
Kafe Amor selalu ramai dengan pengunjung tiap malam. Tidak hanya sebagai tempat makan atau minum saja. Banyak diantara pengunjung, sengaja memilih kafe Amor sebagai tempat berkumpul dan menghabiskan malam, melepas penat setelah seharian beraktifitas. Sama dengan Noah dan Ara, beberapa botol wine sudah tersedia di atas meja sepaket bersama dua gelas bening yang ditaruh sejajar berdekatan.
"Apa aku terlalu kejam sebagai seorang lelaki?" tanya Noah seraya menyesap perlahan wine yang sudah memenuhi setengah gelasnya.
"Kejam? Apa dia begitu baik sampai kau menyebut dirimu kejam?" tanya Ara. Tangannya yang lembut dengan cekatan menuangkan lagi cairan berwarna merah pekat itu ke dalam gelas miliknya, "kenapa aku malah bahagia mendengar kamu putus dengan pacarmu!"
Kedua insan itu terlihat sudah mabuk. Beberapa gelas wine membuat tubuh mereka kehilangan kemampuan berkoordinasi, emosi mereka sedang tidak stabil. Dari tadi Noah dan Ara tak berhenti meracau.
"Menikmati tubuhnya saja aku belum pernah, kenapa harus menyebut diriku kejam?" Noah terkekeh pada dirinya sendiri, "bagi keluarga Lisa, aku bagaikan duri yang menempel di daging mereka. Dianggap sebagai penyebab kesakitan. Sama sekali tidak diinginkan dan sengaja dihilangkan."
Sebenarnya tak ada niatan sedikit pun mereka mabuk. Hanya saja saat itu, hati Noah benar-benar sangat kacau. Noah yang sangat frustrasi awalnya memesan satu botol wine yang akan dia minum hanya satu atau dua gelas saja. Namun, bukannya menyudahi malah dia terus-terusan meminumnya lagi dan lagi.
Sementara Ara, gadis itu terlalu polos untuk membedakan mana minuman beralkohol atau bukan. Yang dia pikir, minuman itu adalah minuman dari sari buah yang telah difermentasikan. Ara yang tak tahu sudah menenggaknya beberapa gelas.
"Minuman apa ini? Kenapa kepalaku mendadak pusing. Perutku rasanya mual sekali." Terlihat gerakan mulut Ara seperti ingin mengeluarkan sesuatu yang membuat mual perutnya. "Hoeek!"
"Kau terlalu amatir. Tadi aku bilang tak usah ikut minum, kenapa kamu malah meminumnya, Nona Helen?"
Noah membantu Ara memijat tengkuknya dengan tangan, agar Ara lebih mudah mengeluarkan isi perutnya di wastafel. Tak ada niatan sedikit pun dia mengajak gadis itu mabuk. Bahkan ini kali pertamanya Noah minum dengan seorang perempuan.
Noah memapah tubuh Ara kembali ke tempat duduknya. Baru kali ini Ara merasakan sensasi yang berbeda di tubuhnya. Daya hayalnya tiba-tiba meningkat tinggi. Dalam imajinasinya, dia melihat muka Noah seperti muka aktor idola favoritnya di dunia nyata.
"Oppa, jadikan aku pacarmu." Ara merangkul pundak Noah, "sudah aku bilang, aku ini bukan Helen. Tetapi, A-r-a! Apa kamu masih kurang jelas?" Jari telunjuknya ia tempelkan di bibir Noah.
Tidak seperti Ara yang mabuk berat. Walaupun Noah lebih banyak minum. Kesadarannya masih lebih baik daripada Ara.
"Dari awal bertemu aku sudah menyukaimu," kata perempuan dengan rambut sebahu itu lagi.
__ADS_1
Biasanya dalam keadaan mabuk, orang akan lebih banyak berkata jujur, semua isi hatinya lebih banyak tercurahkan tanpa ada perasaan malu sedikit pun. Akan tetapi, tetap saja Noah menganggap ucapan Ara hanya sebuah lelucon dikala ia mabuk.
"Sebaiknya aku antar kamu pulang agar tidak terjadi yang tak diinginkan," kata Noah.
Bukannya mengiyakan, Ara malah menepuk-nepuk dada Noah. "Apa kamu masih mencintai gadis itu, Hah? Aku tahu semua tentang kamu dan Lisa. Aku sudah membaca separuh cerita kalian. Sudahlah akui saja kalau kamu masih mencintainya. Ha ... ha ... kalau iya, bolehkah aku jadi pelakor dalam hubungan kalian?"
"Hoek!"
Kedua kalinya Ara memuntahkan semua isi perutnya. Kali ini tepat mengenai bagian depan baju Noah dan dirinya.
"Bajumu basah. Kamu bisa masuk angin, Nona. Cepat kita pulang."
Wajah Ara terlihat merah merona saat Noah membersihkan muntahan di kaos Ara dengan tangannya. Untung saja Noah masih menahan kesadaran diri agar tidak berbuat yang aneh-aneh. Walaupun sebenarnya lelaki itu berulang kali menelan salivanya saat melihat dua bukit kembar Ara yang menyembul.
Kenapa terlihat lebih besar dari biasanya? Gumam Noah seraya mengusap matanya.
"Berapa totalnya?" tanya Noah kepada petugas kasir, "apa di sini ada air kelapa muda? Kalau iya aku ingin memesannya."
"Tidak ada, Tuan. Kami tidak menyediakan air kelapa muda."
"Baiklah, aku pesan tiga air mineral saja."
"Dua juta untuk empat botol wine, dan seratus ribu untuk tiga air mineral. Jadi totalnya 2.100.000," kata kasir menunjukkan deretan angka di layar berukuran mini di atas mesin cash register.
Saat Noah mengambil kartu kredit miliknya di saku. Tak sadar dia melepaskan tubuh Ara. Otomatis, tubuh Ara langsung terjatuh ke lantai.
Sambil memegang kepalanya Ara memaksakan kakinya agar bisa berdiri. "Kenapa kamu melepaskanku, Oppa?"
__ADS_1
Baru beberapa langkah menuju pintu keluar, cara jalan Ara sudah terlihat sempoyongan. Dia merasa seakan kepalanya berkunang-kunang, tubuhnya tiba-tiba mendadak tak seimbang dan tak sadarkan diri menabrak pintu kaca di depannya.
Prank!
"Argh!" Teriakan Ara sama kerasnya dengan suara pecahan kaca yang saling beradu nyaring. Beberapa puingnya berserakan di lantai bahkan ada beberapa yang mengenai tubuhnya yang lunglai ke lantai.
"Nona Ara!" teriak Noah.
Dibantu beberapa pelayan, Noah mengangkat tubuh Ara menjauhi pecahan kaca. Akibat tabrakan tadi, Ara tiba-tiba pingsan dan tak sadarkan diri.
"Bagaimana ini? Aku harus menelepon Alvin."
Ditekannya nomor kontak Alvin.
Sayangnya, sudah sepuluh panggilan telepon dilakukan Noah. Namun satu pun tak ada yang diangkat Alvin. Ya, tentu saja karena Alvin telah mensenyapkan handphonenya. Terlebih saat Noah menelepon, posisi Alvin sedang berci uman dengan Aluna di mobil.
"Tuan, Anda tidak bisa pergi sebelum mengganti rugi semuanya," kata pegawai kafe menodong Noah agar tak kabur.
"Baiklah, pakai saja kartu kredit ini untuk membayar semua kerugiannya." Dengan sangat terpaksa Noah memberikan kartu kredit miliknya kepada pegawai kasir.
Pusing di kepala Noah tiba-tiba bertambah dua kali lipat, ketika dia melihat nominal uang yang harus dibayar. Bukan hanya karena alkohol yang membuatnya pusing, melainkan setelah ini dia harus membayar lebih, tagihan kartu kreditnya yang membengkak gara-gara Ara memecahkan pintu kaca dan beberapa botol wine.
...###...
Permisi kakak, othor mau promosikan karya teman sesama penulis dengan genre romance. Baca dulu baru tahu keseruan ceritanya.
Yuk langsung baca aja di Noveltoon.
__ADS_1