
Clara tertegun sejenak. Tak bisa berkata lagi, dia langsung pergi begitu saja. Clara juga sudah mengirimkan pesan kepada Aluna agar cepat mengemasi barang-barang Zero.
Hideon menyempatkan mampir sebentar menemui Zero, menyapa anak kecil itu dan memberikan hadiah kecil. Setelah puas, setengah jam kemudian dia berangkat bekerja bersama Alvin.
"Zero, panggil aku Tante cantik," ucap Ara.
Zero mengangguk. Dia sangat suka dengan hadiah yang diberikan Ara. "Terima kasih, Tante cantik. Aku sangat suka hadiahnya," kata Zero sambil meraih mobil-mobilan yang diberikan Ara.
"Mobil ini pernah dikendarai ibumu," kata Ara lagi memberitahukan.
"Benarkah? Berati mama sangat hebat!" seru Zero.
"Sangat hebat! Ibumu adalah seorang pembalap, tapi itu dulu sebelum ibumu bertemu ayahmu," kata Ara. Ucapan Ara mengingatkan Aluna pada peristiwa saat kecelakaan dulu. Yah, mobil-mobilan yang dibawa Ara adalah replika mobil yang dikendarai Aluna saat kecelakaan. Warna dan jenisnya hampir sama persis.
"Aku juga ingin sehebat mama, aku ingin menjadi pembalap seperti mama Luna," kata Zero bergelayut manja.
__ADS_1
Ara tertawa sambil terus memperhatikan wajah Zero. Meskipun Zero hanyalah ponakan dia di dunia novel, sama seperti Aluna, dia pun sangat menyayanginya.
"Lihat aku buatkan nasi goreng istimewa untuk kalian." Dari pintu masuk, Aluna datang membawa dua piring nasi goreng bikinannya. Nasi goreng favorit Ara.
Ara langsung terkesiap dan menghampiri Aluna mengambil satu piring miliknya, "Kak Luna, aku sangat rindu dengan nasi goreng ini. Cobalah Ze, nasi goreng ini sangat enak, hanya mamamu yang bisa membuatnya seenak ini," kata Ara sambil menyuapi Zero.
Baru mencium aromanya saja, perut Zero sudah terasa lapar. Benar apa yang dikatakan Ara, kalau nasi goreng buatan ibunya sangatlah enak. "Benar nasi goreng ini sangat enak, Tante."
"Tentu saja, karena nasi goreng ini dibuat dengan cinta. Makanya rasanya lain. Makan lagi Ze, mama akan buatkan lagi kalau kamu suka," kata Aluna.
"Kak, Lily meneleponku," kata Ara menunjukkan kontak panggilan Lily, "bagaimana? Apa aku harus mengangkatnya, Kak?"
Aluna diam beberapa detik, lalu menjawab dengan cepat, "Angkat saja. Bicaralah seperti kamu menjadi Helen."
Ara menurut. Rupanya berita kedatangan Helen di rumah tercium oleh Yuze dan Lily. Keduanya merasa heran kenapa bisa-bisanya Helen datang menemui Luna. Lily pikir, Helen sedang bersandiwara dan merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Luna.
__ADS_1
"Ya, aku sedang ada di rumah Luna," jawab Ara di telepon.
"Apa kamu sedang bersandiwara? Kalau iya, beritahu aku rencana barumu," kata Lily di tempat lain.
"Ha, ha, tentu saja. Tidak mungkin aku ke sini hanya karena melihat wajah anak Luna. Tenang, aku hanya sedang mengambil hari wanita itu. Rencanaku masih panjang, aku harus membujuk anak kecil itu agar menyukaiku lebih dulu," kata Ara.
Lily di tempat lain tersenyum puas. Sudah ada di pikirannya, rencana buruk Helen untuk Zero nanti. Dia mempunyai pikiran kalau Helen akan mendekati Zero agar bisa mengambil hati anak itu saat Luna dan Alvin bercerai nanti. Lily sama sekali tidak mengetahui roh yang ada di dalam diri Helen adalah Arabella adiknya Aluna sendiri.
"Jangan lupa kirimkan foto anak itu. Aku ingin tahu seperti apa wajah anak itu sampai banyak yang mengatakan mirip dengan Alvin saat kecil," kata Lily di tempat lain.
"Heum, aku tidak janji akan berikan. Masalahnya Luna sendiri masih belum mempercayaiku," jawab Ara.
Lily begitu kecewa, tapi akhirnya memaklumi. Dia pun sudah memiliki rencana lain untuk menjauhkan Alvin dan Luna dengan anak itu. Tentunya rencana itu sudah ada di pikirannya sejak Zero belum ditemukan.
"Walaupun wajahnya mirip dengan Alvin. Tetap saja anak itu harus melakukan serangkaian tes DNA. Banyak wajah anak mirip satu dengan anak lainnya, tapi belum tentu mereka sekandung." Lily sudah sepakat dengan Yuze dan ibunya untuk melakukan tes DNA kepada Zero dan sudah merencanakan babak baru untuk Aluna.
__ADS_1
"Lily, bisakah kamu memberitahukan rencanamu selanjutnya?"