
Helen mengamati gambar kalung giok yang diberikan Lisa. Yah, gambar itu sangat familier. Dia sering melihat Aluna memakainya.
"Kita harus mengambil kalung giok tersebut dari Aluna. Agar bisa mengacaukan, dan segera menyingkirkan dia dari sini," kata Helen, menunjukkan senyum liciknya.
"Aku setuju! Kita atur strategi untuk merebut kalung itu!" balas Lisa sambil menyalami Helen.
***
Di tempat lain.
Aluna membuka semua pesan dari Noah. Membuka email dari Noah, mengunduh beberapa berkas, dan foto hasil laporan uji laboratorium yang dikirim lelaki itu.
"Noah, jadi siapa yang membunuh Luna? Apa benar Helen lah pelakunya?" tanya Aluna lewat telepon.
Saat itu dia sedang berada di luar rumah, minum sambil bersantai sejenak di kafe sendirian, karena saat itu Alvin masih sibuk dengan beberapa kliennya.
"Yah, benar. Berdasarkan hasil penelitianku, ada sidik jari Helen di pisau tersebut. Bahkan ada darah Helen yang tertinggal di sana. Karena, hanya ada DNA Helen dan Luna di sana, sudah dipastikan pelakunya adalah Helen," jawab Noah lewat telepon di tempat lain.
Aluna sudah menduga dari awal kalau pelaku pembunuh Luna memang Helen. Tidak ada lagi pelakunya selain dia, karena yang dia tahu peran antagonis di novel ini adalah Helen.
"Terima kasih, Noah. Aku akan menghubungimu lagi kalau aku butuh informasi."
"Yah, sama-sama, Luna."
Setelah panggilan berakhir. Aluna keluar dari kafe, berjalan menuju mobil. Membuka pintu kemudi dan duduk di dalamnya. Aluna kendarai sendiri mobilnya keluar dari kafe.
"Miss K," panggil Aluna sambil menepuk kalung sistem. Seharusnya misinya berhasil dan mendapatkan hadiah karena menemukan pelaku pembunuh Luna. Namun beberapa menit sudah berlalu, tak ada tanda-tanda notifikasi dari sistem.
"Miss K," panggil Aluna sambil menepuk lagi, kali ini dia berhentikan dulu mobilnya ke tepi jalan.
Sensor di kalung giok yang sedang Aluna pakai menyala, pertanda sistem sudah merespon panggilannya barusan.
"Miss K, aku sudah menemukan pelaku pembunuh Luna. Kenapa aku tidak mendapatkan segera hadiahku?" tanya Aluna.
[Selamat malam Nona Aluna. Sistem tidak bisa mengirimkan hadiah, karena tidak mendeteksi keberhasilan misi Anda malam ini.]
Aluna mengembuskan napas kasar. Bahkan sampai memukul kemudinya. Kenapa tidak terdeteksi? rutuk Dalam hati.
"Aku sudah menemukan pelaku pembunuh Luna. Dan tersangkanya adalah Helen. Aku sudah menemukan bukti langsung dari Noah. Dia sendiri yang menelitinya. Mau bukti apa lagi, Miss K? Kamu sistem, harusnya bisa mendeteksi otomatis tanpa perlu aku beritahu."
Akan tetapi, Sistem tetap mengatakan kalau misi Aluna belum berhasil dan belum layak mendapatkan hadiah, Karena pelaku sebenarnya bukanlah Helen.
__ADS_1
"Kalau begitu hadirkan adikku ke mari. Bukankah aku sudah menukar tas saranku, dengan berinteraksi bersama adikku di sini selama sebulan? Kenapa sekarang kamu masih menahannya di sana, Miss K? Lalu siapa pelakunya kalau bukan Helen?" tanya Aluna lagi, moodnya sedang sangat buruk malam ini.
Bukannya mendapatkan jawaban yang memuaskan, Sistem kembali memberikan jawaban yang mengecewakan lagi untuk Aluna.
[Sistem tidak bisa menghadirkan adik Anda sekarang!]
"ARGHH!"
Aluna berteriak keras, lagi dan lagi dia dibuat kecewa oleh sistem. Dia berjuang dan berada di dunia novel hanya untuk mendapatkan kehidupan untuk Ara, mendapatkan ramuan penyembuh yang akan menyembuhkan penyakitnya nanti. Dia berpikir, bagaimana kalau Ara tak bisa melewati masa kritisnya. Apakah sistem akan bertanggung jawab tetap membuatnya hidup di sini?
Di saat dia sedang emosi, ponselnya berdering. Aluna melihat sekilas, ada nama Alvin di layar ponsel.
"Yah, Alvin. Aku sedang ada di luar," kata Aluna menjawab telepon. Dia sandarkan punggungnya ke kursi pengemudi agar lebih rileks.
"Aku sudah pulang ke rumah dari tadi. Kamu di mana, Luna? Zero dari tadi mencarimu. Dia tidak akan tidur sebelum kamu pulang," kata Alvin lewat telepon,.
Aluna mengembuskan napas kasar. Dia tidak akan pulang sebelum hatinya bisa tenang. "Bilang saja, suruh Zero tidur duluan. Aku masih lama berada di luar, tidak bisa pulang cepat."
"Lama? Memangnya kamu ada di mana Aluna? Kenapa malam-malam kamu keluyuran sendirian?" tanya Alvin. Di dalam kamarnya, Alvin berusaha mendeteksi keberadaan Aluna lewat GPS yang terpasang di ponsel Luna. Namun, karena sinyal di tempat itu sedang buruk, Alvin tak bisa mendeteksinya.
"Aku sedang berusaha menyelesaikan urusanku sendiri. Jangan khawatirkan aku. Nanti juga aku akan pulang."
"Katakan saja di mana kamu, Luna? Aku akan ke sana sekarang."
"Aluna kenapa kamu diam? Cepat katakan di mana kamu sekarang?" tanya Alvin lagi. Dia merasa khawatir di kamarnya.
"Maafkan aku, Alvin. Jika nanti aku tak kembali, tolong jaga dirimu dan Zero baik-baik."
Belum saja Alvin membalas, Aluna langsung mematikan panggilan telepon. Kemudian menaruh ponselnya begitu saja agar menjauh.
Aluna memijat keningnya. Setelah berpikir keras, Aluna kembali menepuk kalung sistem lagi.
"Miss K," panggil Aluna, dia menyalakan mesin mobil melajukan ke jalanan sambil berbicara, "aku sudah bosan mendengar penjelasanmu. Kembalikan adikku ke sini, atau aku akan menyelesaikan misimu sekarang juga!"
Aluna mengancam sistem, menambah kecepatan mobil yang dikendarai sekarang. Dalam pikirannya, dia akan mengakhiri misi dengan menghabisi nyawanya sendiri kalau sistem tak cepat mengambil tindakan.
"Kamu pikir aku akan main-main, Miss K! Kalau kamu tak bisa menolong adikku, untuk apa aku berlama-lama berada di sini? Bukankah misi ini berakhir kalau aku mati, kan?" Aluna terlihat menyeringai, menambah lagi kecepatan mobilnya hingga kecepatan tertinggi.
Aluna ingat betul saat balapan sebelum dia bertransmigrasi, persis yang dia lakukan sekarang. Dan dia akan melakukannya lagi, menabrakkan dirinya agar bisa mati. Dengan begitu, misi akan selesai.
Lagipula, Aluna sudah berpikir matang. Zero sudah dia selamatkan dan bekalkan banyak keahlian. Bocah lelaki itu sudah bisa menyelamatkan dirinya sendiri nanti. Sedangkan Alvin, dia yakin lelaki itu akan bahagia menemukan pengganti dirinya nanti.
__ADS_1
Kalung giok yang dipakai Aluna memunculkan notifikasi darurat, pertanda kalau Aluna dalam bahaya. Sistem melarang keras Aluna mengakhiri nyawa yang akan membuat berakhirnya misi.
[Dari awal, sistem sudah memperingati agar Nona tak boleh jatuh cinta. Tapi Nona melanggar! Kesalahan awal Anda adalah karena terbawa perasan dengan tokoh utama lelaki di novel ini. Selama misi belum terselesaikan, itu akan mempersulit Nona untuk kembali ke dunia nyata. Anda tidak akan mati, dan akan sekarat selamanya di sini. Ada dua penyelesaian. Nona yang menyelesaikan misi ini? Atau penulisnya sendiri yang menyelesaikannya.]
Aluna tertawa mendengar penjelasan sistem. Sekarat atau tidak di dunia novel, tetap saja adiknya sekarat di dunia nyata. Aluna menganggap sistem telah mempermainkannya.
"Aku tidak peduli. Aku akan menabrakkan mobil ini ke jurang agar terbakar! Dengan begitu tubuhku akan ikut hangus!" bentak Aluna masih menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kebetulan karena malam, jalanan lumayan sepi. Mobilnya dengan bebas menerobos jalan.
[Itu tigak akan berhasil, Nona.]
"Katakan padaku alasan apa yang membuatku harus tetap di sini?" tanya Aluna, pandangan matanya masih fokus ke depan. Beberapa meter lagi adalah jurang dan dia akan menjatuhkan mobilnya di sana.
Kalung sistem kembali menyala. Sistem masuk dalam kondisi darurat.
[PENULIS NOVEL INI ADALAH ARABELLA SAAT BERUSIA LIMA BELAS TAHUN.]
Mendengar nama adiknya disebutkan, Aluna mendadak menginjakkan kaki kanannya menekan rem, langsung membanting stir mobilnya, agar bisa berhenti dengan mulus.
"APA?!"
Suara rem mendadak yang dilakukan Aluna terdengar sangat nyaring. Beruntung karena Aluna sangat ahli dalam mengemudi, bisa memberhentikan mobil tersebut cukup mulus. Hanya terjadi goncangan kecil saat mobil menepi di bahu jalan.
"Apa yang kamu katakan tadi, Miss K?" teriak Aluna seakan masih tak percaya dengan apa yang dia dengar tadi, "kau bilang adikku penulis novel ini?"
[Yah, Nona.]
"Jelaskan padaku, Miss K?"
[Arabella memiliki kepribadian ganda. Satu kepribadian yang sering ditunjukkan di depan Nona adalah kepribadiannya yang baik, sementara Helen adalah contoh kepribadiannya yang buruk, yang selalu Ara sembunyikan di belakang Anda. Dia lah penulis novel ini. Sengaja Arabella buat hanya untuk meluapkan rasa marahnya kepada Nona, dengan menghadirkan tokoh Luna yang bodoh dan teraniaya.]
"Ini tidak mungkin Miss K? Jangan berbohong! Kamu gila!" teriak Aluna, tak habis pikir dengan apa yang sistem katakan.
[Nona tidak ingat kalau Arabella bukanlah adik kandung Anda? Saat berusia lima belas tahun dia belum didiagnosis leukimia, saat itulah Novel ini dibuat. Nona tidak tahu, kalau selama ini Arabella menyimpan rasa dendam yang sangat kuat? Apalagi begitu mengetahui ibunya meninggal saat kehadiran Anda, beberapa hari setelah dia dilahirkan. Ara sangat pintar menyimpan rasa dendam. Sampai berani meluapkan di novel ini, karena takut tak bisa menunjukkan langsung kepada Nona.]
"Jadi maksudmu, dia melampiaskan kekesalannya dengan membuat novel ini? Membuat tokoh Luna yang dia tujukan untuk aku agar menderita di dunia lain?"
[Yah, agar dia merasa puas. Tapi sayang, banyak naskah yang hilang dan belum dia selesaikan karena keburu sakit. Kepribadian Ara yang baik, merasa bersalah karena membuat kakaknya yang sudah banyak berkorban, dijadikan tokoh yang dibuat menderita. Sebelum Nona datang, Arabella sudah lebih dulu bertransmigrasi menjadi karakter Helen, dan membuat sebagian naskahnya di sini. Luna pernah menuliskan di buku hariannya, dia sudah lebih dulu tahu kalau dia hanyalah karakter fiksi buatan Arabella. Sayang bukti beberapa lembar buku harian itu lenyap.]
"Aku tidak paham dengan penjelasanmu, Miss K! Jadi yang membunuh Luna adalah kepribadian buruk Arabella?"
[Cari potongan novel ini di sini. Selesaikan naskah novel ini maka misi berakhir dengan cepat. Sebelum ....]
__ADS_1
"Sebelum apa Miss K?"
[Sebelum kepribadian Arabella yang buruk datang lagi, untuk mendapatkan naskah yang hilang. Agar dia tak bisa merubah alur di novel ini menjadi menyedihkan.]