TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 255. Apa Dia Akan Kembali?


__ADS_3

"Ze, dengarkan Mama," ucap Aluna, "aku tahu kamu sedang kesepian ... eum, mama punya kabar bahagia. Mama akan mengundang Sindi dan keluarganya makan malam bersama. Gimana apa kamu suka?"


Zero tersenyum senang. Mendengar nama Sindi, anak lelaki itu langsung melupakan permintaannya. Zero langsung antusias dan bertanya kapan mereka akan makan malam bersama keluarga Sindi.


"Ayo, Mama antar ke kamar sekarang. Sepertinya kamu sudah sangat lelah, Ze."


Alvin membalasnya dengan senyuman tipis. Sesekali meliriknya sambil memikirkan hadiah untuk Zero. Di otak nakalnya sudah penuh dengan imajinasi liar.


"Baiklah, aku akan menunggumu di kamar setelah ini, Luna," ucap Alvin setengah menggoda.


Aluna tak peduli dan pura-pura tak melihat. Dari sorot mata suaminya saja, dia sudah menduga yang tidak-tidak mengenai pikiran lelaki itu.


"Kapan aku akan bertemu Sindi, Mama?" tanya Zero lagi ketika mereka sudah berbaring berdua di kasur.


"Secepatnya, mama akan mengatur waktu senggang agar tidak bentrok dengan waktu kerja," jawab Aluna, "kamu ingin dongeng apa, Ze? Mama akan membacakannya untukmu."


Zero mengambil sebuah buku cerita dan menunjukan cerita mana yang ingin ibunya bacakan. "Mama, bacakan aku cerita Hansel dan Gretel."


Aluna meraih buku cerita yang disodorkan Zero, hendak membacakan cerita setelah dia memasangkan selimut di tubuh Zero. "Berdoa lah sebelum tidur, Ze. Mintalah perlindungan kepada Tuhan agar kamu bisa selamat dunia akhirat."


Zero mengangguk dan mulai memanjatkan Doa menurut keyakinannya. Setelah itu Aluna mulai membacakan dongeng pilihan anaknya.


"Hansel dan Gretel adalah dua anak yang pintar dan bijaksana. Ketika keduanya ditinggalkan di sebuah hutan oleh ibu tirinya, sepanjang perjalanan Hansel menjatuhkan kerikil untuk menandai arah jalan pulang. Mereka melakukan cara itu agar bisa pulang ke rumah dan bertemu ayahnya lagi. Berulang kali mereka berdua ditinggalkan di hutan, hingga suatu ketika mereka bertemu dengan penyihir jahat. Hansel yang bijaksana dan Gretel yang pintar memakai kepintarannya agar bisa lepas dari penyihir."


Aluna terus menceritakan kisahnya dari awal sampai Zero benar-benar terlelap. Di tengah cerita Zero bertanya apa ada penyihir yang menculik anak di dunia nyata. Aluna menjawab 'ada' sambil memberikan arahan agar Zero selalu waspada dan berhati-hati kepada siapa pun.


"Jangan panik, Zero. Kalau kamu tidak bisa melawan seorang penjahat dengan tenagamu, gunakan otakmu untuk berpikir," kata Aluna sambil mengusap pucuk kepala Zero, "dan satu lagi, jangan lupa berdoa! Mama dan papa akan terus menjagamu."


Zero mengangguk. Dia memasukkan kata-kata ibunya. Terus berpesan agar dia harus waspada pada siapa pun.


"Selamat malam, Ze. Semoga mimpi indah."


Sepuluh menit kemudian, mata Zero benar-benar terpejam. Dari napasnya sudah terlihat kalau anak lelaki itu sudah tertidur lelap. Aluna merapihkan selimut memakaikan dengan benar agar Zero tak merasa kedinginan.

__ADS_1


Aku yakin kamu akan menjadi anak yang pintar dan bijaksana. Suatu saat nanti kamu juga akan tahu rahasiaku. Semoga kamu bisa mengerti, batin Aluna. Setelah itu dia menutup pintu dan kembali ke kamarnya.


...***...


"Selamat malam penyihir cantikku. Sekarang giliranku yang belum tidur," ucap Alvin mengedipkan satu matanya.


Aluna menyalakan lampu kamar. Alangkah kagetnya dia ketika melihat Alvin sudah siap berbaring di atas kasur dengan bagian dada terbuka.


"Hah!"


Kekagetan ekspresi Aluna sangat terlihat jelas. Dia malah membuang muka sambil mengatur napasnya. Bukankah dia hanya punya satu anak? Lalu kenapa dia harus menidurkan satu orang lagi?


"Aku ... Aku sangat gerah. Mau mandi dulu," kata Aluna tanpa menoleh sedikit pun. Malah berjalan terus menuju kamar mandi.


"Kalau begitu kita mandi bersama. Aku juga sangat gerah."


"Hah!"


Sekali lagi Aluna kembali kaget. Kini, tangan Alvin sudah melingkar penuh di perutnya. Alvin mengenyampingkan rambut Aluna menjadi satu dan mencium tengkuknya dengan lembut. "Tidak ada yang salah, bukan?" bisiknya lembut sambil mencum bunya dari belakang.


"Al–"


Alvin tersenyum tipis. Setelah mereka saling berhadapan, Alvin tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dimiringkan kepalanya sedikit, lalu mencium Aluna dengan lembut.


(Skip)



"Minumlah teh ini agar bisa menghangatkanmu."


Aluna meraih teh hangat yang baru dibuatkan Alvin. Menyesap pelan setelah sebelumnya menghirup aromanya.


"Tadi nenek menemuiku," kata Alvin memulai pembicaraan sambil membantu mengeringkan rambut Aluna.

__ADS_1


"Biar aku saja Alvin," kata Aluna berusaha meraih hair dryer yang dipegang Alvin.


"Biarkan aku saja yang mengeringkan. Minum saja tehnya agar tubuhmu hangat," kata Alvin lagi. Alvin takut gara-gara tadi mereka berlama-lama di kamar mandi, bisa membuat Aluna kedinginan dan masuk angin.


"Nenek mengatakan apa?"


Tangan Alvin dengan telaten mengeringkan rambut panjang Aluna. Merapihkan helai demi helai sambil berbicara dengan Aluna, "Nenek bilang, apa aku sudah menemukan nama ganti yang cocok untuk Zero."


Aluna sudah menghabiskan teh, rambutnya pun sudah selesai dikeringkan. Dengan mengenakan piyama tidur, keduanya beralih tempat di atas tempat tidur. Bersandar di tepi ranjang sambil membicarakan Zero.


"Aku masih belum setuju untuk mengganti nama anak kita sekarang," jawab Aluna.


"Kenapa?"


Aluna diam sambil berpikir sejenak. "Aku ingin teman di sekolahnya berteman dengan Zero bukan karena ada nama keluarga di belakangnya. Biarkan dia bahagia menjadi dirinya sendiri dulu."


Alvin mempercayakan sepenuhnya hak Zero kepada Aluna. Dia yakin Aluna akan memberikan apa pun yang terbaik buat anaknya. Meskipun dia tahu pasti keluarganya sangat marah. Nenek dan ibunya menyuruh dia segara mengganti nama Zero dan memasukkan anak itu ke sekolah bangsawan. Keluarganya tidak suka anggota keluarga mereka bergaul dengan orang biasa. Yang paling utama, Zero harus bersekolah di sekolah yang berbasis internasional.


"Baiklah aku setuju," kata Alvin, "mengenai hadiah untuk Zero ...."


Alvin tak meneruskan kata-katanya, karena melihat perubahan ekspresi di wajah Aluna.


"Alvin, aku tak bisa! Kamu tahu kan ... aku." Aluna mengembuskan kasar napasnya. Seberapa pun banyaknya Alvin meminta, dia tak akan mengabulkannya.


Aluna beralih posisi. Kini dia telah berbaring membelakangi Alvin.Tadinya Aluna tak ingin terbawa perasaan. Dari awal tujuannya hanya untuk adiknya dan kembali ke dunia nyata. Namun lagi-lagi dia hanya bisa pasrah dan mengikuti plot yang dibuat sistem.


"Aku tahu aku masih punya Luna dan dia bisa memberikannya nanti. Tapi aku tidak yakin perasaanku untukmu akan sama untuknya."


"Kamu akan terbiasa nanti, Alvin."


Alvin memeluk erat tubuh Aluna dari belakang. Entah mengapa, rasa-rasanya dia ingin waktu berhenti saat itu juga.


"Yah, aku akan berusaha mencintainya."

__ADS_1


Aluna memejamkan mata tapi tidak tidur. Masih dalam pelukan Alvin dia berpikir. Mengingat lagi potongan buku harian Luna kemarin. Di dalam buku tertulis, ada orang yang ingin membunuhnya.


Apa Luna akan kembali setelah aku pergi?


__ADS_2