
"Apa yang kamu lakukan? Beraninya kamu memukulku!" Helen memegangi pipinya yang kesakitan.
Saat itu juga, Aluna menarik Helen menjauhi ketiga orang pegawai salon. Berbisik di telinganya mengatakan kalau dia melakukan itu semata-mata agar pemilik salon tak melaporkan mereka berdua ke polisi.
"Diamlah! Kamu sudah ketahuan salah, kalau tadi aku tak menamparmu, aku takut mereka tambah tak terima," ucap Aluna berbisik sangat pelan.
"Kamu! Kenapa aku harus tunduk kepadamu!" Helen menepis tangan Aluna.
"Hai, lihatlah! Rambutmu masih belum selesai diwarnai. Pewarnaannya belum menyeluruh, masih ada sebagian yang berwarna hitam. Tak mungkin kamu keluar dalam keadaan seperti ini. Sudahlah kita menurut saja, daripada masalahnya semakin runyam, lagipula kamu sudah ketahuan salah!"
"Kau!" Helen melototi Aluna, "aku akan membalasnya nanti saat pulang!"
Tidak ingin pemilik salon marah lagi, Aluna menyuruh Helen agar duduk lagi di tempat tadi. "Jangan marah di sini. Kita selesaikan nanti di rumah," kata Aluna lembut.
Pemilik salon dan ke dua pegawainya melihat aneh perubahan sikap Helen. Menurut mereka, sikap Helen saat masuk dan barusan sangat berbeda jauh, terlihat dari caranya berbicara ketus kepada Aluna.
Aluna merasa tidak enak dengan pemilik salon, dia mengatakan pelan kepadanya kalau Helen memiliki permasalah pada otaknya. Dia juga mengatakan kalau Helen memiliki kepribadian ganda yang sewaktu-waktu akan berubah saat dirinya tertidur.
"Ubah warna rambutku menjadi hitam kembali!" seru Helen memerintah pegawai salon.
__ADS_1
"Maaf tidak bisa, Nona. Rambut Anda baru saja diwarnai kuning. Kalau Anda merubahnya lagi, kami takut rambut Nona akan mengalami kerusakan yang parah," kata pegawai salon memegang rambut Helen.
Helen merasa frustrasi dengan kondisi dirinya terutama dengan rambut. Mau tak mau dia menyelesaikan pewarnaan rambutnya menjadi kuning menyeluruh daripada membuat rambutnya rusak.
"Berapa lama aku bisa merubah warna rambutku lagi agar kembali hitam?"
"Sekitar satu bulan bahkan lebih, Nona. Anda bisa ke sini lagi setelah ini."
"Aku tidak akan ke sini lagi. Salon ini sangat tidak profesional, aku akan kembali ke salon yang lebih berkelas." Helen terus menggerutu sembari bercermin melihat ke depan.
Ketika pegawai salon sedang merapihkan rambut Helen. Aluna pergi ke depan sebentar membeli segelas jus di kedai minuman. Dia ingin memberikannya kepada Helen yang sedang marah-marah.
Lima menit kemudian Jus telah siap dan berada di tangan Aluna. Tidak hanya membeli jus, Aluna juga membeli obat tidur berbentuk serbuk di apotik dekat dengan salon.
Kamu terlalu berisik. Sebaiknya kamu tidur lagi, Helen. Batin Aluna menahan tawanya.
Tangannya dengan cekatan memasukkan serbuk obat tidur ke dalam jus lalu mengaduknya agar menyatu dan tidak dicurigai Helen nantinya. Aluna sengaja melakukan itu agar adiknya bisa kembali, bertukar tubuh saat Helen tertidur.
"Sayangnya aku masih ada urusan dengan adikku. Aku masih membutuhkan tubuhmu, Helen. Kalau tidak sudah kuganti serbuk obat tidur ini dengan Sianida agar kamu berhenti mengoceh selamanya. Ha ... ha ...."
__ADS_1
Sekarang, Aluna telah masuk kembali dengan membawa jus strawberry di tangannya. Dia mendekati Helen menyodorkan jus itu kepadanya. "Maafkan aku tadi sudah menamparmu. Sebagai permintaan maafku, aku bawakan jus strawberry kesukaanmu. Aku tahu tadi kamu sangat kaget. Minumlah jus ini agar otakmu lebih tenang dan rileks."
Kebetulan memang Helen sedang kehausan akibat marah-marah sambil berteriak tadi. Dia pun menerima jus strawberry itu dengan terpaksa.
"Kalau aku tidak kehausan sudah kulempar gelas yang ini ke lantai," ucap Helen mendelik kesal.
"Ya, minum saja. Aku menyesal sudah membuatmu marah." Aluna terus merayu agar Helen meminum habis.
Helen menyedot jus itu dengan cepat. Dia tak tahu kalau Aluna sudah menaruh obat tidur di dalamnya.
"Habiskan, habiskan! Setelah ini tenangkan tubuhmu, sebentar lagi pegawai salon akan merapihkan rambutmu." Aluna memperlakukan Helen sangat lembut memijat tangan Helen.
"Tolong sekalian pijat kaki adikku," perintah Aluna menyuruh pegawai satunya.
Kamu cocok menjadi pembantuku, Luna. Batin Helen dalam hati. Dia sangat senang melihat Aluna memperlakukan dirinya seperti majikan.
Bodoh! Aku melakukan ini agar kamu cepat tertidur, obat tidur itu membutuhkan waktu sekitar lima belas menit agar berfungsi. Kata Aluna di dalam hati seraya memperlihatkan senyum manisnya.
Tentu saja senyum yang ditunjukkan Aluna adalah senyum kepalsuan. Kalau tidak demi adiknya dia tak ingin merendahkan dirinya memijat tangan Helen.
__ADS_1