
"Terima kasih, Paman sudah membantuku. Lihatlah sepertinya kantong plastik ini berisi benda yang sedang dicariku," ucap Aluna hendak membuka kantong plastik berwarna hitam.
Aluna masih menyangka paman petugas sampah lah yang memegang payung dan melindungi kepalanya dari air hujan. Tadinya dia ingin berdiri dan memegang payung sendiri. Namun, ketika dia menemukan kantong hitam yang menurut Aluna berisi pecahan beling, dia kembali fokus dengan sampah di tangannya.
Sayangnya, semenit kemudian Aluna kembali kecewa. Kantong itu memang berisi pecahan beling, tetapi bukan botol, melainkan gelas dan piring yang terbungkus kantong hitam. Hampir saja tangan Aluna mengenainya.
"Ternyata bukan benda yang dicariku, Paman." Aluna mengembuskan kasar napasnya dengan kecewa. "Paman, sebaiknya aku saja yang memegang payungnya. Aku tidak ingin membuat paman menjadi sakit karena menolongku," ujar Aluna masih belum menoleh.
Tak ada sahutan dari pemegang payung, membuat Aluna terdiam sesaat. Ya, walaupun hujan sangat deras, Aluna yakin dia tak mendengar paman petugas menyahutinya. "Kenapa Anda diam saja, Paman?" tanyanya lagi.
Karena tak menyahut lagi, Aluna yang dalam posisi berjongkok merasa tidak enak hati dan menaruh penggaruk besi di tanah. Aluna yang merasa lelah langsung berdiri dan menoleh.
Tiba-tiba saja Aluna dibuat kaget begitu melihat kenyataannya.
"... Alvin ...."
Mulut Aluna menganga, dia tak menyangka lelaki yang memegang payung itu adalah Alvin. Lelaki di depannya itu tampak basah kuyup terkena guyuran hujan. Alvin yang tidak biasa di tempat kotor dan kehujanan, tampak pucat, matanya pun memerah. Dia mencoba menguatkan tubuhnya demi Luna.
"Kenapa kamu tahu aku berada di sini?" tanya Aluna dalam posisi sama-sama berdiri.
__ADS_1
Sementara Alvin tak menjawab, dia hanya diam mematung memandangi Aluna dengan pakaian yang kotor dan basah. Dalam hatinya bertanya, 'kenapa bisa-bisanya wanitanya itu mencari pecahan botol di tempat sampah di tengah guyuran hujan seperti sekarang?' membuatnya seperti lelaki yang tidak berguna karena membiarkan istrinya bertindak sendirian.
Ya, Aluna tak menyadari kalau Alvin begitu khawatir, dari tadi mencari dan terus meneleponnya berpuluh-puluh kali. Beruntung Alvin sudah menaruh GPS di handphone milik Aluna, dia langsung mendapatkan lokasi dan menyusulnya di tempat sampah.
"Kenapa kamu tak memberitahukanku kalau ingin mendatangi tempat ini?" Alvin berkata sangat pelan, suaranya pun sedikit parau.
"Aku--"
Belum sempat Aluna meneruskan kata-katanya tiba-tiba saja Alvin memeluknya dengan erat membuat Aluna begitu tersentak karena kaget.
"Sudah ku bilang, biar aku saja yang mencarinya! Kenapa kamu tak menuruti kata-kataku? Aku sangat khawatir denganmu, Luna." Alvin tak peduli dengan baju Aluna yang kotor, dia pun tak memperdulikan alergi di kulitnya yang sudah memerah. Lelaki itu terus memeluk Aluna dengan erat.
Jelas hal itu membuat Aluna tak dapat membendung air matanya. Tiba-tiba saja cairan bening itu keluar sendiri dari ujung matanya. "Hiks ... maaf, aku hanya tidak ingin merepotkanmu, Alvin." Aluna berkata sambil menahan tangisnya.
Mendengar Aluna menangis, Alvin sangat tertekan. Dia merasa menjadi suami yang tidak berguna karena istrinya tak mau meminta bantuan darinya. "Apa aku terlihat tak berguna untukmu, Luna? Kamu wanitaku, dan aku tak bisa membiarkan--" Suara Alvin tercekat, karena dia pun ikut menangis.
Di saat mereka berdua sama-sama berpelukan dan menangis bersama, sensor di kalung Aluna menyala.
...[Selamat Nona Aluna, Anda telah berhasil menyelesaikan misi hari ini. Selamat Anda mendapatkan dua tas saran.]...
__ADS_1
Sistem menyatakan misi hari ini telah selesai 100%. Tugas Aluna yang merubah cerita yang harusnya menyedihkan karena terkena jebakan telah berhasil merubahnya dengan cerita yang sweet. Ya, interaksi keduanya di tengah guyuran hujan dan menangis bersama adalah cerita yang manis menurut sistem. Mereka terlihat romantis karena Alvin sangat peduli dengan Aluna.
Sementara dua tas saran yang diberikan sistem, lantaran yang pertama karena Alvin jauh-jauh datang menemui Aluna karena khawatir, dan tas saran ke dua diberikan karena Alvin yang seorang mysophobia tak memperdulikan alergi di kulitnya demi seorang Aluna.
Menurut sistem, hal yang sangat luar biasa dan manis karena Alvin yang tak biasa kotor, rela mendatangi tempat kotor dan bau seperti tempat pembuangan sampah, dia pun sampai tidak memperdulikan tubuhnya yang menggigil hanya untuk memenangi payung agar Aluna tidak kehujanan.
"Kamu terlihat konyol mendatangi tempat kotor seperti ini." Alvin mendorong pelan dahi Aluna dengan telunjuknya, "apa kamu yakin akan mendapatkan pecahan botol itu di sini?" tanyanya lagi sambil tersenyum.
"Tentu saja, karena yang aku tahu cafe itu membuang sampahnya di sini," jawab Aluna asal. Aluna tak mungkin mengatakan kalau sistem lah yang memberitahukannya.
Meskipun terlihat meragu, Alvin mencoba mempercayai Aluna. Dia pun menyuruh Aluna untuk beristirahat dan berteduh. "Beristirahatlah, biar aku saja yang mencarinya," ucap Alvin.
"Tapi bukankah ini sangat kot--" Belum meneruskan kata-katanya Alvin sudah lebih dulu menutup mulut Aluna dengan jarinya. Aluna tahu Alvin sangat gila kebersihan.
"Beristirahatlah!" Alvin mengulang lagi kata-katanya. "Asisten Jo ... ke marilah!" teriak Alvin memanggil sopir pribadi sekaligus asistennya.
Asisten Jo yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung berlari menghadap Alvin, "Ya, Tuan!"
"Temani aku mencari pecahan botol di sini!" seru Alvin, meskipun dia sedang menahan alerginya dia terus bersikap seolah kuat. Aluna yang bersikeras ingin membantunya pun tak diperbolehkan Alvin.
__ADS_1
"Terima kasih, suamiku!"