
"Tolong, kebakaran," teriak Zero keras.
Rumah Miwa sangat jauh dari tetangga. Petang itu anak-anak sudah kembali ke rumah masing-masing. Zero terus berteriak tetapi tak didengar siapa pun. Zero mencoba menyelamatkan diri dengan berlari ke luar rumah lewat jendela atau pun pintu.
Sayangnya karena rumah itu cukup tua, dan api sudah menyebar ke seluruh ruangan membuat Zero tak bisa keluar dan terperangkap di dalam seorang diri.
"To ... uhuk, huk!" Asap dari api itu membuat Zero kesulitan bernapas. Bahkan pandangan matanya sudah mulai kabur. Zero hanya bisa melihat api yang semakin membesar dan membuat tubuhnya kepanasan seperti di panggang.
***
Sore itu, Sindi menceritakan semua yang dialaminya kepada ibunya. Sindi banyak menceritakan tentang Zero, anak baru di desa itu. Sindi mengatakan dia ingin terus meminta maaf, sampai Zero memaafkannya. Kalau tidak dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.
"Ibu, aku ingin membawa makanan ini ke rumah Bibi Miwa. Aku ingin mengirim makanan ini sebagai permintaan maaf kepada Zero. Kemarin aku melihat Zero hanya memakan semangkuk mi instan. Bolehkah aku membaginya, Ibu?" tanya Sindi.
Ibu Sindi tersenyum dan mengangguk. Tak biasanya putrinya itu ingin memberikan makanan secara langsung kepada orang lain.
"Sindi, apa kau yakin ingin mengantarnya sendiri? Kalau mau, kamu bisa menyuruh pelayan untuk mengantarnya. Sekarang sudah petang dan sebentar lagi berganti malam," kata Ibu Sindi.
"Tidak, Ibu. Aku hanya ke rumah Bibi Miwa. Setelah ini aku akan pulang setelah menaruh makanan ini. Lagipula aku akan pergi bersama pelayan An," jawab Sindi. Tangannya dengan cekatan menyusun banyak makanan di wadah bekal susun empat itu. Sindi sangat bersemangat ingin mengantarkannya langsung.
"Memangnya seperti apa bocah lelaki itu sampai Sindi bersikeras ingin mengantarnya sendiri?" tanya Ibu Sindi berbisik di telinga pelayannya.
"Anak itu sangat istimewa, Nyonya. Dia sangat tampan untuk ukuran bocah seusianya. Ditambah lagi, bocah lelaki itu sangat pemberani. Nona Sindi sangat menyesal karena tak segera menolong waktu Dogi ingin menggigitnya," kata Pelayan.
"Apa Sindi menyukainya?" tanya wanita itu kembali berbisik di di telinga pelayan.
"Sepertinya Nona Sindi ingin sekali bermain dengan bocah itu. Namun sayangnya dia menolak. Masih kecil saja bocah lelaki itu terlihat sangat dingin dan arogan," kata pelayan lagi.
Ibu Sindi kembali tersenyum. Dia tak melarang Sindi bermain dengan siapa pun walaupun dengan orang miskin sekali pun. Ibu Sindi juga sangat mendukung kalau Sindi bersikeras meminta maaf dan ingin berbagi rezeki dengan orang yang tidak beruntung secara langsung.
"Baiklah, tolong temani Sindi," kata Ibu Sindi memberi pesan.
__ADS_1
Didampingi pelayan An, Sindi berjalan membawa kotak bekal menuju rumah Miwa petang itu.
Dari kejauhan sebelum sampai ke rumah Miwa, Sindi dan pelayannya dibuat tercengang oleh asap hitam tebal yang keluar dari rumah Miwa. Tak berpikir lama, Sindi langsung berlari dan berteriak mencari pertolongan.
"Kebakaran, kebakaran, tolong ... tolong, rumah Bibi Miwa kebakaran," teriak Sindi keras.
Pelayan An terus memantau Sindi agar tak masuk ke rumah Miwa sendirian karena itu sangat berbahaya. Pelayan sampai lepas kendali ketika Sindi berlari sangat kencang di depannya.
"Nona jangan maju, api semakin besar dan sangar berbahaya Nona," teriak pelayan sambil berlari menyusul Sindi, "Nona, berhenti!"
"Tidak, tolong aku agar memanggil seluruh penduduk agar keluar. Zero ada di dalam sana, dia pasti butuh pertolongan," ucap Sindi. Gadis itu terus berlari menuju rumah Miwa tak memperdulikan pelayan yang mengejar di belakang.
"Tolong, ada kebakaran," teriak pelayan mengikuti seruan majikannya.
"Nona, nona berhenti! Tolong, tolong ada kebakaran ...."
Teriakan kedua orang itu langsung didengar seluruh orang yang ada di dalam rumah. Sesepinya tempat itu, masih ada satu dua orang yang peduli dan segera keluar. Ketika mendengar ada kebakaran, Mereka refleks mengambil berbagai alat apa saja yang berguna untuk memadamkan api.
"Di sana, di rumah Miwa. Tolong Nona Sindi, gadis itu berlari menuju rumah Miwa untuk menolong anak lelaki yang ada di sana," kata Pelayan dengan napas terengah-engah karena berbicara sambil berlari. Dia terus menunjuk Sindi yang terus berlari.
Refleks semua orang membawa air dan berlari menuju rumah Miwa. Mereka ikut berteriak agar semua warga yang masih di dalam, keluar dan membantu Zero yang terjebak di rumah Miwa. Tak ada lima menit, semua penduduk keluar dan berbondong-bondong menuju rumah Miwa dengan membawa alat pemadam seadanya.
"Zero, zero ... apa kau ada di dalam?" teriak Sindi dari luar.
Api semakin membesar, Sindi tak takut sedikit pun bergerak semakin maju. Dia bingung harus lewat mana agar bisa masuk. Hawa panas sudah terasa di kulitnya, tetapi anak kecil itu terus mencoba masuk, tak memperdulikan keselamatannya.
"Nona, jangan masuk Nona," teriak pelayan masih berlari di belakang.
Api semakin membesar, hampir melahap seluruh rumah itu. Teriakan Sindi ternyata di dengan Zero dari dalam. Dalam waktu yang sesingkat mungkin, Zero langsung berpikir cepat.
Dengan sisa napas dan tenaga, Zero berlari mengambil selimut besar lalu membasahi selimut itu dengan air yang ada di dalam gentong. Beberapa percikan api yang mengenai tubuhnya tak dia pedulikan. Zero menangkis api sebisa mungkin menahan rasa panas yang sudah menjalar hampir seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Aku harus cepat keluar. Setidaknya kalau pun aku mati, tubuhku tak akan terbakar habis di rumah ini. Batin Zero.
Secepat kilat, Zero membenamkan tubuhnya di dalam selimut yang sudah dia basahi. Zero pernah membaca buku tentang teknik menyelamatkan diri saat kebakaran. Saat itu juga dia berjalan ke arah pintu lalu merebahkan diri di lantai dan langsung berguling-guling sampai keluar.
Zero tak peduli dengan rintangan apa pun, dia tak peduli dengan kayu yang mengenai selimut basahnya. Dengan berguling bisa mengantisipasi memadamkan api secara alami.
"Aarghht!" teriak Zero ketika di sampai di depan pintu. Sekuat tenaga dia mendorong pintu itu agar terbuka walaupun api sudah hampir membakar rumahnya habis.
Brak!
Zero berhasil keluar, dan kini berbaring di depan pintu dengan posisi selimut tebal membungkus tubuh kecilnya. Kepala Zero sudah terbentur papan yang jatuh akibat terbakar. Walaupun dia selamat, Zero sudah kehabisan napas dan mulai tak sadarkan diri.
"Tolong ... Zero ada di dalam selimut itu. Tolong, cepat tolong," teriak Sindi keras menyuruh orang dewasa agar menarik tubuh Zero yang ada di depan pintu, mengamankannya dari kobaran api.
"Cepat angkat, cepat! Sepertinya anak ini masih hidup," kata seseorang berlari mendekati Zero dan menggotongnya berdua.
Semua orang mulai menjauhi api, termasuk Sindi. Dia terus berlari di belakang orang yang sedang menggotong Zero.
"Dia masih hidup," kata orang itu ketika merebahkan tubuh Zero di tengah lapangan. Walaupun tubuh Zero terlihat gosong karena asap, namun bocah lelaki itu sangat beruntung karena hanya mendapatkan luka bakar ringan, itu pun tidak ada lima persen dari tubuhnya.
Zero dalam keadaan tak sadarkan diri. Sepertinya dia kehabisan oksigen karena terlalu lama di dalam.
"Dia pingsan, cepat berikan pertolongan pertama," teriak seseorang.
Pelayan tadi membantu Zero memberikan pertolongan pertama mengkompresi dada Zero, dengan menekankan ke dua jari di tengah dada. Di lakukan beberapa kali. Pelayan tadi mulai melakukan teknik yang kedua dengan membuka jalan napas Zero.
Akan tetapi dua tindakan tadi belum bisa menyadarkan Zero. Pilihan terakhirnya sebelum petugas medis datang adalah memberikan napas buatan untuk Zero.
"Tidak ada jalan lain kecuali memberikan napas buatan," kata pelayan.
"Aku bisa melakukannya," ucap Sindi cepat.
__ADS_1