TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Perubahan yang Membingungkan


__ADS_3

"Kenapa kamu berada di sini bersamaku?" Bentak Helen dalam keadaan murka.


"Kamu masih saja belum ingat, kamu sendiri yang mengajakku ke mari. Hoaem ... permisi aku ingin ke belakang sebentar ingin mencuci muka dulu," ucap Aluna seraya berjalan menuju toilet.


"Tunggu! Itu tidak mungkin! Jangan-jangan kamu sengaja membiusku!" teriak Helen menarik tangan Aluna.


Aluna menepis tangan Helen, dan berlalu begitu saja. "Lepaskan!"


Aku duga pasti ini akan terjadi, gerutu Aluna dalam hati.


Di dalam toilet, Aluna menepuk kalung sistem, ingin bertanya langsung kepada Miss K tentang adiknya.


"Miss K, sebenarnya apa yang terjadi? Apa adikku sudah bertukar tubuh lagi dengan Helen?"


Kalung sistem menyala.


...[Benar Nona, adik Anda sudah bertukar tubuh lagi dengan Helen, beberapa jam yang lalu kalian sempat tertidur.]...


"Ah' Wanita ular itu sudah kembali. Aku harus mencari cara agar dia tidur kembali, aku masih rindu dengan adikku," kata Aluna sambil bercermin.


Sementara di dalam salon, Helen yang masih tak terima rambutnya diwarnai, masih berteriak marah kepada kedua pegawai salon.


"Siapa yang berani menyentuh rambutku dan merubahnya berwarna kuning? Aku tidak mau tahu, kembalikan warna rambutku sekarang atau aku akan menuntut salon ini!"


Kedua pegawai salon saling berpandangan, menggelengkan kepalanya pelan. Tentu saja berulang kali sudah mereka mengatakan, kalau tanpa persetujuan dari Helen mereka tak mungkin merubah warna rambut seenaknya.


"Nona, ka--"


"Siapa pemilik salon ini? Aku akan menuntutnya kalau tidak merubah rambutku seperti awal lagi?" Bentak Helen memotong ucapan kedua pegawai.


Helen sangat merawat rambutnya, apalagi dia sempat menjadi brand ambasador produk shampoo. Helen tidak suka merubah rambutnya yang hitam diwarnai warna apa pun apalagi warna kuning. Helen sangat menyayangi rambutnya yang berwarna hitam.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam saja? Katakan di mana pemilik salon ini?" Helen membanting alat-alat salon di depan cermin.


Untung saja di sana tidak ada pelanggan lain selain mereka berdua, kalau tidak pasti semuanya akan kabur karena amukan Helen. Alat pelurus rambut dibantingnya ke lantai, membuat pegawai salon memarahinya balik.


"Nona, Anda sudah gila! Sudah kami bilang Anda sendiri yang meminta mengganti warna rambut. Kenapa Anda membanting alat kami? Kalau seperti ini, justru kami yang akan meminta ganti rugi!" Pegawai salon itu menahan tangan Helen dan tidak sengaja menggores tangannya dengan kuku.


"Aw!" teriak Helen refleks, "kurang ajar!"


Plak.


Satu tamparan dari Helen, mendarat di pipi salah satu pegawai salon. Dia tak terima karena dua kali pegawai salon membuat kesalahan.


Saat bersamaan, pemilik salon yang barusan dipanggil pegawainya di dalam, akhirnya keluar. Dia sangat kaget ketika melihat pegawai salonnya di tampar Helen. Saat itu juga Aluna yang ada di dalam kamar mandi langsung keluar karena mendengar kegaduhan.


"Ada apa ini?" tanya pemilik salon.


Aluna berdiri di samping terbengong menyaksikan kelakuan Helen yang membuatnya malu.


"Aku tidak mau! Mereka harus bertanggung jawab karena sudah mewarnai rambutku dan menggores tanganku." Helen tak mau kalah dan tak mau pergi.


Tentu saja pemilik salon juga marah melihat keadaan salonnya sudah porak poranda, ditambah lagi Helen sudah menampar karyawannya.


"Tidak bisa! Kalian harus bertanggung jawab karena sudah menghancurkan salonku. Kalian tidak boleh pulang dulu," kata pemilik salon marah.


Helen masih tak terima malah membentak balik pemilik salon itu. "Kenapa harus aku yang bertanggung jawab. Justru aku adalah korban di sini!"


Aluna merasa keadaan semakin memburuk dia memohon kepada pemilik salon agar memaafkan mereka. Namun, pemilik salon juga tak terima. Kedua belah pihak sama-sama tak terima dan ingin menuntut balik.


"Baiklah! Kita buktikan lewat CCTV sebenarnya siapa di sini yang salah! Kalau kalian terbukti bersalah dan membuat keributan, aku tak segan-segan melaporkan kalian."


Merasa ditantang seperti itu, Helen menyetujuinya. Dia pun sama sangat penasaran kenapa dirinya berada di sini. Hal yang dialami sekarang seperti mimpi, Helen berpikir barusan berada di rumah sakit tetapi anehnya begitu terbangun berada di sebuah salon.

__ADS_1


Pemilik salon menggiring semuanya ke ruang pribadinya, memperlihatkan tayangan CCTV sesaat setelah Helen dan Aluna datang. Perempuan pemilik salon itu langsung membuka komputer melihat saksama ke arah layar, ingin membuktikan siapa yang bersalah di sini.


"Kita akan lihat tayangan CCTV saat kalian baru datang," kata pemilik salon.


Saat melihat CCTV, Helen sangat kaget melihat dirinya begitu akrab dengan Aluna. Dia sangat terkejut bisa-bisanya dia berada di salon bersama Aluna seperti kakak dan adik yang sangat harmonis.


"Lihat Nona ini yang meminta sendiri rambutnya di warnai. Anda tidak bisa mengelak lagi, Nona!" kata pegawai salon menunjuk saat di mana Helen menyuruh dirinya mewarnai rambut.


Helen masih tak habis pikir, dia tak bisa berkata-kata. "Ini tidak mungkin!" seru Helen menutup mulutnya.


Aku tidak mungkin melakukannya! Kenapa aku tiba-tiba ada di rumah sakit dan sekarang ada di salon? Kenapa dengan tubuhku, batin Helen terus berpikir keras.


Semakin lama berpikir membuat kepalanya mendadak pusing. Sementara pemilik salon yang tidak terima, meminta ganti rugi pada keduanya karena terbukti bersalah.


"Kalian harus mengganti rugi barang-barang yang sudah kalian rusak." Bentak pemilik salon, "kalau tidak kalian tidak boleh pulang."


"Satu lagi dia juga menamparku!" seru pegawai satunya tidak terima karena di tampar Helen, "dia harus di tuntut karena perlakuan yang tidak menyenangkan."


Tak mau berbuntut panjang. Aluna akhirnya mengambil uang di dalam tas lalu memberikannya kepada pemilik salon dan karyawan yang di tampar Helen sambil meminta maaf. "Maaf. Maafkan adikku. Dia baru saja sembuh. Ingatannya masih belum pulih kadang-kadang dia seperti orang amnesia. Aku akan mengganti kalian dengan uang ini. Tolong selesaikan perawatan rambut adikku lagi. Tidak mungkin adikku keluar dalam keadaan seperti ini."


Aluna menunjuk rambut Helen yang masih belum sepenuhnya diwarnai. Ada sebagian rambutnya masih berwarna hitam dan belum rapih.


"Tetapi dia telah menamparku?" kata pegawai salon masih kurang puas dengan uang yang diberikan Aluna.


Helen tak memperdulikan perdebatan Aluna dengan pegawai dan pemilik salon. Dia terduduk di kursi sambil terus mengingat-ingat kembali kejadian sebenarnya. Dia tampak linglung dan memegangi kepalanya.


"Aku tambah uangnya lagi." Aluna memberikan setumpuk uang lagi kepada pegawai tadi.


Plak!


Aluna mendekati Helen dan tiba-tiba menampar gadis itu dengan keras. Membuat Helen bertambah terkejut.

__ADS_1


"Aku sudah menghajar adikku. Aku yakin setelah ini dia tak akan mengulangi perbuatannya lagi."


__ADS_2