
Semua anak yang telah selesai bermain, terlihat lapar dan kehausan. Semua anak berlari menghampiri warung yang ada di pinggir lapangan. Mereka masing-masing mengeluarkan uang receh lalu membeli makanan dan minuman sesuai uang yang mereka punya. Deretan makanan dan minuman dijejer rapih di dalam etalase. Semuanya tampak menggiurkan. Zero hanya bisa menelan ludah karena dia tak memiliki uang sepeser pun untuk membeli makanan itu.
"Kenapa kamu hanya diam berdiri di sini? Apa kamu tak punya uang untuk membeli makanan?" tanya seorang anak lelaki kepada Zero.
Zero hanya menggeleng pelan. Ketika semuanya sudah mendapatkan jajanan di tangan, mereka kembali duduk berkumpul, termasuk Zero. Diantara mereka, hanya Zero lah yang tak memegang makanan atau pun minuman. Anak kecil itu duduk di tengah-tengah mereka yang sedang asik mengunyah jajanan.
"Kalau kamu mau, makan saja makanan milikku," kata seorang anak menawarkan makanannya kepada Zero.
"Yah, kamu juga boleh ambil punyaku," kata teman satunya lagi.
Zero kembali menggeleng. Dari dulu, dia selalu menolak ketika ada orang lain yang memberi makanan secara percuma. Kalau akhirnya dia menerima makanan, itu pun dia akan bekerja sebagai balasannya. Seperti dia bekerja di rumah orang yang merawatnya.
"Tidak Terima kasih. Maaf sepertinya aku harus pulang," kata Zero berpamitan. Zero tak ingin menyusahkan orang lain, dia lebih baik pergi dan pulang ke rumah Miwa.
Letak lapangan dan rumah Miwa sangat dekat, bahkan Miwa bisa melihat Zero dari kejauhan saat dia sedang memintal benang. Diam-diam Miwa memperhatikan Zero ketika berkumpul bersama teman-temannya. Dia merasa kasihan ketika melihat Zero hanya terbengong duduk di tengah-tengah anak-anak yang sedang makan.
"Kurang ajar, Han apa tidak kasihan dengan anak itu. Tubuhnya sangat kurus seperti kekurangan gizi. Bahkan tulangnya pun terlihat menonjol menandakan anak itu kurang makan. Han terlalu egois hanya memikirkan untuk berjudi. Harusnya kalau dia menitipkan anak itu, bekali dia makanan dan uang." Miwa terlihat geram dengan kelakuan saudaranya.
Beberapa menit kemudian, Zero berjalan ke arahnya. Semula anak itu terlihat gembira saat bermain. Tetapi kali ini saat dia kembali, Zero kembali terlihat murung.
"Maaf, Bibi. Tadi aku tinggal bermain bersama mereka," kata Zero menunjuk arah teman-temannya, "apa Bibi perlu bantuan? Aku bisa membantu bibi bekerja sekarang."
Zero menawarkan jasa karena dia ingin mendapatkan upah untuk membeli makanan.
Miwa tersenyum. "Pekerjaan ini bukan untuk anak kecil. Kenapa wajahmu murung? Sepertinya kau sedang lapar?" tanya Miwa.
Zero tertunduk lesu, lalu mengangguk pelan. Dari raut wajahnya, Miwa mengerti kalau anak itu sedang menahan rasa lapar di perutnya.
"Han memang tega terhadap anak-anak. Dia menitipkan anak ini tanpa memberinya bekal," ucap Miwa, "anak kecil, apa kau bisa membuat mi sendiri? Aku sedang sibuk, kalau kamu mau buatlah sendiri di belakang. Aku punya satu mi instan untuk mengganjal perutmu yang lapar," kata Miwa lagi kepada Zero.
"Terima kasih, Bibi. Aku janji setelah ini akan membantumu bekerja. Lihatlah, tanganku cukup kuat untuk mengangkut beberapa tumpuk benang itu ke dalam. Aku juga bisa mencuci baju dan piring," kata Zero sambil tersenyum sangat manis.
Miwa tak bisa berkata-kata. Dia sangat kagum dengan niat baik Zero. Baru kali ini dia melihat anak sekecil itu menawarkan diri untuk membantunya. Walaupun niat Zero untuk mendapatkan upah demi mendapatkan mi.
"Aku ikhlas memberimu satu mi instan. Jangan pikirkan yang lain dulu. Kata Han kamu bisa memasak sendiri. Cepat makan, aku takut kamu malah sakit," kata Miwa.
"Terima kasih, Bibi."
Wajah Zero mendadak segar, meskipun Miwa hanya menawarkan mi instan, setidaknya makanan itu bisa membuatnya tidak kelaparan lagi. Zero berjanji setelah dia makan nanti, dia akan membantu pekerjaan Miwa.
Zero menerima mi itu lalu membawanya ke belakang dan mencari kayu bakar. Zero lebih mandiri dari anak seusianya, semua dia kerjakan sendiri tak ingin menyusahkan Miwa.
Sepuluh menit berlalu, Zero sudah membawa mangkok berisi mi ke depan tempat Miwa memintal benang. Dia bahkan membawa dua mangkuk, membagi mi itu menjadi dua, untuk dirinya satu dan satunya lagi untuk Miwa.
"Kau sungguh pintar. Aku sedang tidak lapar. Mi nya untuk kamu saja semua," ucap Miwa seraya menaruh lagi mi untuknya ke mangkok Zero, "maaf, aku cuman bisa memberikan mi ini. Aku tak memiliki uang lebih untuk membeli nasi," sambungnya lagi.
Zero tersenyum manis. "Tidak masalah, Bibi. Semangkok mi sudah bisa mengganjal perutku agar tak lapar lagi. Lagipula walaupun aku hanya memakan mi, lihat tangan dan kakiku sangat kuat," kata Zero memperlihatkan lengan tangannya yang kurus.
"Mi instan tidak baik untuk kesehatan. Terkandung bahan pengawet dan bahan kimia lainnya yang berbahaya. Kata ibuku, kalau kita sering memakan mi instan akan menyebabkan gangguan pencernaan." Tiba-tiba saja terdengar suara anak gadis dari belakang Zero. Anak gadis itu adalah Sindi.
Sindi berjalan mendekati Zero. "Aku punya banyak makanan sehat di rumahku. Mmm ... sebagai permintaan maafku, aku ingin mengundangmu makan di rumah."
__ADS_1
Zero tak peduli dengan ucapan Sindi. Terlepas dari gadis itu bersalah atau tidak. Jelas Zero akan menolak mentah-mentah tawarannya. Zero bukanlah anak yang mudah dibujuk, sekalipun dia diiming-imingi uang yang banyak. Walaupun dia masih kecil, prinsip Zero sangat sederhana. Dia tak mau merepotkan orang lain.
"Hai Sindi, mimpi apa bibi melihatmu datang ke sini sendiri? Anak manis apa kau sudah minta izin keluar kepada orang tuamu?" tanya Miwa berjongkok sepadan dengan gadis kecil dengan tinggi 100 sentimeter itu. Dia tahu Sindi adalah anak orang paling kaya di desa itu, dia bahkan tak pernah sekali pun keluar sendiri seperti sekarang.
"Bibi, aku datang ke mari hanya untuk meminta maaf kepada Zero. Keluargaku mengundangnya makan, kenapa dia diam saja tak menjawab?" tanya Sindi dengan lugu.
"Zero, kenapa kau tak menjawab ajakan Sindi? Bukankah kamu akan memakan banyak makanan yang lezat di rumahnya? Ini kesempatan yang bagus, baru kali ini Sindi mengajak teman makan di rumahnya langsung," kata Miwa membujuk Zero.
Zero berhenti makan mi. Dia melihat ke arah Sindi lalu mengembuskan pelan napasnya. "Kamu tidak bersalah, jadi tak perlu mengajakku makan ke rumah. Lagipula, aku sudah cukup kenyang dengan mi ini," jawab Zero.
Mendengar jawaban itu, Sindi yakin dia sudah ditolak. Miwa langsung memberi pengertian pada gadis itu agar tak memaksa Zero ke rumahnya lagi karena menurut Miwa sebentar lagi Zero akan dijemput oleh Han.
"Baiklah, Bibi." Sindi menunduk memberi hormat pada wanita itu.
"Terima kasih Zero kamu sudah memaafkanku," kata Sindi sebelum dia pergi. Dalam hatinya dia sangat kecewa karena sudah diberitahu kalau Zero hanya sebentar tinggal di rumahnya. Padahal tadi Sindi berharap Zero akan tetap tinggal di rumah itu, dan dia ingin sekali menjadi teman Zero.
"Hati-hati Sindi. Ingat kalau mau pergi, izin dulu kepada orang tuamu," kata Miwa sambil tersenyum. Sementara Zero meneruskan makan mi di mangkoknya.
"Bibi, setelah ini aku akan membantu bibi membersihkan rumah."
***
Malam hari, Miwa memberikan tempat tidur bekas anaknya kepada Zero agar beristirahat. Anaknya sudah dewasa dan sudah menjalani rumah tangga masing-masing sehingga dia hanya tinggal seorang diri.
"Tidur saja di sini, sampai Han menjemputmu," kata Miwa lalu menutup pintu kamar Zero.
Miwa sangat menyukai Zero karena anak itu sangat cekatan, tadi sore Zero banyak membantunya mengerjakan pekerjaan rumahnya.
"Kenapa Han belum datang? Pasti dia sedang mabuk-mabukan lagi sampai melupakan anak ini," kata Miwa lagi.
"Sekarang sudah lebih dari jam 12 malam, sepertinya Han memang tidak datang," ucap Miwa sambil menutup pintu depan.
Esok harinya, Zero sudah bangun dan membantu Miwa mengemas beberapa benang untuk dia jual kepada pengepul. Miwa awalnya tidak tega meninggalkan Zero. Akan tetapi ketika Zero mengatakan dia sudah terbiasa ditinggal, akhirnya Miwa berpamitan juga untuk pergi.
"Tidak apa-apa, Bibi. Kalau bibi ada keperluan, Bibi selesaikan saja dulu. Lihatlah, aku sangat kuat dan bisa melakukan apa pun sendiri. Jadi jangan khawatirkan aku," kata Zero menunjukkan sederet gigi susunya.
Miwa mengelus kepala Zero, dia juga mengatakan sudah membeli minyak tanah agar Zero lebih mudah dalam membuat api. Miwa juga mengatakan dia sudah membeli beberapa mi instan kalau dirinya lapar.
"Bibi janji kalau pulang nanti, bibi akan belikan kamu nasi dengan daging sapi. Hasil penjualan ini sangat lumayan. Tunggu saja di rumah ya anak manis," kata Miwa sebelum dirinya benar-benar pergi.
Selang beberapa jam setelah kepergian Miwa, Zero melihat dari dalam rumah, anak-anak kemarin sedang berjalan menuju lapangan. Wajah Zero berbinar. Untuk mengurangi kebosanannya, Zero memutuskan keluar dan bermain lagi bersama mereka. Dia berlari keluar dan menghampiri anak-anak itu.
"Hai, Zero. Aku kira kamu sudah pulang dijemput orang tuamu," kata salah satu dari mereka.
"Tidak, Bibi Miwa sekarang adalah orang tuaku sekarang. Apa aku boleh bermain dengan kalian lagi?" tanya Zero.
"Ha, ha, memangnya ada berapa orang tuamu? Apa orang tua bisa berganti-ganti?" tanya mereka lagi. Anak-anak itu tertawa mendengar ucapan aneh Zero.
Zero mengangkat bahunya tidak terlalu mengerti. Menurut Zero, siapa pun orangnya, kalau dia sudah mengasuh dan membolehkannya tinggal adalah orang tua asuhnya yang sekarang. Dia pikir, Han sudah menjualnya lagi kepada Miwa. Dan sekarang wanita itu adalah orang tuanya.
Mereka pun akhirnya kembali bermain bola bersama. Beberapa jam telah berlalu. Di kejauhan, Sindi melihat permainan mereka dari gerbang rumahnya. Sindi sangat senang ketika melihat Zero masih berada di desanya. Saking senang, Sindi langsung menarik asisten rumah tangga agar keluar menemaninya.
__ADS_1
"Pelayan, tolong antar aku keluar," perintah Sindi. Sebelum keluar dia juga meminta pelayan itu membawakan berbagai makanan yang dia taruh di dalam kardus.
"Nona, untuk apa makanan ini?" tanya si Pelayan.
"Aku ingin membagi-bagikannya untuk teman-temanku di luar," jawab Sindi menunjuk anak-anak di lapangan.
Pelayan langsung menurut lalu mengantar Sindi berjalan berdampingan menuju ke tengah lapangan.
"Teman-teman, bolehkah aku ikut main?" tanya Sindi.
Kedatangan Sindi membuat anak-anak itu menghentikan permainannya. Semua anak menoleh termasuk juga Ryu. Dengan percaya diri, Sindi dan pelayannya berjalan ke tengah-tengah sambil tersenyum. "Kalau kalian mengajakku bermain, aku akan membagikan makanan ini untuk kalian?" kata Sindi.
Semua mata anak-anak berbinar, kecuali Zero. Anak-anak langsung menjawab boleh. Sindi adalah anak keluarga paling kaya di desa itu. Keluarganya pun sangat disegani. Melihat makanan yang akan diberikan sangat menggiurkan mereka langsung menerima Sindi bermain bersama.
"Kita sedang bermain bola. Tapi kalau kalau kamu ikut bermain, kita ganti bermain petak umpet saja," kata seorang anak.
"Baiklah, asal kalian membolehkan ku bermain bersama," kata Sindi sambil melirik ke arah Zero, berharap anak itu pun mengajaknya bermain.
Zero diam saja, ketika semua anak menerima makanan itu, dia malah dengan tegas menolaknya.
"Zero kalau kamu tidak menerima makanan ini, kamu tidak boleh bermain bersama kami lagi," kata salah satu anak lelaki.
Zero kembali diam, dia tak peduli dengan sogokan apa pun. Tetap dia tak mau menerima makanan itu.
"Maaf, aku tidak bisa bermain dengan anak perempuan," kata Zero.
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sindi, Zero langsung berlari menuju rumah Miwa. Tak memperdulikan teman-temannya mau pun Sindi.
Mendapati penolakan kesekian kalinya, membuat Sindi sangat sedih, dia yakin kalau Zero masih marah karena saat itu dia tak menolongnya. Sindi sangat menyesal dan merasa bersalah, sampai-sampai kejadian itu terbawa ke mimpinya. Sindi tahu kalau dia bersalah, kalau saja saat itu Zero tak menghalau anjingnya dengan kayu, dia pasti akan meninggal saat itu juga.
"Sebaiknya kalian makan saja makanan ini. Aku tidak jadi bermain," kata Sindi sambil menahan cairan bening yang sudah menggenang di kelopak matanya yang bulat.
Aku tidak akan menyerah, nanti sore aku akan datang ke rumah bibi Miwa dan mengantarkan banyak makanan. Semoga nanti kamu bisa memaafkanku, Zero. Batin Sindi.
***
Sore harinya di rumah Miwa. Seharian ini Zero tak keluar dan menghabiskan dirinya mencuci baju dan membersihkan rumah. Tak terasa hari sudah sore, dan perutnya pun kembali lapar. Pagi tadi Miwa sudah memberinya sarapan, tapi untuk makan sore harinya Miwa kembali menyediakan mi instan untuk dirinya.
"Ada minyak tanah di sini. Sepertinya akan lebih mudah untuk menyalakan api," kata Zero pada dirinya sendiri.
Seharian bekerja membuatnya sangat lapar. Zero sampai gemetar karena saking laparnya. Zero mulai menata kayu bakar, menyiramkan minyak tanah di atasnya agar api bisa menyala dengan cepat.
"Ah' ternyata sangat mudah menyalakan api dengan minyak tanah," kata Zero kegirangan. Biasanya Zero akan menggunakan cara sederhana membuat api dengan bantuan daun-daun kering atau sampah plastik yang ditumpuk. Dengan adanya minyak tanah membuatnya semakin mudah membuat api agar cepat merata dan besar.
"Aku harus mengambil panci dan mengisinya dengan air." Api sudah berhasil dinyalakan, tinggal Zero mengambil panci untuk merebus mi.
Zero berjinjit hendak meraih panci yang tergantung di atas dinding tepat di atas perapian. Tempat panci tergantung sangat tinggi, sehingga dia harus menaiki kursi untuk meraihnya.
"Aku harus mencari kursi untuk meraihnya," kata Zero.
Kursi sudah di dapat, karena berat, Zero terpaksa mendorongnya dengan tangan. Zero tak sadar kalau tiba-tiba kursi itu tak sengaja menyenggol botol berisi minyak tanah tadi.
__ADS_1
Brak! Zero kaget dan langsung mendorong kursi itu. Minyak tanah terlihat berceceran di lantai dan mengundang api untuk melahapnya. Tak ada lima menit, api sudah menyebar ke sekeliling ruangan.
"Api! Tolooongg!" teriak Zero.