TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 253. Kecurigaan Lily dan Yuze


__ADS_3

"Yah, kau benar. Sebagai seorang adik harus menyayangi kakaknya, begitu juga sebaliknya," jawab Aluna berusaha tenang.


Helen tersenyum sambil memakan potongan buah yang dikupas Aluna barusan. Dia masih berpikir keras sambil terus memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Aluna.


"Aku ingin kakak menginap di sini menemaniku," ucap Helen sambil bertingkah manja.


Aluna terkesiap. Masih bersikap tenang seolah sedang memperlakukan Helen sewajarnya. Dia curiga tentang Helen, apa dia sudah mengetahui semuanya sehingga dia bersandiwara? Pikiran tersebut memenuhi otak Aluna sekarang. Dia harus tetap waspada, tidak boleh kalah cepat dari Helen.


"Helen, kamu tahu kan kalau Alvin tidak bisa aku tinggal. Dia tidak akan bisa tidur kalau tidak ada aku di sampingnya. Apalagi sekarang ada anakku. Zero pasti mencariku," ucap Aluna memanasi, "lihat, sekarang saja anak dan suamiku mengirimkan banyak pesan. Menyuruhku agar cepat pulang." Tambah Aluna sambil menunjukkan sederet pesan di ponselnya.


Hah, anak? Apa maksud dari ucapannya? Batin Helen. Dia sama sekali tidak tahu tentang Zero.


Aluna berusaha memancing emosi Helen agar membuka jati dirinya yang asli. Masih menunjukkan foto-foto mereka bertiga kepada Helen, Aluna terus memanasinya. "Kenapa kamu terlihat kaget? Kamu pasti senang melihatnya, bukan? Barusan kami habis jalan-jalan ke mall bertiga."


Wajah Helen tampak merah padam. Dia masih kaget dengan adanya Zero. Siapa Zero? Kenapa tiba-tiba ada anak di kehidupan mereka? Membuat Helen semakin pusing. Dia merasa sudah melewatkan banyak momen di kehidupannya.


"Jangan terlalu keras untuk mengingat sesuatu. Ingat pikiranmu belum stabil. Bisa saja kamu akan koma lagi kalau terlalu banyak berpikir," kata Aluna sambil tersenyum.


Helen kembali sadar dan cepat membuyarkan lamunannya. Tentu saja dia tak mau mengalami koma lagi. Karena kalau itu terjadi, di akan menghilang lagi dan berpindah ke tempat yang lain. Seperti sebuah mimpi buruk.


"Mommy datang." Sebuah suara menghentikan obrolan mereka berdua. Aluna dan Helen menoleh, melihat Mona sudah ada di dalam kamarnya.


"Kamu tidak perlu menunggunya. Aku yang akan menjaga anakku. Aku tidak mau kamu menyihir anakku lagi," ucap Mona sambil berjalan mendekati Helen. Kemudian dengan cepat mengambil beberapa potong buah dari tangan Helen.


"Helen, kamu tahu kan dongeng putri salju. Seorang penyihir memberikan sebuah apel dan menaruh racun di dalamnya. Dia sengaja menyuruh putri salju untuk memakan apel yang beracun itu agar bisa menyingkirkannya," kata Mona sambil memperlihatkan sebuah apel yang tadi dibawa Aluna, "apa kamu tidak curiga dengan apel yang dibawa wanita ini?"

__ADS_1


Aluna langsung berdiri, dia tersenyum dengan perlakuan Mona yang mengintimidasi. "Maaf, aku bukan penyihir dan anak Anda bukan putri salju. Lagipula untuk apa aku berbuat selicik itu kalau aku sudah mendapatkan segalanya. Suami yang kaya dan tampan dan seorang anak yang lucu. Mereka sangat menyayangiku dan aku sangat bahagia."


"Mommy, sudahlah," ucap Helen berpura-pura manis.


"Helen! Kamu tidak tahu dia adalah penyihir. Dia yang menyebabkanmu menjadi seperti ini. Yah, aku yakin dialah penyebabnya," kata Mona meluapkan emosi dengan menunjuk-nunjuk Aluna.


Helen langsung memberi isyarat agar Mona diam dan mengikuti permainannya. Helen punya cara sendiri dan tak ingin menunjukkan kecurigaannya langsung kepada Aluna. "Mommy, berpikirlah yang realistis. Sekarang dunia modern, mana mungkin ada sihir. Sudahlah duduk, kita satu keluarga harus rukun. Benarkan, Kakak?"


Tadinya Mona tidak mau diam dan terus mencecar Aluna, sayangnya Helen sudah memberi isyarat agar dia diam.


"Kamu benar, adikku."


Bodoh! Kenapa aku bisa keceplosan begini, gumam Mona menyesal.


"Ah' sudahlah lupakan saja. Maaf, mungkin pikiran Mommy sedang labil," kata Mona kepada Aluna dengan ekspresi yang lain, "aku sampai lupa ingin memberitahukan kalau Lily dan Yuze akan datang sebentar lagi."


"Baiklah tidak masalah! Sebaiknya aku pulang saja. Aku tak ingin menganggu diskusi kalian dengan Lily dan Yuze," ucap Aluna. Menunjukkan senyumnya yang penuh ironi.


***


Sepuluh menit setelah kepergian Aluna. Lily dan Yuze menepati janjinya. Mereka datang menjenguk Helen, membawakan beberapa makanan untuk Helen dan Mona.


"Jadi dia baru saja datang ke sini?" tanya Lily. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan sekaligus kecurigaan.


"Yah, aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan," kata Mona, "aku sudah mencurigainya sejak lama."

__ADS_1


Lily dan Yuze yang tadinya biasa saja, kini terlihat penasaran dengan apa yang dikatakan Mona. Mereka mendengarkan dengan saksama apa yang diceritakan Mona tentang Helen. Mengenai kecurigaannya dan menganggap Aluna melakukan praktik ilmu hitam untuk menjebak anaknya. Mona tidak berpikir kalau Aluna sedang berteleportasi.


"Tidak, Mom. Sepertinya bukan seperti itu kebenarannya." Helen mulai membuka suara, sambil terus memegangi pelipis karena pusing mengingat mimpinya.


"Apa maksudmu, Helen? Kenapa tadi kamu menyuruhku diam?" tanya Mona.


"Mom, aku yakin dia bukan Luna yang asli. Masalah ini sangat rumit. Aku belum bisa menjelaskan karena ini di luar nalar," kata Helen.


Lily mendekati Helen. Sangat antusias dengan pembicaraan Helen. "Katakan saja semua kecurigaanmu kepada kami."


Pikiran Helen masih abu-abu tentang Aluna. Dia sendiri masih belum yakin, yang dilaluinya kenyataan atau hanya sebuah ilusi. Helen sendiri masih terlihat bingung kenapa dia bisa tiba-tiba ada di rumah sakit bahkan di tempat mana pun.


"Aku berada di dunia lain sebelum berada di sini. Aku berada pada tubuh orang lain, menjadi orang lain," jawab Helen menggebu-nggebu, "dan yang ada di tubuh aku adalah orang lain sebelumya."


"Kamu gila!" ucap Lily dan Yuze berbarengan.


"Tidak, tidak! Aku yakin, aku tidak gila!"


"Helen! Berhentilah berimajinasi!" ucap Yuze lagi, "kamu terlalu depresi sampai berpikiran sejauh itu."


"Mommy, aku tidak berbohong!"


Mona berusaha menenangkan anaknya dengan memberikan air minum agar Helen tenang. "Tenangkan dirimu. Sebaiknya kamu beristirahat saja, Nak."


Melihat kondisi kejiwaan Helen yang seperti itu, membuat Lily dan Yuze ikut frustrasi. Dunia lain, orang lain, berpindah tempat, semua yang dikemukakan Helen di luar logika dan mereka tak mempercayainya. Kecuali Helen memberikan bukti yang nyata kalau dia telah bertransmigrasi.

__ADS_1


"Aku juga yakin kalian tidak akan percaya. Tapi tenang saja, aku akan cepat mencari buktinya," kata Helen dengan yakin.


__ADS_2