TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 275. Mengejar Mobil Yuze


__ADS_3

Sekarang Aluna sudah ada di dalam mobil bersama Alvin. Agar bisa lebih cepat menyusul Zero, Aluna putuskan untuk mengendarainya sendiri. Sementara Alvin, dia duduk di sebelahnya sambil memantau kabar terbaru dari asisten Jo.


Telepon berdering. Ada panggilan masuk dari keluarga Sindi. Tadinya Aluna ingin mengabaikannya, tapi karena panggilan tersebut terus terdengar membuat Aluna menyempatkan diri untuk mengangkat telepon sambil menyetir.


"Kami mohon maaf, Nyonya Luna. Sebaiknya kami pulang lagi saja ke desa. Keluarga kami tak bisa menunggu terlalu lama di sini tanpa kepastian," kata Sinta di telepon.


Alvin mengeraskan suara ponselnya agar Aluna tetap fokus menyetir. "Jangan pulang dulu Nyonya Sinta. Tunggulah sebentar di hotel. Maaf kami telat datang, ada sesuatu yang buruk menimpa anakku. Zero diculik lagi."


Nyonya Sinta di tempat lain terlihat kaget. Dia yakin ucapan Aluna sekarang tidak main-main. Mungkin inikah yang membuat mereka telat menemui keluarganya? Pikir Sinta.


"Kami ikut merasa sedih, Nyonya. Maaf kami sudah berpikiran buruk tentang keluarga Anda. Sebagai permintaan maafnya, kami akan membantu Anda mencari Zero sekarang," kata Sinta tak kalah khawatir dari Luna.


Berita diculiknya Zero didengar oleh Sindi dan ayahnya. Sindi sudah menduga pasti terjadi sesuatu dengan Zero karena dari tadi perasaannya memang sedang tak enak.


"Aku juga akan ikut mencarinya, Bibi Luna," kata Sindi.


"Tidak, tidak! Biar kami saja Nyonya Sinta. Bolehkah kalau aku meminta kalian agar tak jadi pulang sekarang?" tanya Aluna di telepon.


"Tentu saja boleh, Nyonya Luna. Kami sangat mengerti dengan kondisi Anda sekeluarga," jawab Nyonya Sinta di tempat lain.


Selang beberapa detik sambungan telepon mereka akhiri agar Aluna bisa fokus menyetir menyusul Zero.


***


Di mobil lain yang mengangkut Clara di dalamnya, perempuan itu sudah mulai gelisah dan merasa telah salah bertindak. Namun, Clara tidak lepas tanggung jawab begitu saja. Clara sedang mencoba menghubungi Lily dan Yuze berulang kali. Untungnya pas panggilan ke sepuluh barulah Yuze mengangkat teleponnya.


"Ada kecelakaan di depan, setelah jarak mobil Bibi sangat jauh. Aku terpaksa memilih alternatif jalan lain agar tak terjebak di sana, Bibi. Tenang saja Zero masih bersama kami," kata Lily.


Akan tetapi, Clara tak percaya. Dia meminta ingin berbicara langsung dengan Zero sekarang.


"Zero sedang tidur, Bibi. Kami tak enak membangunkannya," kata Lily berbohong.


"Bibi aku sedang tidak tidur. Kenapa Bibi berbohong? Siapa yang menelepon Bibi? Aku ingin bicara," celetuk Zero memotong pembicaraan Lily dengan Clara.

__ADS_1


Tak mau ketahuan, Lily langsung memutuskan telepon sepihak. Dia merasa untung sudah bertindak cepat sebelum Clara tahu kalau dia berbohong.


"Kamu, jangan berisik. Tidak ada yang ingin bicara denganmu, yang menelepon tadi adalah temanku," kata Lily lagi berbohong.


"Kenapa Bibi terlihat seperti sedang berpikir?" tanya Zero lagi, "apa Bibi sedang memikirkan untuk merancang kebohongan selanjutnya?"


Lily sudah mulai geram dengan ucapan Zero. Ucapan tadi tak pantas keluar dari mulut bocah umur lima tahun, pikir Lily. Zero sudah membuat kesabarannya habis.


"Diamlah sekarang kalau tidak aku akan membiusmu!' bentak Lily kepada Zero.


"Tapi aku ingin buang air kecil, Bibi. Bisakah kita berhenti dulu di toilet?" tanya Zero.


***


Di tempat lain di kamar presiden suite, keluarga Sindi sangat khawatir dengan Zero. Ayah Sindi yang awalnya meminta pulang malah sekarang setuju untuk tetap tinggal. Dia pun merasa khawatir.


"Kenapa banyak sekali yang ingin mencelakai Zero? Kalau pelakunya paman dan bibinya, berarti mereka sangat tega. Demi harta dan kekuasaan mereka menghalalkan berbagai cara, termasuk menyingkirkan anak kecil itu," kata Ayah Sindi, "Sindi, apa kamu punya informasi penting untuk membantu agar Zero ketemu?"


"Ayah aku punya nomor telepon smartwatch Zero. Dia bilang selalu memakainya ke mana pun," kata Sindi.


Mata Sinta berbinar, mengambil smartwatch anaknya kemudian langsung menghubungi nomor Zero.


"Nomornya ternyata aktif," kata Sinta takjub.


Kemudian Sinta mengusap nomor telepon Zero lagi setelah sebelumnya tak diangkat. Dia melakukan hal tersebut berulang kali sampai Zero mengangkat panggilan teleponnya.


"Zero tak mengangkat teleponnya. Anak itu pasti sedang ketakutan dengan orang yang menculiknya," kata Sinta berpendapat.


"Apa kamu yakin smartwatch anak itu tidak akan disita setelah mengetahui ada seseorang yang akan menghubungi Zero?" Ayah Sindi ikut berkomentar.


"Ada benarnya juga. Penculik mana mungkin membiarkan cela sedikit pun agar buruannya lepas," kata Sinta.


"Tapi kenapa nomornya masih aktif? Kalau penculiknya takut, pasti sudah mematikan ponsel ini," celetuk Sindi ikut berpendapat.

__ADS_1


Ketiga orang itu sama-sama diam sambil berpikir. Sinta masih penasaran terus menghubungi Zero lagi.


"Berhenti jangan teruskan!" seru ayah Sindi, "Jangan sampai penculiknya memutuskan untuk mematikan apalagi membuang smartwatch milik Zero kalau ketahuan kamu terus menelepon, Sayang."


"Apa maksudmu?" tanya Sinta.


"GPS! Yah, di dalam smartwatch pasti ada GPS-nya. Cepat aktifkan lokasi di smartwatch milik Sindi, aku akan melacaknya dari sini," kata ayah Sindi sangat antusias berusaha membantu.


***


Tidak berbeda jauh dari keluarga Sindi. Alvin pun tak kalah sibuknya. Terus menelepon Asisten Jo agar memantaunya mencari lokasi mobil Yuze.


"Mobil mereka menuju pelabuhan, Tuan. Sepertinya akan sampai sebentar lagi," kata Asisten Jo di telepon.


Alvin langsung memberitahukan agar Aluna berputar arah dan menuju arah jam enam. Aluna mengerti dan mengikuti instruksi dari Alvin.


"Apa masih jauh?" tanya Aluna, dia sendiri tidak pernah menuju pelabuhan.


"Kurang lebih satu jam lagi kalau dengan kecepatan mobil normal," jawab Alvin.


"Apa satu jam lagi?"


Aluna merasa terlalu lama untuk sampai ke pelabuhan. Sementara mobil Yuze saja sebentar lagi sampai.


Alvin melihat wajah Aluna yang sangat khawatir. Sepertinya Aluna lebih takut kehilangan Zero, dibandingkan dia. Dengan adanya peristiwa ini barulah Alvin paham mengapa Aluna bersikeras ingin mengantar dan menjemput Zero seorang diri. Alvin baru sadar kalau keputusan yang dibuat Aluna semata-mata untuk melindungi anaknya.


"Aku tidak bisa membiarkan mereka membawa kabur Zero. Sampai kapan pun mereka akan tetap berbahaya. Aku akan membawa Zero pergi setelah ini, bahkan kalau bisa aku akan membawanya ke duniaku," kata Aluna sambil menyetir.


"Apa?! Lalu bagaimana denganku?" tanya Alvin kaget.


Aluna menambah kecepatan mobilnya menjadi 180 km/jam, setelah mengencangkan sabuk pengamannya.


"Aku pikirkan nanti. Sekarang bersiaplah, aku akan mengebut!"

__ADS_1


__ADS_2