
Dengan perasaan sedikit kecewa, Aluna memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia memanggil taksi untuk mengantarkannya pulang.
"Antar aku ke Mansion Wiratama," ucap Aluna seraya membuka pintu taksi.
"Baik, Nyonya."
Sekarang Aluna sudah duduk di kursi tengah. Dalam hatinya berpikir, kenapa kelakuan Helen sangat berbeda kali ini. Ya, walaupun dia baru mengenal Helen beberapa hari, sepertinya tak mungkin Helen berperilaku seperti tadi.
Perilaku yang ditunjukkan Helen, lebih mirip seperti Arabella adiknya. Aluna mengingat lagi kapan terakhir kalinya Ara memakan ayam goreng. Meskipun saat itu Aluna mampu membelikannya, namun, raut muka Ara tak bisa dibohongin kalau dia tak menikmatinya. Rasa hambar di lidahnya tak bisa merasakan nikmatnya ayam goreng. Tetapi, ketika melihatnya barusan, Aluna seperti mengingat lagi, saat Ara masih sehat.
Aku yakin dia Ara, gumam Aluna.
Saat itu juga Aluna teringat sistem. Gara-gara terlalu memikirkan Alvin. Aluna sampai lupa kalau dia memiliki sistem yang bisa dia tanyakan kapan saja.
Bodoh! Bukankah aku punya sistem! gerutu Aluna.
Saat itu juga Aluna menepuk kalung sistem.
"Miss K," panggil Aluna.
Pengemudi taksi melirik Aluna lewat spion dalam yang ada di atasnya. Diam-diam dia memperhatikan Aluna yang berbicara sendirian.
"Miss K. Di mana kamu? Kenapa tak menjawab?" Aluna kembali menepuk kalung sistemnya.
Karena saking penasaran dengan siapa Aluna berbicara. Pengemudi itu menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun, gumamnya. Lalu dengan siapa wanita itu berbicara? Katanya di dalam hati.
Kalung sistem berkedip.
...[Selamat malam, Nona Aluna.]...
"Haist, lama sekali kamu. Aku kira kamu tidak akan menjawab," ucap Aluna menggerutu.
^^^[Ha ... ha ... sistem sedang memantau dunia asli Anda.]^^^
Aluna menegakkan posisi duduknya. "Benarkah?" Lalu bagaimana keadaan tubuhku di dunia nyata?"
...[Dokter telah berhasil mengoperasi tubuh Anda. Sayangnya Anda masih dalam keadaan koma di rumah sakit.]...
"Tidak ada bagian tubuhku yang hilang, kan?"
...[Tidak ada Nona. Sayangnya Anda banyak sekali kehilangan Darah. Untungnya ada seorang lelaki yang mau mendonorkan darahnya.]...
"Lelaki? Siapa lelaki itu?" Aluna meninggikan nada bicaranya karena saking kaget.
__ADS_1
Mendengar Aluna berbicara sendiri. Sopir yang sedang fokus mengemudi merasa ketakutan. Dia menoleh ke belakang memastikan sekali lagi kalau dia hanya membawa satu penumpang.
"Aku sedang berbicara di telepon," ucap Aluna menunjukan handphonenya. Tentu saja dia sedang berbohong agar sopir tidak curiga apalagi sampai ketakutan.
"Aku pikir Nona ... " Pengemudi kembali fokus menyetir mobilnya.
Aluna tersenyum dengan menunjukan giginya. Dia malah berakting sedang menelepon seseorang agar tak dicurigai lagi.
"Katakan siapa lelaki itu, Miss K?"
...[Anda akan tahu nanti, Nona. Lelaki itu adalah lawan Anda saat balapan mobil.]...
Aluna mengingat lagi kejadian sebelum dia sampai di dalam novel. Aluna ingat kalau dia sedang melakukan balap liar dengan dua orang lelaki. Siapa orangnya? Aluna sendiri tak pernah melihat wajahnya, karena saat dia akan memasuki arena balap mobil, dua orang lelaki itu sudah masuk ke dalam mobil masing-masing.
"Ah sudahlah, aku tak peduli siapa lelaki itu. Sekarang katakan padaku, apa Ara juga berpindah dimensi ke novel ini?" Aluna kembali berakting seakan sedang berbicara di telepon.
...[Ya, seharian ini Ara juga masuk ke dalam novel.]...
"Apa?!" Aluna terkaget, dia refleks menjatuhkan handphone di tangannya.
"Kenapa kamu tak memberitahukannya padaku dari tadi?" Aluna memarahi sistem, dengan tangan menunjuk-nunjuk ke kalungnya.
Sontak, pengemudi di depan langsung kaget. Yah, dari tadi dia memperhatikan Aluna. Semakin ke sini, Aluna terlihat aneh, apalagi saat dia menunjuk-nunjuk kalung yang sedang dipakai Aluna.
Apa dia kurang waras? Atau jangan-jangan ada seseorang di sebelahnya? batin sopir taksi bergidik ngeri. Dia yang ketakutan masih berusaha mengemudikan mobilnya agar tetap fokus.
Jawaban sistem membuat Aluna jengkel. Menurut Aluna, sistem sangat egois dan tak punya empati.
"Sekali lagi kamu seperti itu, aku akan buang kalung ini ke laut!" bentak Aluna.
Lewat sepersekian detik. Aluna kembali meraih handphone dan menelepon Helen. Dia ingin segera berbicara dengan Ara, dan memberitahukan kalau dia adalah kakaknya.
"Halo, Ara," kata Aluna begitu telepon diangkat.
^^^"Ara? Siapa Ara? Kenapa kamu memanggilku dengan nama itu? Hah, tumben kamu meneleponku," jawab Helen.^^^
Aluna. "???"
Ternyata Ara sudah bertransmigrasi lagi ke tubuhnya. Kerena sistem sedang tidak stabil. Tubuh Ara dan Helen sering bertukar posisi. Tepatnya ketika Helen tertidur, secara otomatis akan berganti menjadi Ara. Begitu pula sebaliknya, ketika Ara tertidur kembali, maka akan berganti menjadi jiwa Helen.
"Apa kamu baik-baik saja? Aku Aluna kakakmu." Aluna berkata dengan keragu-raguan.
^^^"Hah! Tumben sekali kamu menanyakan kabarku? Apa kamu sedang kehabisan obat?" Helen yang ada di tempat tidur, tertawa sinis.^^^
__ADS_1
"Kamu Helen atau ..."
^^^"Buang-buang waktu berbicara denganmu!"^^^
Telepon dimatikan oleh Helen.
Aluna terdiam sejenak sambil mengatur napasnya. Dia menepuk lagi kalung sistem.
"Miss K, kamu bilang Ara ikut berpindah dimensi? Kenapa dia malah sinis menjawab teleponku? Apa kamu sedang membohongiku?" Aluna kembali memarahi sistem.
...[Benar, yang barusan Anda telepon adalah Helen. Beberapa menit yang lalu Arabella tertidur dan digantikan dengan jiwa Helen kembali.]...
Aluna mencerna kembali kata-kata sistem.
"Apa maksudmu? Jadi aku terlambat menemui adikku? Aku benar-benar marah denganmu, Miss K."
...[Ha ... ha ... tentu tidak terlambat, Nona. Karena Ara akan kembali lagi saat Helen tidur. Sementara ini, Anda bisa menemui adik Anda lagi.]...
Mendengar perkataan sistem. Wajah Aluna berbinar senang. Ternyata dia tidak terlambat. Masih ada waktu lain untuk dia menemui Ara dan berbicara banyak di dunia novel.
"Terima kasih, Miss K. Aku sangat senang mendengarnya. Aku tidak sabar bertemu dengan Ara di sini."
Melihat Aluna yang tersenyum-senyum sendiri. Membuat pengemudi kembali ketakutan. Dia tak tahan dan memberhentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Aluna.
"Apa Anda yakin tujuan Anda adalah Mansion Wiratama," tanya sopir meragukan Aluna. Dia pikir Aluna adalah pasien sakit jiwa yang kabur dan sedang menghalu sebagai keluarga kaya. Lebih takut lagi kalau Aluna tak memiliki uang untuk membayarnya.
Aluna menatap sinis sopir itu. "Tentu saja iya. Apa kamu kira aku sedang berbohong dan tak bisa membayar ongkos taksimu." Saat itu juga Aluna mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di sebelah sopir, "jangan banyak bicara. Cepat antar aku ke sana."
Melihat uang yang banyak, ketakutan pengemudi langsung menghilang. Uang yang diberikan Aluna sangat banyak dan lebih dari ongkos tarifnya. Saat itu juga dia tak memperdulikan lagi kenapa Aluna berbicara sendirian. Baginya, tidak masalah takut sebentar, yang penting dia sudah mendapatkan uang yang banyak.
"Terima kasih, Nyonya. Aku akan antar dengan selamat. Maaf tadi aku tidak bermaksud merendahkan Anda."
Mobil kembali melaju menuju mansion Alvin. Aluna berniat mengambil beberapa baju untuk menginap beberapa hari di rumah Hideon.
***
Di Kamar Helen.
Baru sebentar tidur. Helen terbangun oleh dering panggilan di teleponnya. Dia yang belum sadar betul, sangat kaget begitu mengetahui yang meneleponnya adalah Aluna. Tentu saja Helen marah, karena Aluna telah mengganggu istirahatnya.
Helen merasa ada yang aneh di tubuhnya sekarang. Sebelum dia bangun di kamarnya, Helen merasa ada di ruangan berbeda. Ya, menurut Helen ruangan itu lebih mirip rumah sakit dibandingkan dengan kamarnya. Helen juga merasakan sakit yang amat di tubuhnya. Apalagi saat melihat tangannya yang sedang di infus. Baru beberapa jam dia kebingungan, seorang menyuntikan obat di infus dan membuatnya kembali tertidur lagi.
__ADS_1
Kini, dia sudah bangun dan berada lagi di kamarnya. Helen mencoba mengingat lagi apa yang sedang terjadi. Namun, ingatannya seperti buntu dan membuatnya kebingungan.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganku?" tanya Helen pada dirinya sendiri.