
Pagi hari di rumah keluarga Han. Zero sudah selesai memasak, merapihkan kayu bakar dan nenyapu halaman luar. Zero anak yang rajin, dia tak mau orang yang menjadi orang tua asuhnya kecewa karena telah merawatnya, apalagi kalau mereka sampai menjualnya lagi.
"Di mana anak itu, istriku?" tanya pak Han ketika pulang dari rumah tetangga.
"Dia sedang di belakang," jawab Bu Han enteng.
"Kenapa anak itu masih kau suruh beberes rumah? Dia adalah pohon uang, jangan biarkan anak itu sampai sakit."
Mata Bu Han mendelik, bibir atasnya terangkat sedikit. "Dia hanya membantuku memasak. Asap dari dapur tak akan membuatnya sakit. Justru dia akan semakin mandiri," kata Bu Han.
"Tapi tak seperti itu juga. Ini terlalu pagi, dan kita membiarkan anak itu memasak sambil kedinginan."
"Kedinginan gimana? Lihat dia sedang membuat api, sebentar lagi juga akan merasa hangat. Sudahlah jangan terlalu manjain anak orang. Orang tuanya saja tega membuang!"
Bu Han selalu tak mau kalah dari suaminya. Meskipun mereka sama-sama jahat, tapi suaminya lebih pengertian. Menurut Pak Han, meskipun Zero bukan anaknya, kalau dia sampai sakit atau pun mati di rumahnya, itu akan menjadi masalah besar.
Pak Han mengintip dari bilik, melihat Zero sedang fokus meniup tungku api. Kayu bakar di rumah mereka tidak terlalu kering, sehingga amat sulit bagi Zero untuk menyalakan apinya agar merata.
"Anak itu sangat cerdas. Lihat, dia sangat pintar mengatur strategi agar api itu cepat merata. Di umurnya yang masih sangat kecil, dia mengerti letak arah angin. Aku penasaran dengan orang tua anak itu. Aku yakin kepintarannya diturunkan dari orang tuanya," kata Pak Han.
Menurut pak Han, kalau dibandingkan dengan anaknya. Zero sangatlah berbeda jauh. Zero sangat kecil, namun dari kepribadiannya, ada sosok orang dewasa di dalamnya. Zero kecil juga sangat patuh, tak sekali pun melawan atau pum membantah seruan mereka.
"Suamiku, uang lima juta sudah ada di tangan kita sekarang. Kita gunakan uang ini agar bisa bisa utung beberapa kali lipat," ucap Bu Han. Dia terus menghitung lembaran demi lembaran, takut uang tersebut nilainya berkurang.
"Aku menurut saja. Rencana apa yang sudah kamu buat agar uang ini bertambah?" tanya Pak Han.
__ADS_1
"Kita gunakan uang ini untuk modal berjudi. Kebetulan di kota sedang diadakan judi Domino besar-besaran. Hadiahnya sangat menggiurkan, setiap seratus pemain maka, separuhnya akan menjadi pemenang. Kita bisa gabung ke grup para jawara. Aku sendiri sudah memiliki kenalan master judi, agar dia bisa menggaet kita memenangkan hadiahnya." Bu Han memberi usul.
"Ide bagus, itu berarti kemungkinan kita untuk menang akan semakin banyak," sahut Pak Han, "tapi bagaimana dengan anak itu? Tidak mungkin kita membawa dia saat sedang berjudi. Bisa-bisa ada yang menculik dan menjual anak itu agar dijadikan budak."
Bu Han tampak berpikir keras. Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Bu Han menemukan solusi. "Kita titipkan anak itu pada kakakku. Kalau hanya sehari, dia tak akan keberatan. Apalagi kalau kita berikan uang sebagai jasa asuhnya," kata Bu Han.
Bu Han selalu mendominasi setiap ada acara apa pun. Suaminya hanya bisa menurut, dan mengikuti cara yang sudah direncanakannya. Pagi itu setelah Zero merebus telur untuk mereka makan, mereka bersiap berkemas ingin pergi ke kota untuk berjudi.
"Zero," panggil pak Han.
"Iya, Paman."
"Pakai mantel ini. Ini adalah kepunyaan anakku, walaupun kebesaran, setidaknya bisa menghangatkan tubuhmu di perjalanan," kata Pak Han.
"Memangnya kita mau ke mana, Paman?" tanya Zero. Setiap kali orang tua asuhnya mengajak pergi, dia selalu merasa takut. Zero langsung memakaikan mantel berukuran besar itu ke tubuhnya yang kurus.
Pak Han menghela napas berat. "Tapi dia akan kedinginan di jalan. Biarkan saja, kita hanya meminjamkannya sehari ini."
"Tidak bisa! Pakai saja selimut itu." Tunjuk Bu Han pada selimut bekas Zero tidur, "cepat, aku tunggu kalian di luar."
Mau tak mau Pak Han menurut, melepas mantel di tubuh Zero lalu menggantinya dengan selimut menutupi bagian atas tubuh Zero. "Paman ada perlu di kota. Untuk sementara kamu tinggal di rumah kakak ipar dulu. Tenang saja, kamu tak akan kesepian karena banyak sekali teman sebayamu di sana. Kamu bisa bermain bersama mereka agar tidak bosan," kata Pak Han sambil tersenyum. Kemudian menuntun Zero keluar. Zero hanya mengangguk tak berdaya.
**
Satu jam berlalu kini mereka sudah sampai kota ini yang mereka tuju. Pak Han menggandeng tangan Zero lalu berjalan menuju sebuah rumah berukuran paling kecil dari rumah lainnya. Dari kejauhan mereka melihat seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan sedang memintal benang dari ulat sutera.
__ADS_1
"Miwa, bagaimana kabarmu?"
Suara Bu Han tak asing di telinga perempuan yang dipanggil Miwa itu. Dia mendongakkan kepala, lalu melihat lekat-lekat ketiga orang di depannya. Perhatiannya fokus tertuju pada Zero yang tertutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Han, siapa anak ini? Kenapa wajahnya sangat tampan sekali? Ini bukan anakmu, Kan?" tanya Miwa. Dia bergegas turun, lalu mendekati Zero. Di tempat Miwa tak ada anak yang lebih tampan dari Zero.
"Miwa, aku ingin menitipkan anak ini sebentar. Hanya sehari, aku ada pekerjaan yang harus kami selesaikan," jawab Bu Han.
Miwa memegang tangan Zero yang dingin, mengelus pipi Zero yang putih dan bibir tipis Zero yang sangat pucat. Dari auranya saja, Miwa yakin kalau anak itu bukanlah anak biasa.
"Siapa namamu?" tanya Miwa.
"Zero," jawab Zero pelan.
Miwa menarik Bu Han ke belakang, mempertanyakan asal-usul anak tersebut. Keduanya berbisik, Bu Han menjelaskan semuanya kepada Miwa dan memberikan beberapa uang agar dia tak banyak bertanya lagi.
"Jaga anak itu! Aku anak menjemputnya malam ini," kata Bu Han.
Miwa mengangguk lalu mendekati Zero, menyuruh anak itu duduk di tempat dia memintal. "Adik kecil, kamu akan tinggal di sini hari ini di rumah bibi. Malam nanti Bibi Han akan menjempumu lagi," kata Miwa setelah kepergian Han.
Zero tak mengangguk apalagi menggeleng. Dia hanya diam terus menunduk meratapi nasib dirinya. Zero yakin kalau kini, dia telah di jual lagi. Zero tak menangis, hatinya cukup kuat menghadapi kenyataan itu. Dia duduk di tepi meja sambil menemani Miwa memintal.
Sekian lama dia tertunduk lesu, tak sengaja sebuah bola jatuh tepat mengenai kakinya. Zero memandangi benda bulat berwarna merah tersebut lalu meraihnya.
"Hai, kau! Kembalikan bola itu cepat!" Seseorang meneriaki Zero.
__ADS_1
Zero mendongakkan kepala. Melihat satu persatu lima anak lelaki sedang menatapnya seperti orang asing. Satu anak berbadan gemuk, mendekatinya lalu mengambil paksa bola dari tangan Zero.
"Kenapa kau diam saja! Apa kau bisu?"