
"Miss K, aku ingin bertanya."
Kalung sistem langsung menyala, dan mengatakan apa yang ingin ditanyakan oleh Aluna.
"Apa sistem bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal? Kalau iya, bisakah kamu hidupkan Luna yang asli setelah aku kembali?"
[Tidak bisa, Nona Luna. Hidup dan mati hanya Tuhan yang menentukan.]
"Lalu, bukankah kamu juga ingin memberikanku dan adikku kesembuhan di dunia nyata setelah menyelesaikan misi ini? Bagaimana caranya? Aku semakin tak mengerti dengan peraturanmu."
Lagi-lagi Aluna bertanya. Aluna ingin mempersiapkannya dari sekarang. Sistem kembali berkedip.
[Sistem akan memberikan dua buah ramuan penyembuh sebagai hadiah utamanya, apabila Anda menyelesaikan misi sesuai waktu. Tapi apabila berhenti di jalan, Anda hanya akan mendapatkan satu ramuan penyembuh. Ingat kondisi Anda sedang koma di dunia nyata.]
Aluna tertegun. Dia baru ingat sedang dalam keadaan koma di dunia nyata. Sedangkan Ara, adiknya masih mengidap kanker stadium akhir. Keduanya jelas sangat membutuhkan ramuan penyembuh tersebut.
Kemudian pikiran Aluna beralih mengingat Zero dan Alvin lagi. Yah, mereka sudah sangat Aluna sayangi. Dia harus segera memutuskan pergi atau menetap selamanya.
Dalam keadaan termenung, ponsel Aluna berdering. Dia mendapatkan pesan dari Sinta, menanyakan di mana tempat pertemuan mereka nanti.
"Besok, aku akan mengirimkan Asisten Jo untuk menjemput Nyonya Sinta sekeluarga di bandara," kata Aluna di telepon.
__ADS_1
Saat itu juga Aluna datang ke ruangan Alvin, mengobrol bersama membicarakan pertemuan keluarga mereka dengan keluarga Sinta.
"Terima kasih, Nyonya Luna. Rasanya kami sangat tersanjung," jawab Sinta di tempat lain.
Alvin ikut bicara, dia mengatakan ingin memberikan beasiswa pendidikan kepada Sindi sampai dia lulus kuliah. Memasukkan Sindi di sekolah kota agar bisa dekat dengan Zero.
"Kami akan sangat bahagia kalau Nyonya menerima tawaran ini," kata Aluna.
Di rumahnya Sinta sedang menimbang tawaran baik dari Alvin. Di daerahnya, memang sekolah di kota lebih bagus dari di desa, selain itu dia juga berkeinginan menyekolahkan Sindi ke sana. Kesempatan bagus kalau Sindi menerima beasiswa pendidikan dari Alvin.
"Rasanya kalau meninggalkan anakku seorang diri di kota. Kami terlalu khawatir," kata Sinta di tempat lain.
Alvin berbisik pelan di telinga Aluna. Mengatakan dia pun akan memberikan tempat tinggal untuk keluarga Sindi. Dia juga berniat akan melakukan kerja sama dengan ayah Sindi kalau mereka mau menerima tawarannya.
Sinta dan suaminya merasa senang. Ini kesempatan yang bagus untuk keluarganya mengembangkan bisnis di kota. Dengan begini ekonomi keluarganya akan semakin maju, lagi pula usahanya di desa masih bisa dipantau dari jauh.
Keluarga Sinta akhirnya sepakat. Sebelumnya Aluna dan Sinta sering berkomunikasi. Menurut Aluna, dia dan Sinta sepertinya sepaham dalam mendidik anak. Aluna yakin suatu saat nanti, Sinta bisa membantunya memantau Zero.
...***...
Di malam harinya setelah mereka pulang dari bekerja, masalah kembali datang. Clara dan Nenek Alma langsung menghampiri Aluna. Dia telah mendengar kabar kalau Alvin akan mengundang seluruh keluarga Sindi ke kota. Dia juga mendengar kalau Alvin berniat memberikan tunjangan hidup untuk Sindi dan keluarganya. Tentu saja Clara menolak dan menganggap mereka terlalu berlebihan terhadap keluarga Sindi.
__ADS_1
"Apa tidak berlebihan, Luna?"
"Tidak, ibu mertua. Apa yang akan kami lakukan justru menurutku masih belum cukup."
"Aku tidak setuju," kata Clara tegas.
"Kami sudah berhutang nyawa. Kalau tidak ada Sindi saat kebakaran berlangsung, mungkin Zero tak akan bisa diselamatkan, ibu. Gadis kecil itu sudah menolong anakku saat di desa," kata Alvin menengahi.
Clara tetap tidak setuju. Utang budi bukan berarti harus membiarkan cucunya berteman dengan Sindi. Apalagi Clara tidak suka karena keluarga Sindi tidak sepadan. Walaupun keluarga Sindi cukup kaya di kampungnya, tetap saja tidak suka.
"Nenek setuju kalau kalian hanya mengundang mereka makan malam saja. Tetapi untuk menyuruh mereka tinggal di kota dan bermain bersama Zero untuk waktu yang lama, aku tidak setuju. Kita bisa memberikan mereka hadiah, uang atau liburan ke luar negeri, itu sudah cukup Alvin," kata Nenek Alma menambahi.
Aluna tidak setuju. Alasan kenapa dia meminta Sinta dan keluarganya ke kota adalah karena dia melihat keluarga Sinta menyayangi Zero, menganggap seperti anaknya sendiri. Hubungan Zero dengan Sindi pun cukup dekat, Aluna bisa meminta bantuan Sinta untuk menjaga Zero nanti.
"Sindi anak yang baik dan sopan. Tidak akan membawa pengaruh buruk terhadap Zero, Nenek. Dan sepertinya lagi, Sindi memiliki kedekatan batin terhadap Zero. Bisa dikatakan feeling-nya cukup tajam. Dua kali gadis kecil itu menyelamatkan Zero. Pertama ketika kebakaran, Sindi lah yang pertama kali tahu dan menyelamatkannya. Kedua, di saat kita tak tahu keberadaan Zero, Sindi mengatakan kalau Zero ada di tengah hutan. Ini berkaitan dengan ikatan batin, Nenek."
Aluna menjelaskan terperinci kenapa dia bersikeras mempertemukan dan mendekatkan keduanya. Ada ikatan batin antara Sindi dan Zero. Di mana Zero mengalami bahaya, maka Sindi akan merasakannya.
Akan tetapi, bukannya Clara dan Nenek Alma mengiyakan, mereka malah menyalahkan Aluna kembali. "Ini semua gara-gara kamu karena telah membuang cucuku. Kalau tidak mana mungkin Zero beberapa kali mengalami bahaya. Gadis itu hanya menduga dan kebetulan saja prediksinya tidak salah. Sudahlah, berikan saja mereka uang yang banyak. Suruh mereka menulis sendiri berapa jumlahnya. Keluarga kita adalah keturunan bangsawan, tidak perlu terlalu dekat dengan keluarga mereka. Aku tidak suka Zero bergaul dengan anak dari desa," kata Clara bersikap angkuh.
Alvin sudah paham dengan didikan keluarganya. Dari kecil Alvin saja jarang bergaul. Dia tak ingin Zero mengikuti jejaknya. Kalau mereka tetap menyalahkan Luna karena telah membuangnya, maka dia harus bertindak.
__ADS_1
"Zero adalah anakku. Aku yang berhak mengatur hidupnya," ucap Alvin tak mau berdebat lagi.