TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Aluna atau Luna?


__ADS_3

"Suruh ketiga kandidat itu membuat contoh file persiapan presentase, mereka harus menyelesaikannya sebelum aku memasuki ruang konferensi." Alvin menaruh beberapa file di meja memberikannya kepada sekretaris Fang.


"Baik, Tuan."


Lelaki yang baru diturunkan jabatannya itu segera meraih dan mengambil beberapa berkas yang sudah Alvin tandatangani. Dia lalu keluar dari ruangan meninggalkan keduanya.


"Bagaimana? Apa kamu sudah setuju menjadikanku sebagai sekretarismu?" Aluna kembali melontarkan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.


Terlihat Alvin mengerutkan keningnya, jari tangannya dia ketukkan beberapa kali di meja, menandakan dia sedang berpikir. "Luna, apa kamu yakin ingin menjadi sekretarisku?" Alvin memutar ke samping kanan kursinya menghadap Aluna.


Wanita yang sedang menyilangkan tangannya itu menunjukkan senyumnya yang paling mempesona, menurunkan tangannya lalu menyeret kursi di sebelahnya agar dia bisa duduk di dekat Alvin. "Aku yakin, aku bisa melakukannya dan akan menjadi sekretaris yang baik!" Aluna berkata dengan sangat percaya diri.


Alvin mengamati saksama wajah Aluna, dia tampak tersenyum meremehkan dan berusaha menahan tawanya ketika melihat tingkah konyol wanita yang duduk di sebelahnya itu. "Kalau kamu ingin menjadi sekretarisku, sekarang buatkan aku satu dokumen persentasi rapat untuk siang ini dalam waktu sepuluh menit?" Alvin memberikan selembar contoh dokumen kepada Aluna.


Aluna mengernyit, belum dibaca saja sudah membuatnya pusing apalagi harus membuatnya. Dia hanya mengambil kertas itu lalu tersenyum semanis mungkin. Tentu saja dia tidak bisa, Aluna harus mengaktifkan kemampuannya dahulu baru bisa mengerjakan tantangan yang diberikan Alvin.


Miss K! Bagaimana ini? Alvin memberikan waktu sepuluh jam pun aku tak akan sanggup membuatnya! Batin Aluna.


...[Sistem tidak akan mengaktifkan ketrampilan Anda, sebelum Nona menyelesaikan delapan kali ciuman lagi.]...

__ADS_1


Haish, kenapa kamu pelit sekali, Miss K! Aluna menggerutu di dalam hati.


"Alvin, sudah aku bilang kalau aku bisa melakukannya. Kita selesaikan delapan ciuman lagi, baru aku bisa mengaktifkan kemampuanku. Perintah yang kamu berikan itu terlalu mudah dan aku bisa melakukannya lebih dari--"


"Aku sedang tidak ingin main-main, Luna. Berhentilah berhalusinasi! Kalau kamu ingin kita berciuman atau lebih dari ini pun aku mau, kita bisa lakukan di rumah nanti malam," ucap Alvin memotong ucapan Aluna, "membuat satu file dokumen saja kamu tidak bisa, bagaimana aku bisa menerimamu sebagai sekretaris!"


Aluna menelan ludah mendengar ucapan Alvin. "Jadi kamu meremehkanku?" Aluna menarik dasi Alvin, menarik tubuhnya agar lebih dekat lagi.


Sayangnya, baru saja Aluna hendak mendaratkan satu ciuman lagi, pintu ruangan kembali diketuk dari luar. Membuat keduanya mengerjap lalu kembali ke posisi masing-masing.


Alvin membenahi posisi dasinya. Walaupun membuatnya berpikir aneh, dia sendiri tidak menolak kelakuan agresif Aluna.


"Masuklah!" seru Alvin kemudian.


"Maaf, Tuan. Aku sudah menganggu lagi." Sekretaris Fang kembali memasuki ruangan, "aku ingin menyampaikan kalau Nona Helen ada di ruang khusus tamu. Dia mengatakan ingin sekali menemui Nyonya Luna sekarang, katanya dia ingin meminta maaf."


Mendengarnya, Aluna berdecih, dia sangat malas menemui wanita licik itu. "Cih, aku tidak yakin wanita itu ke sini hanya untuk meminta maaf."


Aluna melirik Alvin, pikiran mereka pun hampir sama. Mereka berdua tak percaya kalau Helen datang ke kantornya hanya untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Tuan! Seluruh kandidat sudah menyelesaikan semua tugasnya. Mereka sekarang masih menunggu hasilnya di ruang konferensi," ucap sekretaris Fang.


"Baiklah, aku segera ke sana. Maaf, Luna. Aku harus ke ruang konferensi sekarang. Kalau kamu ingin menemui Helen, bawa satu pengawal menemanimu agar Helen tak berbuat licik lagi," kata Alvin berniat pergi.


"Silahkan Tuan Presdir. Tetapi hasilnya nanti, hanya akulah yang terpilih menjadi sekretarismu," ucap Aluna percaya diri.


Alvin yang mendengarnya, hanya tersenyum simpul. Dia tak mengiyakan atau pun menolak. Alvin malah berlalu, berjalan pergi di ikuti sekretaris Fang di belakangnya.


"Aku tidak janji, Nyonya Alvin."


***


Di Ruang Tunggu Tamu.


Ara tampak berjalan mondar-mandir tak karuan. Dia terlihat cemas sambil terus menyimpulkan apa saja yang ada di pikirannya. 'Bagaimana kalau dugaanku salah, kalau Luna yang dimaksud bukan kakakku? Sepertinya mustahil kalau dia adalah kakakku! Tetapi ... tunggu! Yang mustahil bisa saja terjadi, contohnya saja kehadiranku di sini' Ara terus membatin di dalam hati.


Walaupun terlihat gugup dan tak yakin, Ara begitu bersemangat. Berkali-kali dia berdiri menengok ke arah pintu, berharap kakaknya lah yang datang. Namun semakin menunggu, kehadiran Luna masih belum dilihatnya. Tetapi itu semua tak menyurutkan semangat Ara untuk menemui Luna.


Aku yakin sebentar lagi kak Aluna datang! Gumam Ara.

__ADS_1


Belum setengah jam menunggu. Tiba-tiba Ara dikagetkan oleh sebuah suara, membuatnya menengok ke belakang.


"Katakan sejujurnya! Apa tujuan kamu datang ke mari, Helen?" tanya Aluna dengan tegas.


__ADS_2