
Dengan langkah pasti, Aluna mendatangi tempat di mana Yuka bekerja. Ketika langkahnya sudah memasuki ruangan resepsionis, seorang karyawan mengawasinya dari jarak dekat. Menyapanya lalu menanyakan apa yang mereka bisa bantu kepada Aluna.
"Bisa panggilkan aku Nona Yuka?" Aluna langsung saja bertanya tanpa basa-basi.
"Apa Anda sudah membuat janji dengan Nona Yuka?" Seorang resepsionis balik bertanya.
"Tentu saja," sahut Aluna.
"Baik! Kalau begitu aku akan menghubungi Nona Yuka lewat telepon, beritahu kami siapa nama Anda, Nona?" tanya resepsionis itu lagi.
"Mmm, namaku Helen. Pasti dia akan mengenalnya." Aluna terpaksa berpura-pura menjadi Helen agar Yuka mau menemuinya.
Benar saja, ketika resepsionis selesai menelepon, mengatakan kepada Yuka kalau Helen hendak menemuinya, wanita itu langsung mengijinkan Aluna datang ke ruangannya.
"Nona boleh langsung menemui Nona Yuka di lantai tujuh," ucap resepsionis kepada Aluna.
Setelah mengucapakan Terima kasih, gerakan Aluna mendadak sigap, langsung bergegas menuju ke arah lift yang akan mengantarkannya ke lantai tujuh.
Kali ini aku harus berhasil mendapatkan bukti.
Aku akan melakukan apa pun agar wanita sialan itu mau mengaku!.
Tentu saja Aluna sudah menyusun strategi saat masih di rumahnya, ia sudah merencanakan agar Yuka mau mengakui perbuatannya. Aluna merasa yakin kali ini ia akan berhasil membuat Yuka membuka mulutnya.
Ketika pintu lift terbuka, dengan langkah cepat Aluna menuju ruangan Yuka yang letaknya paling ujung. Melewati beberapa ruangan yang sudah sepi, hanya terlihat dari jauh pintu ruangan Yuka yang terbuka. Menurut resepsionis, wanita itu sedang bekerja lembur sore ini.
Aluna berdiri di depan pintu sambil terus memperhatikan Yuka yang tengah bekerja. Ya, wanita itu sedang sibuk dengan komputer dan beberapa tumpuk kertas di depan mejanya.
__ADS_1
"Jadi kamu adalah Yuka? Wanita yang sudah memfitnahku dengan video mesum itu!" tegas Aluna.
Mendengar ada orang yang memanggil namanya, Mata Yuka melebar sempurna menoleh ke arah Aluna yang sudah ada di depan pintu, melihatnya dengan tatapan sinis seperti hendak membunuh. Terperanjat sudah pasti! Yuka langsung berdiri, berpikir untuk kabur adalah pilihannya saat ini.
"Ka-kamu!" ucap Yuka terbata.
Ternyata benar apa yang dikatakan Helen kalau Luna akan menemuiku, batin Yuka ketakutan.
Yuka memundurkan langkahnya pelan, hendak berbalik arah meninggalkan ruangan itu. Sayangnya Aluna sudah lebih dulu mengunci pintu lalu berjalan cepat mencekal tangannya.
"Jangan kabur! Aku sudah tahu siapa kamu." Aluna mencengkeram kasar pergelangan tangan Yuka.
Yuka yang merasa terancam, berniat melepaskan tangganya mendorong Aluna lalu melempar tas ke arahnya. Sayangnya tangan Aluna begitu kencang mencekalnya, membuat Yuka kesulitan melepasnya.
"Lepaskan, Aku!" seru Yuka.
"Mengaku lah kalau kamu adalah wanita dalam video itu!" Aluna menatap tajam Yuka, seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
Bug!
Aluna yang semakin geram dengan sikap Yuka yang terus mengelak akhirnya melayangkan pukulan mengenai wajahnya.
"Jangan mengelak! Atau aku akan memukulmu lagi!" pekik Aluna keras.
"Aku bahkan tidak mengenal Anda, Nona."
Bug!
__ADS_1
Sekali lagi Aluna memukul Yuka dengan tangannya. Wanita itu sudah dua kali memukul Yuka tepat mengenai rahang dan wajahnya.
"Nona! Apa yang Anda lakukan? Apa salahku? Aku bisa saja memenjarakan Anda karena memukulku," rintih Yuka sambil terus merangkak mendekati pintu.
"Toloooong!" teriak Yuka keras.
Untung saja rungan itu kedap suara, sekeras apapun Yuka berteriak tidak akan ada orang lain yang mendengarnya. Ditambah lagi hanya tinggal mereka berdua yang ada di lantai tujuh. Membuat Aluna bisa leluasa memberi pelajaran kepada Yuka.
Karena pukulan dari Aluna, membuat wanita itu terhuyung ke depan, mengakibatkan darah segar keluar dari lubang hidungnya. Sakit, sudah pasti! Yuka merintih kesakitan lalu mengusap darah dengan punggung tangannya.
"Apa salahku? Lalu kenapa kamu begitu ketakutan ketika melihatku tadi?" Aluna menarik rambut Yuka yang sedang tersungkur di lantai.
"Aku tidak mengenal siapa Anda! Lepaskan aku!" teriak Yuka kesakitan menahan rasa pedas di rambutnya.
Yuka yang merasa lemah dan babak belur karena pukulan Aluna, tangannya mencoba meraih gagang telepon yang ada di meja dekatnya. Hendak meminta bantuan dengan menelepon resepsionis di bawah.
Tak.
Sayangnya karena terlalu jauh meraihnya, telepon itu jatuh ke lantai. Dengan gerakan cepat, Yuka berusaha mengambilnya lagi.
Krek.
Belum sampai tangannya memegang gagang telepon, Aluna sudah lebih dulu menginjaknya dengan kaki kanannya.
"Apa kamu mengingat baju ini?" Aluna mengambil kantong putih di dekatnya lalu membuka lebar baju yang ada di dalamnya.
Yuka langsung mendongakan kepala melihat seksama baju yang dipegang Aluna di hadapannya.
__ADS_1
Tentu saja Yuka tak mengakuinya, ia menggeleng, mengelak terus-menerus dan membuat Aluna yang di depannya semakin terbawa emosi. Sekeras apa pun Aluna memukulnya, ia tetap tak mau mengakuinya.
"Bahkan aku dapat menemukan DNA yang tertinggal di baju ini. Mengaku lah! Kamu tidak bisa mengelak lagi, Yuka!"