
Ketika Alvin sedang berbicara dengan nenek dan ibunya. Lily dan Yuze datang, mereka langsung nimbrung kembali memojokkan Aluna.
"Jadi ponakanku sudah sekolah? Kenapa tidak disekolahkan di taman kanak-kanak untuk bangsawan?" tanya Lily menyela pembicaraan mereka.
Aluna tidak suka berdebat. Dia pun malas meladeni keduanya. Karena pasti mereka akan selalu menjadi provokator dan terus menyalahkan dirinya agar Clara dan Nenek Alma membencinya.
Kenapa dia masih hidup bebas sampai sekarang? Harusnya mereka sudah mendekam di penjara, batin Aluna.
Saat itu Zero sudah ada di tengah mereka, berada pada pelukan Alvin. Dia mengerti apa yang dibicarakan keluarganya. Tapi dia tak memasukkan hati. Bagi Zero tak terlalu penting mereka tak menyukainya, kasih sayang dari orang tuanya saja baginya sudah cukup.
"Luna tidak memperdulikan nasihat kami dan terus keras kepala," kata Clara sedikit kesal.
Lily semakin memanasi, dia mengatakan sekolah umum tidak tepat untuk Zero. Privasi keluarga mereka pun bisa terganggu kalau sampai ada media yang tahu cucu dari keluarga Wiratama bersekolah di tempat biasa. Clara sangat malu kalau sampai media tahu, apalagi teman-teman sosialitanya. Clara takut digosipkan yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Kak Luna kenapa si tidak menurut saja apa yang disarankan Nenek dan Bibi? Zero akan lebih pintar di sekolah khusus bangsawan. Bahkan ada anak selebrita dunia yang sekolah di sana," kata Lily memanasi.
"Aku tak bisa membayangkan nanti kalau Zero memiliki keahlian yang minim." Yuze pun ikut memojokkan. "Sudah dibuang selama lima tahun, dan sekarang waktunya malah di sia-siakan. Aku tak yakin kamu tidak akan meninggalkan Zero lagi nanti."
"Yuze, jaga bicaramu!" bentak Alvin.
Clara merasa apa yang diucapkan Lily dan Yuze ada benarnya juga. Dia pun menyamakan Zero dengan cucu temannya yang sudah pintar berbahasa inggris. Clara sangat iri ingin seperti mereka, dia pun ingin memamerkan keahlian Zero di pertemuan arisannya nanti.
"Bahkan cucuku belum memiliki keahlian dasar apa pun."
"Luna jangan mengajarkan anakmu untuk berbohong," kata Lily lagi.
Zero berdiri di depan Aluna dengan percaya diri. "Mama tidak berbohong, Bibi. Aku bisa berbahasa inggris, Oma. Nenek dan Oma jangan khawatir."
__ADS_1
Lily dan Yuze menahan tawanya. Sementara Nenek Alma dan Clara saling melirik, dia tak menyukai kalau Zero sampai berbohong. Jelas Nenek Alma kemarin tahu kalau Zero tak bisa berbahasa inggris.
"Ponakanku yang tampan, kalau ibumu tak sanggup mengajarkan, kamu bisa belajar dari paman. Tapi kalau kamu tetap percaya diri dan menganggap bisa berbahasa inggris. Coba buktikan di depan kami. Perkenalkan dirimu dengan menggunakan bahasa inggris. Kalau kamu bisa, ibumu pantas diikuti dan menjadi panutan."
Ucapan Yuze begitu menohok. Alvin sangat geram. Tadinya Alvin hendak menarik Zero ke kamar. Akan tetapi Zero menolak dan mengatakan kalau ibunya layak diikuti dan menjadi panutan.
"Ha, ha, jangan begitu Yuze. Tidak baik mengintimidasi anak kecil," kata Lily lagi.
Zero berdiri di tengah, melihat mereka satu persatu dan berakhir melihat ke arah Aluna. Ketika ibunya mengangguk, barulah Zero berani berkata, "Hello my name is Zero. I'm five years old. I really love mom and dad. My hobbies are making miniature houses and playing with toy cars. When i Grow up I want to be an architect who can build his my own company for my family."
Semua yang ada di ruangan tercengang. Mereka tak percaya kalau Zero bisa mengatakannya dengan lancar dan ejaan yang benar. Alvin tersenyum dan melirik Aluna. Dia yakin pasti Aluna lah yang membuat anaknya pintar.
"Bahkan anakku bisa memainkan alat musik," kata Aluna.
__ADS_1
"Tidak mungkin!" seru Lily berdiri tidak percaya.