
Yuze dan Lily menduga Alvin yang mudah terhasut, akan memarahi Aluna karena telah membuat kekacauan dan melakukan penganiayaan terhadap Helen. Tetapi, tidak dengan pikiran Helen. Gadis itu malah semakin cemburu, pasalnya ia tak yakin Alvin akan memarahi Aluna. Dilihat dari perhatian yang ditunjukan Alvin, menggambarkan lelaki itu pasti akan mendukung istrinya.
"Tinggalkan kami berdua." Tegas Alvin sekali lagi.
Keterlaluan kamu Alvin kalau sampai tak memberi perhitungan kepada Luna! Aku sudah berkorban melukai tanganku sendiri demi kamu!
"Sebaiknya kita keluar, Helen. Kamu harus mengobati lukamu dahulu. Lihatlah darahmu sudah mulai menetes di lantai," kata Lily, ia menarik lembut Helen agar keluar.
"Baiklah aku akan keluar," ucap Helen terpaksa. Walaupun ia bukan istrinya, wanita itu juga menginginkan perhatian dari Alvin, apalagi dulu mereka sempat dekat.
Akhirnya di menit yang sama, mereka bertiga memutuskan untuk keluar, seluruh orang yang melihat di depan pintu pun sedikit demi sedikit berlalu pergi. Sekarang tinggal Aluna, Alvin dan asisten Jo yang dari tadi ada di sebelahnya.
"Asisten Jo, cepat ambilkan kotak obat untuk mengobati luka istriku!" seru Alvin kepada asistennya.
"Baik, Tuan!" Tampa menunggu waktu lama, ia melangkahkan kakinya keluar.
Beberapa derik berlalu, sekarang pintu tertutup dengan sempurna. Meninggalkan Alvin dan Aluna yang berdiri saling berhadapan. Aluna sedang mengamati perubahan ekspresi wajah Alvin. Tentu saja, ia berharap agar Alvin lebih mempercayainya.
Lelaki itu lalu mendekatkan tubuhnya, menyentuh dengan sangat hati-hati rambut Aluna yang penuh dengan darah yang sudah hampir mengering. "Lukamu cukup parah, Luna!"
"Argh ...," desis Aluna, ia sudah mulai merasakan rasa perih akibat terkena sentuhan tangan Alvin.
Alvin menepis tangannya menjauhi rambut Aluna, timbul kembali rasa kecewa di hatinya. "Kenapa kamu datang kemari? Bukankah aku sudah melarangmu mendatangi bar, apalagi sampai memasukinya di tengah malam seperti sekarang! Kau sendiri tahu, aku sangat membenci tempat ini! Kenapa kau malah melanggarnya dan membawa senjata tajam? Apa kamu ingin menjadi seorang kriminal?" bentak Alvin marah, kali ini dia tak bisa menahan amarahnya.
Aluna sebenarnya juga malas datang ke tempat hiburan malam seperti bar. Dia sendiri memiliki kenangan buruk di dunia nyata dengan bar. Namun, Aluna tetap tidak bisa menjelaskan kepada Alvin kalau alasannya kemari adalah karena sebuah misi dari sistem. Tak mungkin ia berterus terang kepada Alvin.
"Duduklah!" Alvin menarik lembut tangan Aluna agar wanita itu duduk di sebelahnya. "Jawab pertanyaanku tadi?" tambahnya. Lelaki itu kembali merendahkan emosinya.
Tentu saja Aluna hanya diam saja. Pikirannya sekarang sedikit kacau, ditambah rasa sakit di kepalanya mulai terasa. Wanita itu menyenderkan punggungnya di sofa, membiarkan udara masuk perlahan melewati rongga hidungnya, lalu mengembuskan perlahan.
"Maaf aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu," jawab Aluna, ia memalingkan mukanya.
Alvin menggelengkan kepalanya perlahan, sudut bibirnya turun tanda kekecewaan. "Sudah aku bilang jangan memalingkan wajahmu kalau aku sedang mengajak bicara!" Alvin menarik pelan dagu Aluna.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Aluna lagi.
Haish, kenapa asisten Jo lama sekali mengambil obatnya, gerutu Alvin dalam hati.
Walaupun sedang marah dan kecewa karena tindakan Aluna yang terlalu gegabah, tetap saja dia tidak tega ketika melihat luka di kepala istrinya.
"Jangan keluar dari ruangan ini, sebelum aku kembali. Aku akan mengambil obat untuk membersihkan lukamu," ucap Alvin.
***
Sementara di lantai bawah, terlihat Helen yang sedang di obati seorang staf wanita. Helen duduk saling berhadapan dengan Lily dan Yuze.
"Kamu sangat hebat! Aku tidak percaya idemu berjalan dengan mulus. Aku tidak percaya kalau otakmu sangat licik. Bahkan aku sangat kagum, kamu rela melukai tanganmu sendiri demi bisa menjebak Luna. Aku yakin rencanamu selanjutnya akan lebih licik. Dan tentu saja aku akan mendukung semua caramu selanjutnya," ucap Lily memuji Helen.
Tidak hanya Lily, bahkan Yuze pun berebut mendukung Helen. "Benar! Aku juga akan mendukungmu. Kamu benar-benar wanita terlicik yang pernah aku temui. Walaupun rencana sebelumnya gagal. Tetapi, rencanamu yang ini aku pastikan berjalan dengan mulus. Aku yakin Alvin yang mudah terpengaruhi, akan memarahi Luna habis-habisan dan akan menceraikannya malam ini juga!" serunya tersenyum puas.
Sudut bibir Helen terangkat ke atas dengan matanya yang melengkung membentuk bulan sabit. Ya, walaupun ia tak menjawab ucapan kedua orang di depannya, dari ekspresi mukanya sudah menandakan kalau wanita itu sedang merasa senang.
Mereka tidak tahu Alvin sudah memperhatikan mereka dari atas. Melihat tidak ada rasa sedih sedikit pun di wajah Helen, lelaki itu hendak turun ke bawah ingin mendengar langsung percakapan mereka. Namun, sebelum ia sampai memencet lift menuju lantai bawah, asisten Jo keluar dari pintu lift.
Alvin menggelengkan kepala pelan. "Kalau kerjamu lamban seperti ini, bisa-bisa aku menurunkan jabatanmu sebagai sopir kembali," ketus Alvin.
"Maafkan aku, Tuan! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," sahut asisten Jo ketakutan.
Setelah mendapatkan obat, Alvin lupa rencananya ingin mendekati Helen. Pikirannya terlampau khawatir dengan Aluna. Lelaki itu malah berjalan bersama asisten Jo menuju ruangan VIP, tempat ia meninggalkan istrinya.
Sebelum sampai ruangan, Alvin bertemu dengan petugas kebersihan. Kemudian, Alvin menyuruh petugas kebersihan berseragam biru itu agar membersihkan pecahan botol, menurutnya pecahan botol yang berserakan itu akan berbahaya karena akan melukai kakinya.
Sekarang Alvin bersama asistennya memasuki ruangan itu lagi. Alvin tampak senang karena Aluna tidak bergeming dari sofa tempat duduknya.
Kamu terlihat sangat manis kalau patuh seperti itu, Luna. Gumam Alvin.
Kemudian, Alvin mendudukkan pantatnya tepat disebelah Aluna. "Perlihatkan lukamu, aku akan mengobatinya sekarang!" seru Alvin.
__ADS_1
Aluna pura-pura tak mendengar.
"Perlihatkan sekarang! Kalau tidak aku akan menciummu di depan asisten Jo," ucap Alvin.
glek.
Asisten Jo yang berdiri di sebelah Alvin, langsung membuang mukanya. Jiwa jomblonya tentu saja masih tidak terima kalau majikannya sampai berbuat mesum di depan matanya.
Aluna menoleh, ia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mendengar langsung isi hati Alvin.
"Anda boleh menyentuh kepalaku. Asal jawab dulu pertanyaanku," kata Aluna.
Mendengar itu Alvin tersenyum tipis, dia menatap tajam netra Aluna. "Apa pertanyaanmu?" tanyanya.
"Katakan padaku, siapa yang akan Anda percayai, aku atau Helen?"
"Jadi kamu ingin tahu siapa yang aku percayai?" Alvin memajukan wajahnya.
"Heum." Aluna berdehem.
"Tentu saja kamu. Karena kamu adalah istriku!" jawab Alvin begitu lembut.
"Kenapa kamu mempercayaiku?" tanya Aluna lagi, hatinya mendadak senang.
Alvin kembali menatap lekat wajah istrinya. "Karena kamu lebih bodoh dari Helen."
Apa? Aluna membulatkan matanya.
Aku baru tahu Helen sangat licik! Kamu jangan bermain-main dengannya, Luna. Batin Alvin.
###
.
__ADS_1
Terima kasih, tinggalkan like dan komentarnya ya...