TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Masa Lalu Alvin


__ADS_3

Lisa sedang berbuat onar di laboratorium Noah. Perempuan berkulit putih itu terlihat tak sadarkan diri dibutakan akan cinta. Entah setan apa yang merasuki, dia masih saja mengharapkan Noah untuk kembali. Obsesi terbesar Lisa adalah memiliki Noah seutuhnya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menikah kecuali dengan Noah.


"Nona, Hentikan. Semua barang ini bukan milik Noah. Anda akan mengganti rugi kalau merusaknya." Rekan kerja Noah mencegah perbuatan Lisa yang brutal.


"Kalau begitu suruh dia datang ke mari sekarang! Kalau tidak semua barang-barang yang menyangkut pekerjaannya aku hancurkan semua!" seru Lisa sambil memegang tongkat bisbol yang ada di ruangan itu.


"Iya, aku sudah menghubunginya. Tenangkan diri Anda. Sebentar lagi Noah akan datang ke sini," kata rekan Noah lagi. Tangannya dipegang erat oleh kedua pengawal.


"Tiga puluh menit tak datang, aku akan merusak seluruh alat kerjanya."


"Apa Anda sudah gila? Anda harus mengganti rugi semua kerusakannya kalau semua alat di sini dihancurkan."


"Aku akan menggantinya berapa pun! Asal sekarang paman Noah menemuiku. Harusnya dia tak mematikan handphonenya!"


Melihat kelakuan Lisa. Teman kerja Noah hanya bisa menggelengkan kepala. Menurutnya, bisa-bisanya Noah mempunyai pacar wanita gila seperti Lisa. Walaupun cantik dan kaya, dirinya pun tak akan mau menjadikan Lisa istri, kelakuannya benar-benar diluar kendali.


Sementara di tempat lain. Mobil Noah sudah memasuki halaman depan departemen forensik tempat kerja Noah. Bersama Alvin, Noah turun dari mobil itu lalu berjalan menuju kafe di sebelah kantornya.


Noah mendongakkan kepalanya ke gedung tepat di area kerjanya. Terlihat dari luar, lampu ruangan itu menyala dengan terang. Membuktikan kalau masih ada kegiatan di dalam.


Tak ingin menanganinya sendirian, Noah menghubungi Nyonya Olive agar datang. Dia ingin memberitahukan bagaimana kelakuan Lisa sebenarnya. Noah juga ingin, Nyonya Olive sadar kalau bukan dia lah yang tak ingin putus, melainkan anaknya sendiri.


"Apa kamu tak masuk ke dalam?" tanya Alvin.


Noah menggeleng. "Aku akan menghubungi ayah dan kedua orang tua Lisa agar menjemput anaknya. Sudah bukan wewenangku lagi meladeni gadis itu. Kelakuannya sudah diluar batas, sangat keterlaluan dan sangat merugikan."


"Sudah aku katakan kalau kalian itu tak cocok. Kelakuan Lisa terlalu kekanakan. Dari dulu aku tidak menyetujuinya."


"Bagiamana dengan Nona Helen. Apa aku lebih cocok dengan perempuan itu?" tanya Noah.

__ADS_1


Alvin terkekeh. Menurutnya Noah pun tak ada cocok-cocoknya apabila disandingkan dengan Helen. Sifat Helen tak kalah jauh dengan Lisa, sayangnya Lisa bukanlah perempuan mata duitan seperti Helen. "Apa wanita itu merayumu juga?" Alvin balik bertanya.


Noah mengangkat bahunya. "Ah tidak! Maksudku Ara. Aku lupa kalau mereka memang satu orang."


"Aku pikir Helen juga menjebakmu."


"Helen tak mungkin menyukai lelaki rendahan sepertiku. Aku yakin wanita itu masih menyukaimu?" tanya Noah.


"Sayangnya dari dulu aku tak pernah mencintainya."


"Aku percaya. Bagaimana kalau kita memesan minuman sambil menunggu kedatangan orang tuaku. Sudah lama kita tak minum bir bersama," ujar Noah.


"Berapa kali kubilang. Aku sudah tak ingin meminum minuman itu lagi," kata Alvin tegas.


"Lupakan saja peristiwa itu. Lagipula bukankah kamu sudah mencintai istrimu."


Ucapan Noah membuat Alvin mengingat lagi peristiwa enam tahun yang lalu. Saat pertama kalinya dia bertemu dengan Helen di sebuah hotel.


Flashback on.


Enam tahun yang lalu tepatnya ketika Alvin baru datang dari luar negeri.


Keluarga Alvin mengadakan pesta penyambutan sekaligus pengangkatan Alvin sebagai presiden direktur. Saat itu adalah malam di mana dia juga akan bertemu dengan seorang perempuan yang sudah lama berkirim surat dengannya di luar negeri.


Lelaki yang mengenakan tuxedo berwarna hitam sedang berdiri menunggu di rooftop sebuah gedung. Ya, lelaki itu adalah Alvin. Ekspresinya begitu bahagia. Dia begitu penasaran, seperti apa wajah perempuan yang sering mengirimi surat ketika dirinya di luar negeri. Dari pertama kali dia datang ke luar negeri, saat dia masih berumur dua belas tahun. Sampai sekarang, sudah hampir sepuluh tahun lamanya perempuan tersebut sering memberi perhatian lewat surat dan telepon.


Alvin pernah bercerita kepada Noah untuk menyelidiki siapa perempuan itu. Sayangnya identitas perempuan itu benar-benar disembunyikan. Sampai sekarang bahkan Alvin tak tahu wajahnya seperti apa. Alvin dibuat penasaran. Kerena perempuan yang sudah mengenalnya itu tak pernah memberikannya satu foto pun.


Tempat itu sudah disepakati keduanya untuk bertemu. Setelah bertemu nanti, Alvin akan mengajak menemui keluarganya. Alvin sudah menyiapkan seikat bunga untuk perempuan tersebut. Walaupun tak pernah bertemu, hatinya tak bisa dibohongi kalau dia menyukainya.

__ADS_1


Kau gila bisa menyukai perempuan yang tak pernah kau lihat wajahnya. Bagaimana kalau wajahnya buruk rupa? Bagaimana kalau dia cacat? Itu adalah sederet perkataan Noah kepada Alvin kala itu. Namun nyatanya, Alvin tak peduli. Dia sudah terlanjur jatuh hati kepada gadis itu. Sepuluh tahun lamanya benih-benih cinta tumbih diantara keduanya. Perempuan tersebut selalu menghubungi saat Alvin di luar negeri. Dia bahkan sangat mengenal siapa Alvin. Apa pun tentang Alvin dia mengetahuinya.


Sayangnya ketulusan Alvin membuahkan kekecewaan kala itu. Ditengah guyuran air hujan, Alvin berdiri menunggu, tubuhnya basah kuyup terkena derasnya air hujan. Sudah enam jam lebih, perempuan itu masih tak menunjukkan batang hidungnya.


Alvin tampak kecewa apalagi saat nomer yang biasa dia hubungin sudah tidak aktif. Dia merasa dipermainkan oleh seorang perempuan kala itu. Beberapa pengawal menyuruhnya agar cepat pulang agar segera menghadiri jamuan makan malam keluarga di sebuah hotel. Karena memang saat itu adalah malam pengangkatan dirinya sebagai presiden direktur.


"Pembohong! Teryata kamu hanya ingin mempermainkanku," kata Alvin. Bunga yang dia pegang terlepas dari genggamannya.


Dalam hati penuh dengan kemarahan dan kekecewaan, Alvin meninggalkan tempat itu. Di saat dia benar-benar tulus mencintai seseorang, perempuan itu malah mempermainkannya.


Dipenuhi amarah yang memuncak. Malam itu Alvin meminum banyak bir yang disediakan di pesta pengangkatannya.


Kala itu Alvin merasa lelah dan sedang mabuk berat. Dia memesan sebuah hotel untuk beristirahat. Sayangnya, saat dia memasukinya, sudah ada seorang wanita yang tertidur sangat nyenyak di atas ranjang. Rupanya Alvin telah salah kamar. Perempuan yang sedang tidur itu tak mengenakan sehelai benang pun. Membuat hasrat kelaki-lakian Alvin tumbuh di saat dia mabuk berat. Dalam keadaan tak sadarkan diri Alvin menyetu buhinya.


Di pagi hari saat Alvin terbangun. Dia melihat perempuan duduk di atas tempat tidur. Ya, dia adalah Helen. Perempuan itu mengatakan kalau mereka telah melakukan hubungan suami istri tadi malam. Alvin tak percaya dan mengecek CCTV. Sayangnya, seperti sudah direncanakan semua CCTV di hotel itu semuanya mati saat perempuan yang ditidurinya semalam masuk ke dalam kamar. Jelas Alvin telah lupa wajah gadis itu.


"Siapa kamu?" tanya Alvin.


Helen berpura-pura menangis agar bisa mengambil simpati Alvin. "Kamu, kamu sudah membuatku hancur dalam semalam."


"Siapa yang membuatmu hancur?" tanya Alvin kebingungan. Rasa pusing akibat mabuk semalam membuatnya tak bisa berpikir, "apa yang sudah aku lakukan?"


Alvin melihat dirinya terbaring di ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dia melihat noda merah di atas sprei yang menunjukkan kalau dirinya baru saja merenggut kepera wanan seorang gadis.


Helen semakin menangis menjadi, membuat Alvin begitu merasa bersalah. "Kamu harus bertanggung jawab."


Helen meminta Alvin bertanggung jawab kalau sampai dirinya hamil. Sayangnya, sampai sekarang tak ada tanda-tanda kehamilan Helen. Demi menebus kesalahannya, Alvin memperkerjakan Helen sebagai asisten pribadi. Dia tak ingin Helen menyebarkan rumor buruk di publik.


Semenjak kejadian itu, hati Alvin seakan membeku. Tidak ada lagi cinta darinya untuk seorang perempuan. Bahkan saat kakeknya menjodohkannya dengan Luna. Lelaki itu bertambah paranoid dengan seorang perempuan. Baru beberapa Minggu usia pernikahan mereka, Luna dikabarkan terlibat skandal dengan seorang lelaki.

__ADS_1


Flashback off.


"Alvin!" Noah menepuk bahu Alvin agar dia sadar dari lamunannya.


__ADS_2