
"Maaf sudah membuatmu menunggu." Aluna mendekati Alvin yang diam mematung di depan lobi.
"Sebaiknya kita pergi naik taksi saja. Barusan sopir mengatakan kalau mobilku mengalami pecah ban," kata Alvin dengan kecewa.
"Memangnya kita ingin pergi ke mana? Sambil menunggu sopir datang, bagaimana kalau kamu temani aku membeli cemilan untuk nanti malam," kata Aluna.
"Baiklah, aku akan memesan taksi dahulu."
"Tidak perlu. Tempatnya sangat dekat dengan sini. Bagaimana kalau kita berjalan kaki saja?" tanya Aluna memberi pertimbangan.
"Apa? Berjalan kaki?" Alvin tampak kaget mendengarnya.
"Ya, bukankah berjalan kaki dapat menyehatkan tubuh. Lagipula langit sangat cerah, sepertinya malam ini tidak akan turun hujan. Jarak pasar malam juga tidak jauh dari sini," kata Aluna dengan enteng.
"Apa? Pasar malam?" Mata Alvin membulat sempurna. Dia tak habis pikir kalau Aluna akan mengajaknya ke pasar malam. Tentu saja tempat itu adalah salah satu tempat yang tidak ingin Alvin kunjungi. Untuk berjalan di tengah keramaian seperti pasar malam adalah hal mustahil bagi dirinya. Namun demi seorang Aluna, lelaki itu mau melakukannya.
"Baiklah hanya satu jam. Setelah itu kamu temani aku melihat pertunjukan musik klasik malam ini. Satu jam lagi acaranya akan dimulai," ucap Alvin.
Mendengar musik klasik. Aluna teringat dulunya dia pernah pergi ke tempat itu. Namun, bukannya mendengarkan, malah dia tertidur dan bangun ketika pertunjukan selesai. Aluna hanya menanggapi ucapan Alvin dengan sedikit anggukan.
"Ayo kita pergi ke sana. Aku akan menemanimu." Alvin mengulurkan tangannya ke arah Aluna.
Tanpa pikir panjang, Aluna menerima uluran tangan itu. Selangkah demi langkah mereka berjalan menjauhi kafe. Menuju pasar malam yang letaknya di pinggir danau buatan, tidak jauh dari kafe.
Sepuluh menit berjalan. Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Mata Alvin membulat saat dia baru sampai di tempat itu. Sangat ramai, bahkan terlihat sesak oleh lalu lalang anak-anak dan para orang dewasa.
"Tempat ini sangat ramai. Apa kamu yakin akan masuk ke dalamnya?" tanya Aluna.
Kalau kamu bilang ingin ke sini, aku akan mereservasi duluan seluruh tempat ini hanya untuk kita berdua, sayangnya ini terlalu mendadak, batin Alvin seraya menelan ludahnya.
Enggan rasanya Alvin melangkah masuk dan ikut berdesakan dengan orang-orang disitu. Pasti tubuh mereka akan bergesekan dengannya. Membayangkan keringat mereka yang akan bersentuhan dengannya saja membuat Alvin bergidik, merasakan geli dan kurang nyaman. Alvin tidak tahu mereka dalam keadaan bersih atau malah belum mandi.
Alvin hanya bisa tersenyum masam melirik ke arah Aluna. "Di kedai mana makanan yang ingin kamu beli? Ayo kita masuk!" Tangannya bergerak meremas telapak tangan Aluna.
"Di sana. Tidak jauh dari sini." Tunjuk Aluna.
Alvin mempererat genggamannya, memasuki pintu utama. Terus melangkah, Alvin menarik tubuh Aluna agar tidak tersenggol oleh lelaki yang berjalan disebelahnya. Tempat itu benar-benar sangat ramai. Meskipun malam hari tetapi memang minggu-minggu ini adalah musim liburan anak sekolah. Wajar saja kalau tempat itu dipenuhi oleh beberapa keluarga yang berjalan beriringan. Tampak juga pasangan kekasih yang berjalan begandengan saling memeluk dan menunjukkan kasih sayang tanpa menunjukkan rasa malu di depan umum.
"Berjalanlah lebih dekat denganku," kata Alvin terlihat lebih posesif, "sepertinya lelaki itu sengaja ingin berjalan berdesakan agar bisa bersentuhan dengan tubuhmu."
Alvin menatap menyeringai ke arah lelaki yang dari tadi menyenggol tubuh Aluna.
Sekali saja kamu menyentuh tubuh istriku, maka aku tidak segan menonjokmu, batin Alvin terlihat tidak suka.
"Bukan Alvin. Tempat ini memang selalu ramai, bahkan untuk berjalan pun harus berdesakan."
"Kamu ingin ke mana? Sebaiknya kita cari tempat yang sedikit lenggang." Alvin memeluk erat Aluna, menutupi bagian belakang tubuh Aluna dengan jas yang dipakainya lalu membenamkan separuh kepalanya di dada.
Kenapa aku jadi seperti anak kecil seperti ini, batin Aluna. Sebenarnya dia pun menyukainya, apalagi bau tubuh Alvin begitu candu baginya.
__ADS_1
Alvin terlalu fokus dengan Aluna. Sampai dia tak sadar sudah banyak kaki yang menginjak sepatunya. Ini adalah kali kesekian Alvin menahan mysophobianya demi Aluna.
Sekarang mereka berhasil menepi dari tengah keramaian dan berdiri di depan penjual kaki lima yang menjajakan makanan ringan. Sementara Aluna membeli beberapa makanan, Alvin memanfaatkan kesempatan itu untuk menelepon sopir agar cepat menyusulnya, menyuruh sopirnya membawa pakaian dan sepatu ganti.
"Cepat bawakan sepatu dan pakaian ganti," kata Alvin di telepon.
Sambil menunggu kedatangan sopir. Mereka melihat-lihat ke sekeliling. Yang paling istimewa dari tempat itu adalah, banyaknya permainan di sana yang sengaja digelar untuk mencari keuntungan. Alvin merasa familiar dengan beberapa permainan ketangkasan di sana. Seperti melempar boneka dengan bola atau membidik papan sasaran agar mendapatkan hadiah. Namun, permainan itu hanya dilakukannya saat dirinya di mall besar nan mewah, tidak di pasar malam pinggiran seperti sekarang.
"Bonekanya sangat lucu," kata Aluna refleks.
"Aku bisa mendapatkannya," sahut Alvin dengan nada sombong, "kalau kamu mau aku bisa mendapatkannya untukmu."
"Benarkah?"
"Lihat saja sekarang." Tanpa ragu Alvin menyodorkan beberapa lembar uang untuk membeli beberapa peluru sebagai amunisi pistol mainan yang akan digunakannya untuk membidik.
Untuk mendapatkan boneka itu, tembakan Alvin harus tepat di papan sasaran yang sudah dibagi beberapa bagian kategori hadiahnya. Contohnya boneka beruang yang ditunjuk Aluna. Tembakan Alvin harus tepat mengenai angka 13 di papan itu.
Aluna tampak senang berdiri di sebelah Alvin. Memberi semangat seperti anak kecil yang sedang menyemangati ayahnya. "Aku ingin boneka berwarna coklat itu. Ya, yang itu," ucap Aluna sambil menunjuk.
Tak ingin malu dihadapan Aluna, Alvin segera melakukan aksinya. Mulai membidik sasaran dengan pistol mainan di tangannya.
Beberapa menit berlalu. Sudah berpuluh peluru Alvin tembakkan. Namun, diataranya tidak ada satu pun yang mengenai boneka yang berwarna coklat impian Aluna. Dia hanya berhasil mendapatkan beberapa kaleng soda dan hadiah hiburan lainnya.
"Kau hebat bisa mendapatkan semuanya." Aluna menunjukkan beberapa hadiah yang didapatkannya. Tapi tetap saja Alvin merasa kecewa karena belum bisa mendapatkan apa yang Aluna inginkan.
"Aku akan membeli lagi pelurunya."
Karena Aluna menyukai semua hadiah yang didapatkannya, Alvin merasa lega. Kemudian dia memberikan pistol mainan itu kepada Aluna. Memberi kesempatan Aluna untuk mendapatkan boneka itu.
Aluna memfokuskan pandangannya ke depan. Melihat bidikan dengan mata sedikit menyipit. Bukan hal sulit bagi seorang Aluna. Sudah beberapa kali dia pernah ikut latihan menembak saat sekolah dulu.
Aluna mengingat lagi saat dia diajarkan dulu oleh seniornya agar bisa membidik tepat sasaran.
Arahkan pistol ke arah bidikan dengan tepat. Bernapaslah dengan tenang, tahan napas lalu tekan pelatuk dengan lembut. Lalu tembak.
Dor! Tepat sasaran.
Dengan sekali tembakan, peluru mainan yang digunakan Aluna tepat mengenai nomer 13 hadiah yang diinginkannya. Hal tersebut sontak membuat Alvin tercengang. Dia tak menyangka kalau Aluna akan sehebat itu. Alvin menambah kagum dengan sosok Aluna.
"Selamat, Nona. Anda berhasil. Ini hadiah yang kamu inginkan." Pemilik mainan memberikan boneka beruang kepada Aluna.
"Terima kasih," ucap Aluna berbinar.
"Kamu sangat hebat. Apa kamu seorang sniper?" tanya Alvin polos.
Aluna terkekeh mendengar ucapan Alvin. Jelas jawabannya bukan, hanya saja dia memang ahli dalam urusan tembak menembak.
Sudah beberapa permainan di tempat itu mereka coba. Terlalu asik bermain dengan Aluna sampai dia lupa harus datang ke pertunjukan musik.
__ADS_1
"Tuan, maaf aku datang terlambat." Dengan napas terengah-engah sopir Alvin mendekati majikannya yang sedang asik bermain. Ya, dari satu jam yang lalu dia masuk ke dalam pasar malam, berjalan ke sana ke mari hanya untuk mencari keberadaan Alvin. Namun, karena terlalu banyak orang dia baru menemukannya sekarang, "aku sudah bawakan satu set baju dan sepatu ganti."
Keasikan bermain bersama Aluna, membuat Alvin lupa alerginya. Dia merasa tubuhnya bertambah energik. Dia yang bisa tidak mau kotor sedikit pun lambat laun melupakan. Alvin tak sadar kalau tubuhnya sudah banyak dipenuhi bentol-bentol merah.
Kedatangan sopir membuat Alvin ingat kalau dia ingin menghadiri acara musik klasik. Dia melihat jam di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Itu tandanya dia sudah terlambat.
"Alvin kenapa dengan tubuhmu? Kenapa banyak sekali bentol merah?" tanya Aluna membuka lengan baju Alvin.
Alvin diam saja. Dia tidak ingin menjelaskan kepada Aluna tentang alerginya. "Tidak papa mungkin aku tadi salah makan."
"Lihat wajahmu juga memerah. Apa sebaiknya kita pulang saja?"
Alvin tidak ingin terlihat lemah apalagi sampai Aluna mengasihaninya. Dia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Padahal tentu saja dia sedang menahan gatal di tubuhnya.
"Ini akan hilang sendiri sebentar lagi. Lihatlah, gedung bioskop itu! Bagaimana kalau kita menonton film?" Alvin menunjuk gedung bioskop yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Tentu saja Aluna mau. Dia begitu senang menerima tawaran Alvin.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan gedung bioskop. Awalnya Aluna menduga gedung bioskop itu telah tutup melihat tidak ada satu pun orang di dalamnya. Ya, dia tidak tahu kalau Alvin menyewa seluruh tempat itu agar bisa berkencan berdua dengannya.
"Masuk dulu. Aku ingin mengganti baju sebentar," kata Alvin menyuruh Aluna.
"Baiklah, aku akan menunggumu di dalam," jawab Aluna.
Perempuan yang memakai gaun berwarna merah muda itu sudah memasuki bagian dalam bioskop. Lampu bioskop masih menyala terang menandakan belum dimulainya pemutaran film. Sedikit ragu Aluna mendudukkan pantatnya di deretan bangku baris ke lima. Dia merasa lebih nyaman duduk di urutan nomer itu.
Aluna menggerakkan kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan. Tidak ada satu pun orang di sebelahnya. Aluna sempat berpikir apa Alvin salah memilih tempat.
Lima menit menunggu. Akhirnya Alvin yang sudah berganti baju memasuki gedung dalam bioskop. Baju yang dikenakannya kali ini lebih santai dari sebelumnya, hanya mengenakan kaos polos dan celana jeans panjang. Tentu saja baru kali ini Aluna melihat Alvin memakai pakaian casualnya.
Derap langkah Alvin selangkah demi langkah berjalan menuju bangku di mana Aluna duduk. Bibirnya tersenyum, tampak tangan satunya dia sembunyikan dibalik punggung.
"Ini untukmu," kata Alvin tiba-tiba sambil menyodorkan setangkai bunga mawar, "terima kasih sudah menemaniku malam ini."
Hah! Ekspresi keterkejutan Aluna terpampang jelas di wajahnya yang berbinar. Dia tak menyangka Alvin akan seromantis itu memberikannya setangkai bunga mawar, merah merekah sama seperti hatinya saat ini.
Aluna berdiri sejajar tepat di hadapan Alvin. Perempuan dengan tinggi 165 itu tampak serasi berdiri berhadapan dengan Alvin yang memiliki tinggi 185. Bibir mereka masing-masing menyunggingkan senyum termanisnya.
"Terima kasih Alvin," kata Aluna meraih bunga pemberian Alvin.
Bersamaan dengan itu lampu bioskop tiba-tiba padam, pencahayaan utama hanya bersumber dari layar bioskop yang sudah menyala semenjak Aluna datang. Itu pun hanya terlihat remang-remang.
Sunyi sepi, tak ada satu pun orang kecuali mereka berdua. Terlalu terbawa perasaan, tiba-tiba Alvin menarik dengan lembut pinggang Aluna. Memeluknya lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. Dengan naluri yang sama membuat keduanya tak sadar kalau sedikit demi sedikit bibir mereka akhirnya menyatu.
"Aku menyukaimu."
...###...
Halo, sambil menunggu novel ini update, yuk mampir di novel temenku. Kisahnya tak kalah seru dari novel ini.
__ADS_1
Hanya ada di Noveltoon.