
"Siapa yang kamu sukai? Luna atau aku?" Pertanyaan Aluna di dalam lift membuat Alvin terdiam terpaku.
"Apa maksudmu?" tanya Alvin.
Belum sempat menjawab pertanyaan Aluna, pintu lift terbuka. Keduanya lalu keluar bersama-sama, melewati beberapa pegawai yang sebelumnya menunduk memberi hormat.
Saat Aluna melihat Alvin tenggelam dalam lamunannya Aluna memegang lengan lelaki itu. "Jangan dipikirkan, aku hanya iseng bertanya seperti itu. Ayo kita temui kedua klien itu sekarang."
Kenapa aku selalu kelepasan memberikan pertanyaan yang konyol seperti itu? Jelas Alvin akan mengatakan lebih menyukai Luna, karena dia istrinya. Batin Aluna.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju restoran Gangan, letaknya tepat bersebelahan dengan Perusahaan Wiratama. Sebagian besar saham restoran itu milik Alvin, sehingga pintu masuknya bisa diakses melalui lantai satu perusahaannya. Alvin dan Aluna hanya perlu berjalan melewati lobi kantor mereka untuk sampai ke restoran tersebut.
Akan tetapi sebelum mereka bertemu kedua klien, Alvin menghentikan langkahnya dan menahan tangan Aluna. "Aluna."
Aluna berhenti sejenak lalu menoleh ke samping. "Yah."
Alvin menggeser tubuhnya lalu berbisik pelan, "kalau aku lebih menyukaimu, apa kamu akan tetap bersamaku selamanya?"
Ekspresi Aluna langsung menegang. Untuk mencegah Alvin melihat matanya dia dengan cepat menundukkan kepalanya.
Dalam hati yang dalam tanpa disadarinya, Alvin lebih menyukai Aluna dibandingkan Luna. Namun tiba-tiba, lelaki itu teringat sosok Luna. Dia sangat merindukan Luna. Merindukan saat perempuan itu menunggunya pulang, menyajikan makan malam dan menemaninya makan sampai selesai. Luna tidak akan tidur, sebelum dia pulang. Luna terlihat lemah tapi dia sangat patuh. Semua hal itu diam-diam lelaki itu merindukannya.
"Kamu dan Luna satu tubuh. Kalian sama. Pertanyaanmu tidak membutuhkan jawaban, karena itu bukan pilihan."
Perkataan Alvin begitu menohok, membuat Aluna tak bisa berkata apa pun lagi.
__ADS_1
Entah mengapa, aku lebih bahagia jika tadi kamu mengatakan lebih menyukaiku. Terdengar jahat memang, karena diam-diam aku sudah merebut hati Alvin dari Luna, dan memang itu kenyataannya. Tetapi, tidak! Aku harus profesional, tak boleh larut sampai menyukaimu apalagi terobsesi memilikimu. Batin Aluna seraya memandangi punggung Alvin dari belakang.
Aku menginginkanmu, Aluna. Tapi aku sangat takut kehilangan, seperti saat aku kehilangan Ana. Batin Alvin melangkah tanpa menoleh.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing sambil berjalan menuju meja klien.
Beberapa menit setelahnya, mereka berdua sudah duduk di depan meja, melakukan rapat santai dengan dua orang klien perempuan. Terlihat serasi Alvin duduk bersebelahan dengan Aluna. Saking serasinya membuat kedua klien yang awalnya ingin menggoda Alvin, hanya bisa menggigit jari.
Hampir satu jam makan siang diselingi rapat santai, akhirnya selesai sudah. Mereka banyak membicarakan proyek rencana kerja, deviden yang akan diberikan dan seluruh aturan yang harus disepakati keduanya.
"Presdir Alvin, bagaimana keputusan Anda? Kami akan sangat senang bila berkerja sama dengan perusahaan Wiratama," kata klien berpakaian minim berwarna merah tersebut.
"Semua keputusan mutlak ada di tangan asistenku," kata Alvin. Entah mengapa meeting kaki ini Alvin tak fokus, di otaknya banyak memikirkan tentang hubungan dia kedepannya dengan Aluna.
"Terima kasih kepercayaannya. Senang bekerja sama dengan Anda, Nona." Kedua klien menyalami Aluna bergantian sebelum pergi.
Restoran itu cukup ramai. Tetapi terlihat sangat sepi dan sunyi karena Aluna dan Alvin sama-sama terdiam dan tak saling bicara. Aluna menyibukkan diri dengan membuka laptop dan mengerjakan dokumen yang belum dia selesaikan. Semetara Alvin mengambil sebatang rokok yang baru dibelinya.
Alvin memutar-mutar ujung rokok, ingin menyesapnya namun urung. Tentunya, karena di situ bukan area khusus perokok. Alvin bukan perokok aktif. Dia merokok di saat-saat tertentu. Di saat pikirannya kalut atau di saat dia sedang bersedih. Dan saat ini lelaki itu sedang merasakan keduanya.
"Aku ke toilet sebentar," kata Alvin hendak berdiri lalu mengambil sebungkus rokok.
Saat Alvin mengambil benda tersebut, tak sadar dia menyenggol dan menumpahkan jus strawberry yang akan diminum Aluna. Secara otomatis gelas yang berisi jus tumpah mengenai dress yang dipakai Aluna.
"Argh!" Aluna tersentak kaget, untung saja gelasnya tak jatuh ke lantai.
__ADS_1
Mendengar teriakan Aluna, sontak semua orang yang ada di restoran itu memperhatikan mereka berdua. Aluna dan Alvin menjadi pusat perhatian.
Jus strawberry masih banyak hampir memenuhi gelas dan baru diminum beberapa teguk. Seluruh tumpahannya mengenai dress Aluna. Walaupun dress yang dipakainya berwarna hitam, namun tetap saja terlihat kotor dan lengket.
"Maaf, aku tidak sengaja, Luna." Secara mengejutkan tiba-tiba saja Alvin mengambil tisu lalu membersihkan dengan tangannya sendiri secara langsung.
Pemandangan itu membuat semua orang tercengang. Mereka tak habis pikir, Presdir Alvin yang menurut mereka gila kebersihan mau membersihkan tumpahan jus dengan tangannya sendiri. Itu adalah hal yang langkah bagi mereka.
"Alvin, biarkan saja. Aku akan membersihkannya di toilet." Aluna mengambil tisu lalu ikut membersihkannya.
"Lihat mereka sangat romantis. Aku kira Presdir akan bersikap dingin kepada istrinya. Apalagi mereka dulu sempat bercerai," kata seseorang yang duduk di tengah.
"Iya benar, aku dengar Nona Luna juga bekerja menemaninya sebagai asisten. Semoga hal ini bisa berdampak baik bagi kita," ucap salah satu pengunjung restoran.
"Pakai ini dulu. Setelahnya aku akan menyuruh asisten Sam untuk membawakan satu set pakaian ganti," kata Alvin seraya membuka jas, lalu menutupi bagian dress yang kotor dengan jas yang dipakainya, "setidaknya bisa menutupi noda tumpahan jus."
"Terima kasih Presdir, padahal ini tak masalah. Lagi pula kainnya berwarna hitam sehingga nodanya pun tak begitu jelas terlihat," kata Aluna.
Akan tetapi Alvin tak sepemikiran dengan Aluna. Dia tak ingin pegawainya memandang rendah Aluna karena melihat pakaiannya yang kotor. Alvin selalu ingin terlihat sempurna di mata pegawainya.
"Kita harus menghargai tubuh sendiri kalau ingin dihargai orang lain. Pakailah," kata Alvin sambil memakaikan jasnya di tubuh Aluna.
Saat itu juga kalung sistem langsung menyala.
...[Selamat Nona Aluna, Anda berhasil mendapatkan satu tas saran.]...
__ADS_1