TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Adu Mulut


__ADS_3

Luna, harusnya kamu berterima kasih kepadaku karena telah merawatmu dari kecil, harusnya kamu berterima kasih dengan mengalah kepada Helen.


Ingatan insiden beberapa puluh tahun yang lalu kembali berputar di pikiran Mona. Wanita yang pernah menjadi model terkenal itu mulai mengorek kebaikannya kepada Luna saat kecil.


Dasar anak tak tahu diuntung! Beraninya kamu menyakiti anakku!


Awalnya, Hideon dan Mona adalah teman dekat dari zaman mereka masih sekolah. Waktu itu, Mona berstatus masih istri orang, begitupun Hideon. Namun, semenjak Luna lahir status Hideon berubah mendadak menjadi seorang duda. Walaupun agak renggang, hubungan mereka masih terjalin hangat, apalagi Hideon juga berteman akrab dengan suaminya. Rumah mereka pun jaraknya berdekatan.


Saat itu, Mona yang bertahun-tahun menikah belum dikaruniai seorang anak satu pun. Dia melihat Luna kecil sangat menggemaskan membuatnya sering mengajak Luna bersamanya, kebetulan Hideon yang sering meninggalkannya untuk bekerja, sering menitipkan anaknya kepada Mona.


Beberapa tahun kemudian ketika usia Luna menginjak dua tahun, Mona dinyatakan hamil. Ia sangat senang apalagi begitu mengetahui bayi yang dikandungnya adalah perempuan. Namun, dibalik kebahagiaannya karena telah memiliki anak, karirnya mendadak meredup, bahkan kekayaan suaminya perlahan habis karena pailit.


Ternyata kebaikan Mona tidak bertahan lama, apalagi ketika melihat kesuksesan Hideon. Tiga tahun setelahnya, Mona bercerai dengan suaminya. Setelahnya dia mulai berusaha mendekati Hideon kembali, duda beranak satu itupun akhirnya mempersunting Mona karena kasihan melihat Luna yang tak memiliki ibu. Karena harta membuat Mona berpikir tamak, dia mendekati Luna dan Hideon hanya untuk mengeruk hartanya yang akan ia alihkan untuk Helen.


"Luna, Mommy sangat khawatir kepada kamu, Nak. Walaupun aku bukan ibu kandungmu, tapi akulah yang membesarkanmu dari kecil. Masalah kalian berdua membuatku sedih. Mommy tak menyangka kamu bisa sekasar itu kepada Helen, melukai tangan Helen adalah tindakan kriminal. Kalau kamu bukan anakku, sudah pasti aku akan melaporkannya kepada polisi," ucap Mona.


Cih, drama apalagi ini? batin Aluna.

__ADS_1


Aluna belum terlalu paham kehidupan kecil Luna yang sebenarnya, dia mendengar penjelasan Mona sangat muak. Menurutnya, Mona benar-benar wanita bermuka dua. Aluna merasakan sendiri, kedua orang itu hanya baik kepadanya ketika di depan umum, terutama di depan keluarga Alvin.


"Jadi apa tujuan kalian datang ke mari? Aku tidak yakin Luna menantuku melakukannya! Kemarin saja, kalian sudah memfitnah Luna seenaknya! Dan sekarang fitnah apalagi?" bentak Clara sembari menunjuk wajah Mona.


Walaupun tidak terima dengan sikap Clara, Mona mendadak menjadi seorang yang sabar dan lembut. "Tenangkan diri Anda Nyonya, kami datang ke sini baik-baik. Dan satu lagi, aku belum menyelesaikan ucapanku. Tolong berikan aku waktu menjelaskan."


Melihat Clara yang emosi, Nenek Alma meminta wanita itu agar diam. Menyuruh Mona menyelesaikan kata-katanya. "Sekarang bicaralah ke intinya," ucap Nenek Alma lembut.


Helen yang di sebelahnya pura-pura diam. Bibirnya tersenyum rapat melihat ke arah Aluna. Tak bergeming, Aluna balas menatap sinis ke arahnya. Dalam hati kedua wanita itu seperti sedang menunjukan siapa yang paling kuat di sini.


"Nenek Alma dan Nyonya Clara, kedatangan aku ke sini adalah ingin membicarakan perkara ini baik-baik, bagaimanapun juga Luna masih anakku, aku ingin ... kalian memberikan ganti rugi kepada kami."


"Apa ganti rugi?" Mata Aluna terbelalak.


"Bukan aku pelakunya, jadi untuk apa aku harus mengganti rugi!" seru Aluna.


"Aku tidak berbohong. Lihatlah lukanya cukup parah, aku tidak mungkin melukai tanganku sendiri. Mengaku saja kak!" Helen mulai membuka suara.

__ADS_1


Aluna mengepalkan tangan kencang, kalau tidak ingat kata-kata Alvin agar tidak melawan. Dia pasti sudah menonjok bibir Helen karena saking marahnya.


"Mengakui bagaimana? Kalau dia tak melakukannya, untuk apa kami harus bertanggung jawab?" Clara berkacak pinggang di depan ibu dan anak itu.


"Nyonya! Bagaimana perasaan Anda kalau anak anda disakiti? Pasti tidak terima bukan? Aku sangat percaya dengan ucapan anakku kalau Luna yang melakukannya!" Mona mulai menantang Clara. Sebenarnya di hati kecilnya belum percaya betul, tetapi dia terus membela anaknya.


"Bagaimana kalau aku tetap tidak mempercayainya dan lebih percaya kepada Luna, apa kalian tetap meminta ganti rugi?" Clara tersenyum sinis, ia sangat yakin ucapan Helen salah besar, ia juga yakin bukan menantunya pelakunya. Ia ingin sekali memarahi habis-habisan, namun, Nenek Alma kembali mencegahnya, menyuruh mereka agar duduk tenang, bagaimana pun juga mereka adalah tamu.


"Semuanya tolong duduk dengan tenang!" seru Nenek Alma menengahi. "Helen, sekarang jelaskan kepada kami secara detail bagaimana kronologisnya?"


Tanpa menunggu waktu lama, saat itu juga Helen membuka suara, ia mulai menceritakan dari awal masuk bar sampai Luna memukul kepalanya sendiri sampai menggores tangannya hingga berdarah. Tentu saja ia menceritakannya begitu dramatis, Helen mengarang cerita secara detail dengan penjelasan yang masuk akal.


"Aku hanya ingin mendapatkan keadilan di sini." Helen mulai mengeluarkan air mata palsunya. "Aku memang selalu dianggap salah, tetapi kalau aku tidak menuntutnya aku takut suatu saat kakak akan melakukannya lagi padaku," kata Helen menyeka air mata dengan sapu tangannya.


Nenek Alma merasa ada yang janggal di sini. Namun, dia tidak bisa menyalahkan Helen, mengatakan wanita itu sedang berusaha memfitnah Luna. Nenek Alma melirik Aluna dan Helen bergantian.


Nenek, percayalah padaku, batin Aluna. Matanya menutup sekejap, pertanda ia ingin meminta kepercayaan kepada wanita itu.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengatakan siapa yang benar di sini. Apalagi tidak ada bukti yang memperkuat Luna pelakunya. Kalau memang Luna bersalah, aku sendiri yang akan memberikan ganti rugi," ucap Nenek Alma berusaha agar bijaksana.


Jangan khawatir, aku percaya kepadamu, Luna. Batin Nenek Alma.


__ADS_2