
Ara berlari tanpa menoleh meninggalkan Noah di kantor polisi. 'Apa mungkin Helen yang dia maksud adalah tokoh antagonis di novel Terjebak Cinta Presdir Paranoid yang sering aku baca? Noah! Bukankah dia adalah teman protagonis pria? Tidak! Berarti aku sedang berada di dunia novel!' Ara terus membatin, berlari sekuat mungkin menjauhi Noah.
Dengan kemampuannya telah membaca novel tersebut, Ara mengetahui setting dan nama-nama pemeran, termasuk Noah. Namun, Ara belum menyadari kalau kakaknya telah berisekai lebih dulu. Ara begitu ketakutan, dia ingin kembali. Dia mulai sadar akibat pingsan melihat kakaknya akan dioperasi membuatnya kini berpindah dimensi.
Aku tidak mau berada di sini! Kakakku pasti mencariku. Aku harus menunggu kak Aluna di ruang operasi. Bagaimana caraku agar bisa kembali ke dunia nyata? Pikir Ara sambil terus berlari.
"Kakak ... aku tidak mau berada di sini," teriak Ara.
Ara yang terus berlari, menghiraukan apa pun. Dia melewati kerumunan orang. Melewati beberapa orang yang berlalu lalang melakukan jual beli di tengah pasar. Melihat penampilan Ara yang berantakan berlari tanpa mengenakan alas kaki membuat pasang mata melihat aneh ke arahnya. Ara terlihat seperti pasien sakit jiwa yang sedang berlari karena kabur dari rumah sakit jiwa.
Bruk!
Tak sengaja Ara menyenggol seorang wanita tua yang sedang menjinjing jeruk menggunakan keranjang. Akibatnya, ada beberapa jeruk yang terjatuh di tanah.
"Maaf, Nyonya! Aku tidak sengaja." Ara langsung mengambil satu persatu jeruk yang berjatuhan lalu menaruhnya lagi ke keranjangnya. Untungnya wanita itu tidak marah. Dia hanya mengernyitkan dahinya, menatap iba ke arah Ara yang terlihat berantakan. Dia melihat baju Ara yang sangat hitam dan kotor akibat menolong Noah tadi pagi. Rambut pendeknya pun terlihat urakan dan kumal.
"Dari tekstur dan baunya, sepertinya jeruk yang Anda pilih tidak terlalu masam dan tidak terlalu manis. Anda sangat pandai memilihnya. Maaf, Nyonya. Aku telah membuat kotor jeruk Anda." Ara memuji wanita paruh baya itu sambil membersihkan dan tersenyum.
"Terima kasih, Nona manis. Kenapa kamu berlarian di tengah pasar menggunakan baju kotor seperti ini?"
"Aku tadi--" Belum sempat menjawab, Ara dibuat tercengang oleh seseorang.
Tiba-tiba dari jauh dia melihat Noah sedang berlari mendekat ke arahnya. Sontak, dia pun terkaget dan bertanya-tanya dalam hati. Ara kembali teringat kalau dia harus cepat kembali ke dunia nyata menemui kakaknya.
"Nona Ara! Tunggu, Nona!" Teriak Noah.
Kenapa dia malah mengejarku? Batin Ara.
"Aku tinggal dulu, Nyonya." Melihat Noah mengejarnya membuat Ara ketakutan. Secepat mungkin, dia pun meninggalkan wanita itu dan berlari lagi.
"Nona Ara!"
Ketika Ara sudah menjauh dan Noah hendak melewatinya, wanita pembawa jeruk malah menahan tangan Noah. "Tunggu!" Dia menatap curiga dan langsung berpikiran negatif.
__ADS_1
"Haish. Jangan-jangan wanita muda itu berlari karena kamu ingin menyakitinya. Kenapa wanita itu begitu ketakutan? Siapa kamu?" tanyanya sinis.
"Nyonya lepaskan! Apa-apaan ini?" Noah berusaha melepaskan tangannya.
"Aku melihat wajah wanita itu sangat frustrasi, sepertinya kamu berniat menyakitinya. Aku tidak akan melepaskanmu! Kamu siapanya wanita muda itu, hah? Kenapa kamu mengejarnya?" Wanita itu terus mencengkeram lengan Noah mencecar banyak pertanyaan.
"Nyonya aku tidak ingin menyakitinya. Aku ... baiklah ... aku adalah pacar wanita itu." Tanpa sadar kalimat itu keluar sendiri dari dalam mulutnya.
"Jangan berbohong!" Bentak wanita tua.
"Be-benar, Nyonya! Jadi tolong lepaskan aku!"
"Jadi dia wanitamu? Kalau dia pacarmu, kenapa kamu membiarkan dia berlari mengenakan pakaian kotor seperti itu?" Wanita tua itu mencubit tangan Noah.
"Argh! Tentu saja aku mengejarnya karena ingin membawanya pulang." Noah meringis menahan sakit.
"Apa kalian sedang salah paham?"
Noah pun mengangguk lagi. "Ya, dugaan Anda betul, Nyonya. Tolong lepaskan! Kalau tidak pacarku akan terus salah paham. Anda tahu kan salah paham dapat menghancurkan sebuah hubungan." Noah terpaksa berbohong agar wanita itu mau melepas tangannya.
"Dari wajahmu sepertinya kamu lelaki baik-baik. Baiklah aku percaya, aku juga akan melepasmu. Asal ...." Wanita tua itu terlihat berpikir, "... asal kamu berjanji akan mencintai dan tidak akan menyakitinya?"
Mendengar ucapan wanita itu membuat Noah menelan ludahnya. Dia terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dalam hati Noah apa mungkin dia mengiyakan ucapan wanita itu lagi? Bagaimana mungkin dia bisa mencintai wanita yang baru dia kenal beberapa jam yang lalu?
"Bagaimana apa kamu mau?" Wanita tua itu kembali mencubit Noah.
"Argh! Iya, Nyonya. Aku berjanji!" Lagi-lagi Noah meringis dan mengiyakan.
"Bagus! Cepat kejar dia. Jangan biarkan wanitamu lepas begitu saja. Meskipun bukan berasal dari sini, dia bukanlah wanita biasa." Wanita tua itu mendorong Noah agar segera berlari mengejar Ara.
Noah menghiraukan kata-kata wanita itu. Dia yang merasa lega karena lepas darinya, langsung berlari kencang. Noah merasa takut dengan tatapan wanita tua yang begitu menyeringai seperti hendak menerkamnya.
"Pesanku, hati-hati dia mudah berubah!" teriak wanita tua yang berinisal K itu lagi sebelum Noah benar-benar menghilang.
__ADS_1
***
Di persimpangan jalan. Noah melihat Ara sedang berjalan kebingungan. Ekspresi wajah Ara pun antara sadar dan tidak. Dia melihat Ara berjalan cepat sambil terus mengusap air matanya.
"Nona, tunggu ...!" teriak Noah.
Namun kali ini Ara tak mendengar. Dia terus berjalan cepat seakan tidak peduli dengan suara atau apa pun di sekelilingnya. Dalam pikirannya hanya ada Aluna dan ingin cepat kembali ke dunianya. Ara tidak sadar ada sebuah truk besar sedang melaju dari ujung jalan, sementara dia hendak berjalan maju melewatinya. Ara tidak sadar kalau dia terus berjalan maju ke jalan raya.
"Aku harus kembali! Apa aku harus tidak sadar dulu baru bisa kembali?" ucap Ara kepada dirinya sendiri. Dari ritme yang ia ketahui, dia akan kembali ketika si pemilik tubuh sudah tidak sadar.
Tiba-tiba dari arah kanan sebuah truk terus melaju cepat, sementara Ara masih terus berpikir.
"Awaassss!! Teriak Noah.
Ara tetap tak mendengar dan terus berjalan.
"Nona minggir ....!"
Tin ... tin ... tin....
Terdengar nyaring suara klakson mobil truk. Namun, Ara tetap menghiraukan. Sementara Noah yang terus meneriaki menambah kecepatan larinya mendekati Ara.
Ciiiiitttttt!!!!
Mobil truk berusaha mengerem mobilnya.
"Awas!"
Bruk!
"Arghhhh!!" teriak Noah dan Ara berbarengan.
Dengan gerakan cepat Noah meme luk tubuh Ara dan menariknya ke bahu jalan. Karena gerakannya yang sangat cepat membuat tubuh mereka tak seimbang. Mereka berdua pun berguling-guling bersamaan ke samping jalan.
__ADS_1
Noah berhasil menyelamatkan Ara dari terjangan truk besar itu. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Noah setelah semuanya selamat. Nafas Noah terengah-engah, dia pun baru menyadari ternyata posisi tubuhnya sedang berada di bawah.