
Di Kafe Pinggir Jalan.
"Tunggu! Aku sedang tidak berulang tahun sekarang. Kenapa kamu memberiku hadiah?" tanya Ara.
"Kemarin kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Hadiah ini adalah salah satu bentuk terima kasihku, Nona." Noah menyodorkan permen kapas kepada Ara.
Karena melihat warnanya yang cantik, Ara pun tertarik. Tangannya lalu meraihnya. "Terima kasih," ucapnya kepada Noah. "Apa kamu sudah makan siang? Kalau belum aku akan mentraktirmu sekarang."
Sebenarnya perut Noah juga lapar. Namun, sekarang dia sedang tidak nafsu, lantaran pikirannya sedang sangat tertekan dan galau. "Aku pesan minuman saja," jawab Noah. "Bolehkah aku, duduk?"
Ara mengangguk, setelah Itu dia memanggil pelayan untuk memesankan minuman untuk Noah.
Sepuluh menit berlalu.
Setelah selesai makan, mereka berjalan bersama ke luar. Noah sedang malas pulang ke rumah. Begitu pula Ara, pikiran mereka sama-sama sedang tertekan.
"Tunggu, aku ingin membeli sesuatu dulu," ucap Noah. Lelaki itu lalu memasuki sebuah mini market. Rupanya Noah hendak membeli minuman dan sebungkus rokok.
Sebenarnya, Noah sudah memutuskan untuk berhenti merokok dari dua tahun yang lalu. Namun, entah mengapa kali ini hatinya begitu galau, pikirannya sedang berkecamuk, membuat dia ingin sekali melepaskan beban di pikirannya dengan mengisap benda berbahan dasar tembakau itu.
Setelah mendapatkannya, Noah mengajak Ara ke ruangan khusus perokok. Mereka terpaksa mencari tempat lain, karena di Negara mereka, tak mengizinkan siapa pun merokok bebas di tempat umum.
"Aku tak sengaja lewat di sini dan melihatmu di dalam kafe." Noah memulai pembicaraan sambil menyulutkan api di ujung rokoknya.
__ADS_1
Ara tak menjawab, dari tadi tatapan matanya tak beralih sedikit pun memperhatikan Noah. Dari cara lelaki itu menghembuskan asap rokoknya, dia seperti sedang melepaskan perlahan beban di pikirannya.
"Eum ... bolehkah aku memintanya satu?" Ara tampak ragu-ragu meminta rokok dari Noah.
Mendengarnya, dahi Noah langsung mengernyit. "Apa kamu perokok?" tanyanya balik.
Jawabannya tentu tidak. Tetapi karena Helen di dunia novel adalah seorang perokok. Otomatis, Ara pun bisa melakukannya.
"Aku tidak suka dengan wanita perokok dan pemabuk. Tetapi, kalau kamu mau ... ambillah!" kata Noah sambil mengembuskan asap rokok.
"Eum ... tidak jadi! Aku sebenarnya hanya ingin meringankan bebanku saja." Ara tersenyum getir. Dia masih enggan meniru kebiasaan Helen, walau dalam hatinya menginginkan.
"Apa kamu sedang banyak pikiran?"
"Apa wajahku sebegitu frustrasi kah?" Ara balik bertanya.
"Aku tidak akan menceritakannya, kalau kamu saja tidak mempercayai kalau aku bukan berasal dari sini," ucap Ara.
Noah melihat saksama ekspresi wajah Ara. Dia melihat sepertinya benar, kalau wanita itu memang sedang tidak berbohong.
"Aku percaya! Sekarang ceritakanlah!"
Mendengar Noah mempercayainya, Ara begitu antusias. Dia mendekatkan duduknya tepat di sebelah Noah.
__ADS_1
"Aku berasal dari dunia nyata. Ketika aku terbangun, aku tak sadar kalau jiwaku sudah bertukar dengan Helen. Wanita ini dan kamu adalah tokoh pendukung dalam novel yang aku baca." Ara menyentuh wajah Noah.
Noah terkekeh. "Apa? Jadi maksudmu aku ... tidak nyata?!"
Ara mengangguk. "Ya, kamu adalah tokoh yang sengaja di buat penulis untuk melengkapi karya fiksinya. Lebih tepatnya kamu ada, karena sebuah imajinasi."
Mendengar itu Noah menggeser sedikit posisi duduknya. Dia kembali menghembuskan asap yang dia isap dari rokoknya. Sedikit demi sedikit dia mulai mempercayai perkataan Ara tentang pertukaran jiwa. Namun, untuk mempercayai kalau dia adalah tokoh yang dibuat dari sebuah imajinasi, dia masih belum mempercayainya.
"Aku percaya dengan pertukaran jiwa. Kalau benar kamu bukan Helen, lalu siapa dirimu di dunia lain? Dan yang aku pertanyakan lagi, kenapa harus Helen yang kamu pilih raganya? Kenapa tidak wanita lain?" Noah mulai menatap lekat wajah Ara.
"Namaku Arabella. Aku berumur 19 tahun di dunia nyata. Aku seorang penderita leukimia. Aku tidak tahu kenapa aku di bawa kesini dan harus menjadi Helen. Aku ingin pulang! Kakakku Aluna sedang menjalani operasi. Dia pasti mencariku." Ara mulai menceritakan tentangnya.
Aluna? Nama yang tak asing! Batin Noah.
Noah terdiam dan terus membatin. Di saat Ara sedang mencurahkan isi hatinya. Tiba-tiba dari ambang pintu seorang perempuan sedang menatap sinis. Tangannya berkacak pinggang. Perempuan itu adalah, Lisa.
"Paman!" Teriak Lisa.
Lisa langsung mendekati mereka. Lisa menatap sinis ke arah Ara, dia melihat Ara dari ujung kepala sampai ke kaki. "Kamu! Bukankah kamu adalah sekretaris Paman Alvin?" ketus Lisa, "kenapa kamu berada di sini bersama pacarku?" Lisa menunjuk muka Ara.
Ara langsung berdiri. Dia melihat balik Lisa. "Pacar? Apa dia adalah pacarmu? tanya Ara kepada Noah.
Di saat itu juga, Lisa memegang tangan Noah berusaha menariknya keluar. "Lelaki ini pacarku. Lebih tepatnya calon suamiku! Paman, ayo kita pulang!"
__ADS_1
"Lisa! Apa-apaan kamu. Kita sudah putus! Aku bukan pacarmu lagi!" Pekik Noah menghempas tangan Lisa.
Lisa tak menyerah. Dia yang marah karena Noah tak mau pulang malah mendekati Ara. Perempuan itu lalu mendorong tubuh Ara dengan keras. "Jadi kamu wanita yang merebut pacarku, dasar Ja lang!"