TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
214


__ADS_3

Seusai menelepon, Pak Han langsung menghampiri istrinya. Pak Han jalan terburu-buru melewati Zero yang sedang memakan mie.


"Istriku, ada informasi penting, bangunlah!" panggil Pak Han.


Bu Han yang sedang tertidur karena kekenyangan, langsung terkesiap. Baru beberapa menit terlelap, suaminya sudah menyuruh bangun.


"Dengarkan aku sekarang," kata Pak Han mengecilkan suaranya.


"Apa yang ingin kamu katakan? Cepatlah, jangan membuatku penasaran," sahut Bu Han tak sabaran.


"Anak itu ternyata anak orang kaya dan berasal dari keluarga bangsawan," kata Pak Han tersenyum menunjukkan sederet giginya.


"Apa?!"


"Iya, Sembo yang memberitahukannya tadi." Sekali lagi Pak Han menjelaskan.


Kedua pasangan suami istri itu mendadak diam saling melihat satu sama lain, timbul di benak keduanya hal apa saja yang akan menguntungkan bagi mereka nantinya.


"Sepertinya kita akan mendapatkan uang yang banyak. Biarkan saja dia di sini, kita akan kebagian uang empat juta setiap harinya sampai anak itu di jemput," kata Pak Han lagi.


Bu Han menengok keluar dari dalam pintu kamar, melihat Zero sedang asik memakan mie instan. Kalau diperhatikan saksama, aura Zero tampak berbeda. Walaupun anak kecil itu bertubuh kurus dan ringkih, air wajahnya menunjukkan kalau anak itu bukanlah anak yang biasa.


"Aku akan mengambil sebutir telur agar Zero kenyang. Kasian anak itu pasti masih lapar," kata Pak Han berjalan menuju lemari, di sana dia menyimpan beberapa butir telur.


Bu Han terperanjat, dia baru tahu kalau selama ini suaminya menyembunyikan telur di lemari. "Jadi selama ini kau menyembunyikan makanan di lemari, Hah? Jangan-jangan kamu juga menyembunyikan uang dariku!" bentak Bu Han.


"Tidak, istriku. Uang dari mana? Telur ini sengaja aku simpan kalau nanti anak kita berkunjung ke rumah. Aku sendiri tak akan memakannya. Kalau kamu mau kamu boleh memakannya satu," jawab Pak Han sambil menyerahkan sebutir telur.


Bagi keluarga mereka, telur adalah makanan mewah. Keluarga Han sangat miskin di desa itu. Mereka mencari uang dengan mengumpulkan sampah-sampah bekas lalu menukarnya ke pengepul. Sekarang sedang musim hujan dan sangat dingin, keduanya tak bisa bekerja. Anak kandung mereka pun terpaksa mereka titipkan kepada sanak keluarga lain.


Pak Han merasa Zero adalah pohon uang. Menurutnya, apa salahnya memberikan sebutir telur pada anak tersebut. Pak Han takut Zero akan sakit, kalau itu terjadi mereka tak akan mendapatkan uang banyak.

__ADS_1


"Makanlah telur ini, kau pasti sangat lapar," kata Pak Han menaruh sebutir telur di mangkok Zero.


"Terima kasih, Paman," jawab Zero.


***


Di pagi hari di rumah keluarga Han. Seusai makan tadi malam, Zero merasa kenyang sehingga tidurnya sangat nyenyak. Pagi ini, cuaca sangat dingin, membuatnya masih ingin terus bergumul di bawah selimut.


Sayangnya, beberapa kali ketukan pintu membuat Zero terbangun. Dia yang tidur dekat ruang tamu, mau tak mau harus bagun dan segera membukakan pintu.


"Siapa?" tanya Zero setelah pintu di buka.


"Pengantar uang," jawab orang tersebut dari luar.


Zero membungkus tubuhnya dengan selimut dan berjalan ke arah kamar Pak Han.


"Paman, ada orang yang mencarimu," teriak Zero.


"Dia bilang pengantar uang, Bibi," jawab Zero yang masih berdiri di depan pintu.


Mendengar Zero mengatakan yang datang adalah pengantar uang, Bu Han langsung terperanjat. Dia segera turun dari ranjang dan menggoyangkan bahu suaminya agar bangun. Terlihat bayangan uang yang akan memenuhi dompetnya di otak Bu Han.


"Kenapa tidurmu seperti kerbau. Cepat bangun, ada pengantar uang di depan," kata Bu Han, "cepat sebelum dia berbalik arah."


Tidak lama keduanya bangun dan terburu-buru menghampiri si pengantar uang. Wajah Bu Han yang bangun tidur langung tampak berseri, senyum di wajahnya langsung mengembang terus melihat ke arah tas yang dibawa pengantar uang, tak berkedip.


"Nyonya, ada titipan uang empat juta dari Tuan Sembo. Kata beliau, Anda bisa gunakan untuk keperluan keluarga dan Zero. Sebentar lagi, Nyonya Sembo akan menjemputnya," kata si pengantar sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang.


"Terima kasih, kalau seperti ini caranya dia boleh menitipkan anak itu selamanya," jawab Bu Han.


Si pengantar uang hanya mengangguk. Setelah menyerahkan uang tersebut, dia lalu pamit pergi.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu lalu bergegas masuk ke kamar. Mereka melewati Zero yang baru keluar dari kamar mandi.


Bu Han tak menoleh, dia bergegas masuk ke kamar lalu menghitung lembaran demi lembaran. Sementara Pak Han duduk di sebelah mendampinginya.


"Aku akan menggunakan uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita selama musim dingin, setelah itu akan menjemput anak kita. Biarkan bocah itu di sini, lagipula dia sangat mandiri dan bisa diandalkan untuk memasak," kata Bu Han kegirangan.


"Iya, tapi jangan lupa berikan anak itu makanan yang layak. Jangan sampai dia sakit," kata Pak Han mengusulkan.


"Diam saja kamu! Aku yang akan mengatur uang ini," sahut Bu Han memasukkan beberapa uang ke saku bajunya. Setelah ini dia akan pergi berbelanja.


Sementara di depan kamar Bu Han, Zero mendengarkan obrolan keduanya. Zero terduduk lemas, dia merasa sangat sedih dan berpikir telah dijual lagi.


Anak kecil tersebut kembali mengambil selimut lalu menutupkan ke tubuhnya lagi. Zero membayangkan kelak ada orang tua asuh yang benar-benar menyayanginya, dan memeluk dirinya saat kedinginan.


... ***...


Di sebuah kamar mewah, tampak seorang lelaki baru bangun dari tidurnya sambil berteriak.


"Zeroooo!!"


Ya, lelaki itu adalah Alvin. Alvin terbangun dengan napas menggebu. Barusan dirinya mendapatkan mimpi buruk. Alvin menyalahkan lampu kamar lalu melihat jam di dinding.


"Ternyata semuanya hanya mimpi," kata Alvin mengembuskan kasar napasnya.


Sudah pukul empat pagi. Kesadaran Alvin kini berangsur mulai membaik. Alvin sadar barusan dia bermimpi. Mimpi yang sangat buruk dan membuatnya benar-benar ketakutan.


"Zero, di mana kamu?"


Di mimpi itu dia melihat Zero sedang kedinginan, meringkuk di bawah guyuran hujan. Tak ada orang yang memperdulikannya, bahkan dia melihat seseorang memukulinya. Walaupun mimpi, dia yakin anaknya sedang tak baik-baik saja.


Alvin mengambil foto dan baju Zero yang dia ambil dari rumah Sembo. Dia melihat foto diri Zero dan membandingkannya dengan foto dia saat berusia lima tahun.

__ADS_1


"Semuanya sama, hanya pakaian dan bentuk tubuh saja yang berbeda. Anakku sangat tampan, aku yakin dia juga sangat kuat. Tunggu aku, hari ini aku akan mencarimu lagi, Zero." Alvin memandangi foto Zero sambil menitikkan air mata.


__ADS_2