TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bermain Game.


__ADS_3

Saking girangnya sampai Aluna memeluk tubuh Nenek Alma erat, tubuh wanita itu sedikit terguncang. Namun Aluna kembali tersadar kemudian.


"Maafkan aku, Nek" Aluna tersenyum kegirangan.


Nenek Alma mendapati itu balas tersenyum, dari raut muka Aluna, menurutnya ia sedang dalam keadaan senang dan tentu membuatnya ikut berbahagia juga.


"Tidak apa sayang. Luna, tolong ajari nenek game yang menembak itu. Nenek sangat penasaran dengan permainan bocah kecil yang nenek lihat beberapa hari yang lalu." Nenek Alma memberikan handphone ditangannya kepada Aluna.


Wajah Aluna normal kembali, baru berhasil misi pertama saja membuatnya begitu kegirangan apalagi kalau semua misi dapat ia selesaikan semuanya. Benar-benar menantang bagi seorang Aluna.


"Baiklah nek, Aku akan coba ajarkan untuk nenek. Pertama kita perlu cari karakter yang tepat dan senjata yang akan digunakannya dahulu, Nenek aku suka karakter ini, menurutku sepertinya kuat," ucap Aluna menunjuk salah satu karakter wanita dalam game yang akan dipilih.



Nenek Alma begitu takjub, sepertinya pilihan Luna sama dengan dirinya. Setelah memilih karakter, Nenek Alma sendiri yang memilih senjata apa yang akan ia gunakan dalam permainan gamenya.


Aluna menjelaskan secara terperinci bagaimana caranya memainkan game itu. Secara terbuka Nenek Alma begitu antusias mendengarkan arahan Aluna. Bahkan wanita tua itu sangat cepat mengerti, langsung saja ia memainkan game bersama Aluna.


"Hayo nek, tembak. Ada lawan diujung sana sedang bersembunyi," teriak Aluna menyemangatinya.


Wanita yang menolak tua itu sedang memainkan kedua jempol keriputnya menggulir ke atas lalu kebawah mengikuti arahan dari Luna. Tentu saja membuat emosinya benar-benar membaik. Nenek Alma begitu senang sampai ia ikut menggerakkan tubuhnya yang sedang duduk di atas tempat tidur.


"Luna, sepertinya nenek akan tertembak bagaimana ini--" Nenek Alma semakin seru dengan permainannya sampai tidak sadar dia akan kalah.


"Lompat nek, sembunyi di sebelah lorong. Lawan sudah semakin banyak mendekat. Tembak satu persatu nek! Tembak pakai tembakan jarak dekat." Aluna semakin terbawa suasana menyemangati Nenek Alma.


"Luna, nenek dikepung. Bagaimana ini, nenek akan mati--"


"Maju, Nek. Tembak lawan yang ada di ujung dulu. Tambah peluru nek!"


Berteriak bahkan sampai menepuk handphone Nenek Alma terlihat gemas karena karakter yang ia mainkan kalah berulang kali, namun wanita tua itu masih saja penasaran membuatnya bermain lagi dan lagi.


"Hiyah! Nenek menang! Selamat, Nek. Nenek hebat!"


Hampir tiga jam lamanya akhirnya Nenek Alma memenangkan permainan. Membuatnya begitu puas, Kalau tidak karena umur mungkin ia bisa bermain sampai pagi.


"Sudah malam, Nek. Sebaiknya nenek lanjutkan besok lagi. Luna temani nenek tidur ya.. " rayu Aluna agar Nenek Alma berhenti main game.

__ADS_1


Dengan berat hati Nenek Alma menuruti Aluna, tentu saja dengan syarat Aluna harus mengajak ia bermain game lagi.


"Selamat malam nek, mimpi indah." Aluna menyelimuti tubuh Nenek Alma yang sudah tertidur pulas. Bukan hal sulit ternyata menyuruhnya tidur.


Setelah setengah jam berlalu, Aluna tampak duduk termenung tidak jauh dari Nenek Alma. Memikirkan apa yang terjadi hari ini membuatnya ingin tersenyum sendiri.


Hari yang mengesankan. Gumam Aluna dalam hati.


Melihat Nenek Alma tertidur nyenyak, Aluna berniat bertanya lagi kepada sistem. Ia lalu menepuk kalung yang dipakainya sampai sensor menyala.


"Miss K, bukankah aku telah menyelesaikan misi hari ini, selain mengurangi satu hari disini lalu manfaat lainnya apa untukku?"


Sistem yang beristirahat lama kembali bersuara.


..."Nona Luna, karena Anda berhasil. Aku akan memberi tips dengan memberitahukan alasan perubahan sikap Alvin hari ini."...


Aluna masih terus mendengarkan sembari duduk di pojokan, "Katakan padaku Miss K." Sambil terus menguap Aluna mencoba memfokuskan pendengarannya.


..."Alasan Alvin pertama memberikan lagi kartu miliknya saat Anda turun dari mobil adalah karena takut Anda kehabisan uang di jalan. Alasan kedua, saat Alvin turun dari mobil dan menyuruh sopir untuk mengantar Anda, menunjukkan kalau ia peduli terhadap keselamatan nona, walaupun saat marah sekalipun."...


Aluna terkekeh mendengar penjelasan sistem kepadanya. Ia mencoba mengingat lagi kejadian hari ini.


..."Nona, Alvin belum memiliki pendirian sikap terhadap Anda. Kadang ia bersikap sangat menyukai Anda bahkan bisa juga bersikap acuh. Sikap Alvin tidak bisa diprediksi."...


Mendengar itu Aluna kembali cemas akan sikap Alvin kepadanya selanjutnya. Benar-benar pria yang aneh menurut pandangan seorang Aluna.


"Aku tidak peduli yang penting misi ku berhasil!"


Netra Aluna mulai meredup perlahan. Sempat-sempatnya sebelum ia benar-benar terlelap memikirkan bagaimana ia bisa meluruskan salah paham yang terjadi antara Luna dan Alvin mengenai tuduhan Alvin yang dilontarkan kepadanya.


Malam itu setelah mendengarkan ocehan sistem, Aluna benar-benar terlelap di sudut kursi kamar inap Nenek Alma. Hari ini benar-benar membuatnya kelelahan. Untuk pertama kalinya ia tertidur di dunia lain, dunia yang tidak pernah di impikannya itu.


***


"Bangun!" Sebuah tangan menyentuh bahu Aluna dengan kasar. Membuatnya yang terlelap terbangun kaget mendapati dua orang wanita berdiri di depannya. Satu orang diantaranya adalah orang yang Aluna kenal. Ya, Helen berdiri dengan seorang wanita paruh baya yang baru kali ini ia lihat. Tentu saja Aluna tidak mengenalnya sama sekali, namun dari raut wajah dan kelakuan kasar tangan wanita itu membangunkannya, sudah dipastikan kalau mereka adalah peran antagonis dalam novel ini.


"Bangun! Apa kamu tidak mendengarnya," ucap wanita disebelah Helen sekali lagi.

__ADS_1


Aluna mengucek kedua matanya yang sedikit berat karena masih mengantuk, dilihatnya nenek masih tertidur. Kemudian menoleh sebentar kearah mereka sembari menggerakkan tangannya menggeliat.


"Hoaeem! Apa tidak bisa dengan cara halus membangunkan ku!" ketus Aluna geram, jelas kedua wanita itu mengganggu tidur Aluna.


Kedua wanita memandang Aluna dengan tatapan sinis tidak suka, "Apa kamu tidak bisa membawa diri memberikan citra baik agar tidak bangun kesiangan!" celoteh Helen.


Aluna balik menatap sinis, matanya mulai terbuka sempurna. Baru saja bangun dari tidur sudah ada dua orang wanita yang menantangnya.


Dilihatnya lagi dua orang yang berdiri di depannya, Aluna melihat sekilas wanita bertampang masam berdiri di sebelah Helen.


Siapa lagi dia? batin Aluna.


Kakinya ia paksa agar berdiri, walaupun Aluna masih belum sadar sepenuhnya.


"Minggir, sepertinya aku perlu ke kamar mandi sebentar." Aluna mendorong tubuh Helen agar memberinya jalan menuju kamar mandi.


Helen tersenyum miring mendelik kesal kepada Luna yang berjalan mendekati kamar mandi yang ada di ujung ruang inap Nenek Alma.


***


Di dalam kamar mandi.


Setelah Aluna membasuh mukanya, ia kembali mengetuk kalung sistem miliknya.


..."Selamat pagi Nona Luna."...


"Miss K, bisakah katakan padaku siapa mahluk di sebelah Helen tadi?"


Sistem terkekeh.


..."Ha.. ha.. wanita itu adalah ibu tiri Anda, Nona"...


###


Akhirnya setelah sekian lama aku bisa update lagi novel ini. Author minta maaf dengan sangat karena sudah membuat teman-teman menunggu terlalu lama.


Terima kasih sudah mengikuti novel ini sampai sekarang.

__ADS_1


Jangan lupa sertakan like dan komentarnya agar novel ini terus lanjut sampai tamat.


__ADS_2