TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
215


__ADS_3

Alvin mengambil ponsel, hendak menghubungi Aluna. Dia ingin cepat-cepat mencari Zero kembali. Entah mencari kembali ke tempat kemarin, atau ke tempat lainnya. Dia tak peduli yang penting dia harus pergi mencari anaknya.


"Luna, apa kau sudah bangun?" tanya Alvin.


"Yah, aku sudah bangun."


"Apa tidurmu nyenyak?"


"Heum ... memangnya kenapa? Apa kau bermimpi buruk tentang anak kita tadi malam?" tanya Aluna seakan mengerti isi hati Alvin.


Alvin menghapus keringat di dahinya, masih teringat jelas mimpi buruk yang baru dialaminya tadi malam. Tak ingin membuang waktu lama, Alvin mengajak Aluna agar menemaninya mencari Zero lagi.


"Kau benar, Luna. Ayo kita cari lagi Zero. Aku sudah mengirimkan foto Zero kepada temanku, agar bisa mencari keberadaan Zero lewat foto identitasnya."


"Lalu apa hasilnya? Di mana Zero sekarang?" tanya Aluna penasaran.


"Keberadaan Zero tak terdeteksi lokasi pastinya. Tapi, temanku bilang, Zero tinggal di sebuah pedesaan terpencil. Desa itu tidak jauh dari pegunungan yang kemarin kita datangi," kata Alvin.


Aluna yang baru membuka mata, langsung menegakkan tubuhnya lalu berjalan menuju lemari. Dia sedang memilih baju yang akan dia pakai untuk mencari Zero.


"Kita harus bergerak sekarang. Jemput aku ke rumah sekarang," kata Aluna.


Keduanya lalu memutuskan mengakhiri telepon. Tadinya sebelum telepon berakhir, Aluna sempat menanyakan kabar keluarganya, Aluna bertanya apa yang dibicarakan keluarganya tadi malam tentang dia. Saat itu Alvin hanya menjawab tidak ada masalah.


Di kediaman Hideon. Aluna sudah mandi dan berganti baju. Baju yang dia kenakan kini lebih kasual tidak seperti biasanya saat bekerja.

__ADS_1


"Sepertinya kakak mau pergi?" tanya Ara dari belakang ketika Aluna sudah keluar dari kamar.


Aluna menoleh, dia baru ingat kalau adiknya sudah bertransmigrasi kembali. "Kenapa kau belum mengganti baju, Adik? Bukankah sekarang waktunya bekerja?" tanya Aluna mengingatkan adiknya.


Ara terdiam beberapa detik. Bekerja? Bahkan dia tak tahu kalau harus bekerja.


"Apa Helen sudah dibolehkan bekerja di perusahaan kakak ipar lagi?" tanya Ara.


Aluna mengangguk, kemudian menarik Ara masuk ke kamar Helen, menyuruh wanita itu agar cepat berganti baju untuk bekerja. "Kau harus bekerja, sekarang sudah hampir jam tujuh. Alvin tidak suka ada pegawai yang telat masuk ke kantornya," kata Aluna lagi.


Wanita dengan kulit putih itu, memilihkan baju formal untuk Ara. Aluna tahu, pasti Ara akan kebingungan mengingat belum pernah sekali pun dia bekerja. Apalagi bekerja sebagai sekretaris di kantor Alvin.


"Ta-tapi, Kak. Aku tidak bisa menjadi sekretaris. Lagipula, aku tak punya keahlian di bidang itu. Kau tahu, kan aku hanya sekolah sampai menengah pertama. Lebih baik, kakak ajak saja aku keluar." Ara tak ingin memakai baju yang diberikan Aluna.


"Tidak, tidak. Kalau kau menempati tubuh Helen, kau juga harus mengikuti kesehariannya. Ingat, Mona sedang mencurigai kita! Sekarang ganti bajumu, kalau ada apa-apa aku akan menghubungi Noah untuk membantumu bekerja nanti," kata Aluna.


Aluna menggeleng dan menjelaskan kalau dia izin tidak bekerja hari ini. Dia mengatakan ingin mencari kembali Zero bersama Alvin.


"Tapi aku ingin ikut mencari ponakanku. Pasti dia sangat lucu dan tampan," kata Ara. Dia sudah membayangkan wajah Zero pasti perpaduan antara Alvin dengan kakaknya.


"Aku dan Alvin pasti akan sibuk mencari Zero seharian. Harus ada seorang yang bertanggung jawab di perusahaan hari ini. Aku yakin kamu bisa melakukannya, Ara. Kalau aku sudah menemukan Zero, aku segera mengabarimu cepat."


Ara akhirnya setuju. Lagipula impiannya dari dulu adalah ingin bekerja dan menjadi seorang sekretaris.


"Baiklah, aku akan bekerja hari ini. Hati-hati, Kak. Kalau ada kabar apa pun, aku juga akan mengabarimu," sahut Ara.

__ADS_1


Tak lama keduanya lalu berpisah. Aluna segera turun ke lantai satu hendak menunggu Alvin menjemputnya.


***


Alvin berjalan pelan melewati Nenek dan ibunya yang sedang merapihkan bunga-bunga di halaman depan. Sebelum pergi, dia sempat memberi salam kepada ibu dan Neneknya dahulu.


"Tunggu, Alvin."


Panggilan Clara langsung menghentikan langkah Alvin dan membuat lelaki itu terdiam di tempat.


"Tunggu, mau ke mana kamu? Penampilanmu tak seperti biasanya? Mau ke mana kamu, Alvin?" tanya Clara berjalan mendekati Alvin.


Alvin menarik napas, lalu mengembuskan perlahan. "Aku ingin menjemput Luna dan membantunya mencari anak kami."


Mendengar ucapan Alvin, mata Clara melotot. Bisa-bisanya Alvin mengatakan kalau anak Luna adalah anak kami. Darah Clara mendadak mendidih apalagi saat Alvin mengatakan kalau dia ingin ikut mencari anak Luna.


"Alvin! Sudah aku katakan kalau Luna itu tak baik! Bisa-bisanya kamu hendak membantu wanita itu untuk mencari anaknya. Aku tidak setuju! Cepat ganti baju dan bekerjalah seperti biasa! Jangan membuang-buang waktumu dengan wanita murahan seperti Luna!" bentak Clara.


"Ibu, aku akan menjelaskan semuanya nanti. Bukankah ibu menginginkan seorang cucu lelaki? Diamlah di rumah dan aku akan mendapatkannya sebentar lagi," kata Alvin memberi pengertian.


Akan tetapi, Clara saat ini tak bisa berpikir jernih. Dia tak punya pikiran sama sekali kalau anak yang mereka cari memang benar cucu kandungnya. Clara sudah dihasut oleh Lily dan Yuze, kalau anak yang dibuang Luna adalah anak selingkuhannya. Clara tidak akan percaya sebelum dilakukannya tes DNA terhadap anak itu.


"Alvin, sadarlah! Otakmu sudah dicuci oleh penyihir itu! Aku tidak mau cucu yang bukan dari keturunan asli kami. Cepatlah kembali bekerja! Ini semua bukan wewenangmu lagi, Aku sudah menyuruh Yuze untuk mencarinya," kata Clara tak mau bernegosiasi. Hatinya benar-benar kesal karena Alvin tak mau menurut.


"Ibu, Zero adalah cucu kandungmu. Tanpa izin dari ibu, aku akan tetap mencari Zero hari ini. Permisi!"

__ADS_1


Alvin sudah kehabisan kata-kata dan tak mau berdebat. Saat itu juga dia berjalan cepat dan pergi meninggalkan Clara yang masih memarahinya di belakang.


__ADS_2