TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
210


__ADS_3

Tok, tok, tok. "Keluar, Helen cepat keluar sekarang!" bentak Mona sambil mengetuk pintu kaca depan mobil.


Ara dan Noah terperanjat. Masih belum memposisikan diri di tempat semula, Mona mengintip keduanya dari luar mobil. "Cepat buka! Sedang apa kalian di dalam?" teriaknya lagi. Tok, tok, tok.


Kaca jendela terus diketuk, sebelum Ara benar-benar membuka dan keluar. Selang beberapa detik, Ara akhirnya membuka pintu. Mona yang melihat itu, langsung menarik Ara keluar.


"Helen, kenapa kamu berada di dalam mobil bersama lelaki itu?" Mona memarahi Ara dengan penuh emosi, "siapa kamu? Bukankah kamu lelaki yang anakku tolong? Mau kamu apakan putriku, Hah?" tanyanya pada Noah.


"Iya Nyonya, apa kabar?" Noah mencoba menenangkan diri dengan menyapa Mona.


Tatapan Mata Mona benar-benar terlihat tidak suka. Jangankan untuk membalas sapaan Noah, bawaannya dia ingin memarahi lelaki itu habis-habisan.


"Tidak usah basa-basi. Sekarang katakan padaku, kenapa kamu berada di sini dan menemui putriku?"


Noah akhirnya turun dari mobil dan berjalan mendekati Ara.


"Mommy, tenangkan diri," kata Ara memegang lengan ibunya agar tidak memukuli Noah.


Setelah memarahi Noah, Mona kembali fokus melihat Ara. Menurut perempuan itu ada yang aneh pada diri putrinya. "Diam kamu! Sebenarnya siapa kamu?"


Tak ingin Mona mencurigainya, Ara berusaha bersikap seperti Helen. "Mommy bicara apa? Aku jelas putrimu," kata Ara, dia lalu menyentuh tangan Mona agar menyentuh pipinya, "lihat saksama. Aku putrimu, tak ada yang beda dengan wajah dan tubuhku."


Mona terus menggelengkan kepalanya. "Helen putriku tidak mungkin satu mobil dengan lelaki rendahan seperti dia. Aku sangat mengenalnya. Bersentuhan saja Helen tak akan mau, apalagi sampai berpelukan seperti tadi. Jangan kira aku tak melihat kalian dari atas," kata Mona masih tersulut amarah.


"Mommy ---" Ara memotong ucapannya terlihat berpikir.


"Jangan mengelak! Aku sudah melihat dari mata kepalaku sendiri! Kalau iya kamu Helen, harusnya kamu pikirkan masalah Luna, cari di mana wanita jala*g itu menyembunyikan putranya. Bukannya di sini bermesraan dengan lelaki rendahan seperti dia!" Mona menunjuk muka Noah, "aku yakin kamu bukan Helen!"


Terlihat raut wajah Ara yang sedang berpikir. Entah mengapa kali ini pikirannya benar-benar buntu. Sementara Noah, dia terlihat serba salah akan posisinya di sana. Noah tahu orang yang Ara tempati adalah Helen, dia membiarkan Mona memarahinya. Lagipula dia sudah terbiasa di hina dan dicaci orang semacam Olive dan Mona.

__ADS_1


"Aku tahu, Helen putriku masih sangat menyukai Alvin. Dengan konglomerat lainnya saja Helen tak mau, apalagi dengan lelaki rendahan seperti dia. Orang taunya bangkrut dan penghasilannya saja dibawah standar. Dia sama sekali bukan selera Helen!" Mona terus membentak, "sekarang keluar kamu dari tubuh putriku!" tambahnya sambil menggoyang-goyangkan bahu Ara.


"Nyonya, maafkan aku. Aku yang salah," kata Noah tak ingin memperpanjang masalah. Noah tak mau Mona bertambah curiga.


Mona melihat keduanya bergantian. Dia teringat kata-kata seorang master. Apabila anaknya berperilaku aneh dia harus menggoyang-goyangkan bahu dan menyemburkan air ke muka Helen.


"Ini tak bisa dibiarkan! Aku harus melakukan sesuatu," kata Mona mendengkus kesal.


Saat itu juga dia berlari ke dalam dan mengambil sebuah wadah yang sudah ia isi air keran.


Ara dan Noah terpaku di tempat sambil mengamati tingkah absurd Mona. Dia melihat Mona sedang membacakan sebuah mantra lalu meminum air keran itu.


"Brush!"


Mona menyemburkan air yang barusan dia tenggak tepat ke wajah Ara.


Ara terperanjat, wajahnya basah dipenuhi semburan air dari mulut Mona.


Akan tetapi, sebelum terkena untuk yang ke dua kali. Noah bergerak maju dan menutupi Ara. Brush! Otomatis sekarang dirinyalah yang kena semprotan.


"Minggir!" Mona menarik tangan Noah.


"Nyonya, sadarkan diri Anda. Dia adalah anakmu, aku yang salah karena telah mengajaknya keluar," kata Noah.


"Mommy, aku putrimu. Kami adalah teman, ada hal penting yang ingin aku tanyakan pada Noah. Ini tak seperti yang mommy bayangkan," kata Ara terus menjauhi Mona agar terhindar dari amukannya.


"Kalau teman kenapa harus berpelukan? Wanita dan lelaki dewasa berdua di dalam mobil dalam waktu yang cukup lama, tidak mungkin tidak melakukan apa pun. Jangan-jangan kalian benar-benar berpacaran dan berciuman di dalam?"


Mona tetap pada pendirian dan tetap keras kepala. Keanehan pada diri Ara, membuatnya yakin kalau perempuan itu bukan anaknya. Melainkan roh halus yang merasuki tubuh Helen. "Cepat keluar dari tubuh putriku sekarang!"

__ADS_1


Malam itu mendadak sangat ramai dengan teriakan dan omelan Mona. Suara Mona terdengar keras membuat para tetangga keluar dan melihat keributan mereka dari rumahnya masing-masing. Para tetangga sangat penasaran, tapi sangat takut dan tak mau ikut campur dengan keluarga Hideon.


"Mommy, lihat para tetangga memperhatikan kita. Apa Mommy tidak malu karena disebut kurang waras karena berteriak kencang malam-malam seperti sekarang?" kata Ara, menenangkan dari jauh.


"Aku tak peduli dengan mereka. Sekarang cepat keluar dari tubuh putriku! Atau aku akan memasukkan kepalamu di bak mandi!" Suara Mona semakin meninggi.


Tidak hanya tetangga, teriakan Mona terdengar juga dari dalam rumah Hideon. Seluruh pelayan bahkan Hideon sendiri mendengarnya lalu keluar.


Hideon menghampiri Mona. "Mona! Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kau sudah gila dengan berteriak kencang. Sekarang sudah malam dan lihatlah semua orang memperhatikan keluarga kita!"


Mona pura-pura tak mendengarkan ocehan Hideon dan para tetangga yang saling berbisik. Baginya kini hanya ingin putrinya kembali. "Dia bukan putriku!"


Hideon bertambah emosi. Dia pikir Mona telah gila dan amnesia. "Kalau dia bukan putrimu, lalu siapa? Apa kau sudah gila?"


"Suamiku, ya memang benar tubuhnya adalah Helen. Tapi tidak dengan hatinya, lihat dia sangat berubah. Penampilan anak kita tidak seperti ini. Dandanan Helen terlalu kekanakan dan lihatlah mereka berdua berpelukan. Aku yakin anakku sedang dirasuki roh jahat," kata Mona membenarkan diri.


Hideon mendengkus kesal. "Mereka sudah dewasa, mungkin saja keduanya berpacaran. Kamu seperti tak pernah merasakan muda saja."


"Dia lelaki miskin, Helen yang asli tak mungkin menyukainya."


"Kalau mereka saling menyukai biarkan saja. Aku setuju!" seru Hideon.


"Aku tidak setuju. Karena Helen hanya menyukai lelaki seperti Alvin."


"Mona, berhentilah ikut campur dengan anak. Biarkan mereka tumbuh dewasa dengan caranya sendiri."


"Aku tak mau. Aku hanya ingin putriku mendapatkan lelaki seperti Alvin," kata Mona dengan penuh penekanan.


"Sayangnya aku tak menyukainya, ibu mertua." Tiba-tiba terdengar suara Alvin dari jauh.

__ADS_1


Aluna dan Alvin keluar dari dalam mobil. Sebelum pulang ke mansion, Alvin sengaja mengantarkan Aluna terlebih dahulu.


__ADS_2