kembali.
Entah mengapa, getaran kali ini dirasa berbeda oleh Alvin. Dia merasa ada sesuatu yang lain sedang dalam mode aktif.
"Apa kamu baik-baik saja, Luna?" bisik Alvin pelan.
" .... " Aluna hanya diam saja sambil terus melihat mata Alvin. Kali ini jantungnya mendadak berdebar lebih kencang dari biasanya.
Kenapa harus begini adegannya, batin Aluna. Dia merasa tak nyaman dengan posisinya yang sedang ada di bawah.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Aku bisa melakukannya di sini, bahkan lebih dari sekedar ciu man." Lewat sepersekian detik, Alvin menautkan bi birnya, menye sapnya dengan penuh kelembutan pada Aluna. Alvin melakukan adegan itu cukup pelan dan lama, membuat mereka berdua terhanyut bersamaan. Bahkan parahnya, Alvin menginginkannya lebih dari sekedar ci uman.
"Kamu tak mahir melakukannya, Luna," bisik Alvin.
"Al--"
Tok ... tok ... tok
Sayangnya, sebelum mereka lupa diri, seorang pegawai sudah berdiri di depan pintu ruangan Alvin.
Tok ... tok ... tok ...
"Sial!" gerutu Alvin.
Suara ketukan pintu kembali terdengar, membuat mereka terkesiap. Alvin langsung berdiri begitupula Aluna. Ada rasa sedikit kecewa yang menghinggapi hati Alvin, dia lupa kalau pintu ruangan mereka belum tertutup sempurna.
__ADS_1
Di saat bersamaan, sistem bersuara memberitahukan notifikasi.
...[Selamat Nona Aluna, Anda berhasil mendapatkan tiga tas saran dan bisa menukarnya dengan keahlian secepatnya.]...