
Setelah sarapan pagi, Aluna kembali ke ruangan khusus sekretaris, tempatnya bersebelahan dengan ruangan Alvin. Baru melangkah dia dibuat tidak suka karena melihat Helen sudah duduk di belakang meja kerja miliknya.
"Minggir! Kenapa kamu duduk di sini?" bentak Aluna.
Helen menatap balik tidak suka. "Ini adalah meja kerjaku. Kenapa aku harus minggir?"
Aluna membalik papan nama yang ada di atas meja lalu menggantinya dengan nama dirinya.
"Keterlaluan kamu!" Helen berdiri lalu membaliknya lagi.
"Sudah aku bilang, cepat minggir atau aku lempar barang-barang milikmu keluar. Meja ini khusus untuk kepala Asisten. Pindah dan bawa barang-barangmu ke meja sebelah." Aluna meraih tas Helen lalu menaruhnya di meja sebelah.
"Kau! Semua pegawai di sini juga sudah tau ini tempatku! Untuk apa aku minggir!" Helen hendak mengambil tasnya lagi.
Saat Helen berdiri, Aluna buru-buru duduk di kursi itu, agar Helen tak menempatinya lagi. Dengan gerakan cepat tangan Aluna langsung merapihkan barang-barang Helen lalu menaruhnya sembarang ke lantai.
Helen sadar dan langsung mendekati Aluna lagi. "Hai, kenapa kamu menaruh barang-barangku di lantai." Raut wajahnya terlihat kesal dan menarik tubuh Aluna agar berdiri dan pergi tak menempati tempat duduknya lagi. Kelakuan mereka benar-benar seperti anak kecil yang sedang memperebutkan bangku di sekolah.
"Jangan bertingkah konyol, Helen. Aku sedang sibuk ingin mengerjakan seratus data yang akan dikirim ke Perusakan Axon. Kalau kamu menggangguku seperti ini, bagaimana aku bisa mengerjakannya." Aluna mempertahankan diri agar tetap mendudukinya.
__ADS_1
"Serahkan semuanya padaku. Aku sudah terbiasa mengerjakan seribu data dalam waktu satu jam. Aku yakin kamu tak akan sanggup melakukannya," kata Helen mencibir Aluna. Dia lalu menarik kertas yang dipegang Aluna.
"Ini dokumen penting. Jangan asal tarik nanti bisa sobek," kata Aluna mengambil secarik kertas yang diambil Helen.
"Menyerah lah. Ini adalah tugasku!"
Mendengar Helen meragukannya. Aluna tak mau kalah. Dia langsung menantang Helen detik itu juga. "Aku bahkan bisa mengerjakan lima biru data dalam waktu satu jam. Satu banding lima, kamu tak ada apa-apanya dariku. Enyahlah, aku sangat sibuk sekarang!"
Aluna menggebrak meja lalu memanggil sekretaris Sam dan pegawai Fang agar mengusir Helen.
"Helen, tempatmu sekarang sudah bukan di sini. Ini adalah meja kepala Asisten. Harusnya tempatmu itu di pantry, tugasmu di sini hanya untuk membuat kopi dan mengantarkan makanan," kata pegawai Fang.
"Berani sekali kamu mengatakan itu!" Helen hampir saja menampar pegawai Fang. Namun, sedetik kemudian pegawai Fang langsung menangkap tangannya.
Wajah Helen bertambah kesal. Hilang sudah wibawanya di perusahaan itu. Dia kini tak punya satu pun rekan kerja yang memihaknya.
"Baiklah aku terima tantangan ini. Kalau kamu berhasil menyelesaikan data dalam waktu lima menit. Aku bersedia menjadi pembuat kopi untuk kalian selama seminggu," kata Helen. Dia sangat yakin kalau Aluna tak akan bisa menyelesaikannya dalam waktu satu jam, "tapi, kalau kamu tak bisa melakukannya. Berhentilah bekerja mulai hari ini," imbuh perempuan dengan kulit putih itu menantang balik Aluna.
Aluna tersenyum tipis. Tentu saja dia sanggup melakukannya. Sistem telah memberikannya skill agar menjadi sekretaris sekaligus asisten profesional yang serba bisa.
__ADS_1
"Deal! Kalau aku bisa menyelesaikannya. Kamu harus menjadi asisten yang mengurus semua keperluan kami. Tawaranmu aku terima!" seru Aluna menyalami Helen sebagai tanda jadi.
Menit itu juga, Aluna mulai memainkan jarinya di atas keyboard lalu menginput data satu persatu hasil laporan observasi dan traffic count ke satu file komputer. Gerakan jari Aluna sangat cepat, membuat semua pegawai lainnya tercengang.
"Wah, lihat Nona Luna sangat cepat dalam membuat data. Aku tidak sabar Helen kalah, aku pasti akan sering menyuruhnya membuatkan kopi, ha ... ha ...," ucap salah satu pegawai mendatangi mereka.
Semua pegawai bermunculan melihat cara kerja Aluna yang cepat saat menginput data. Mereka juga ingin menjadi saksi ingin melihat bagaimana tampang Helen saat dipermalukan.
"Aku sudah menyelesaikannya," kata Aluna.
Lima menit kemudian. Semua pegawai di situ dibuat tercengang oleh data yang dibuat Aluna. Pegawai Fang sebagai saksi di situ berulang kali berdecak kagum kepada Aluna pasalnya dia menyelesaikan dengan benar dan tepat waktu.
"Lihatlah Nona Helen. Nona Luna bahkan bisa bekerja lebih cepat darimu. Kalau begini hasilnya, sepertinya Presdir Alvin tak membutuhkan sekretaris baru lagi. Anda sangat hebat Nona Muda," kata pegawai Fang memuji Aluna.
Sementara wajah Helen langsung mendadak pias. Hampir tak percaya dia melihat hasil kerja Aluna yang cepat. Dia lalu membuka seluruh data, memastikan semuanya sudah benar.
"Semuanya benar. Istri Presdir sangat hebat!" seru pegawai Fang girang, dia ingin sekali membalas dendam kepada Helen.
"Nona Luna menang, mulai sekarang jadilah asisten kami!" kata salah satu pegawai.
__ADS_1
Helen tertunduk lesu. Dia terkena mental karena meragukan Aluna.
"Tugas pertamamu adalah buatkan aku kopi sekarang. Kerena sepertinya aku sangat mengantuk berat," perintah Aluna kepada Helen.