
"Helen, sebaiknya kita pulang. Kamu ngga usah bersedih, Nak. Mereka pasti menyesal memperlakukanmu seperti ini." Mona menyeka sisa wine di rambut anaknya.
"Jadi benar kamu yang sengaja memfitnah anakku Luna!" Setelah kepergian Clara dan teman-temannya, Hideon langsung mendekati Mona dan anak tirinya.
Mereka hanya diam tak berkutik. Yah, kalimat terakhir Hideon membuat Mona tak berani mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah suaminya. Tak berani menjawab, Mona kembali sibuk membersihkan rambut anaknya.
"Kenapa kalian diam saja? Aku sangat kecewa dengan kalian berdua!" Bentak Hideon.
Mona yang merasa dibentak memberanikan diri melihat suaminya. "Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kita bisa jelaskan nanti di rumah." Mona berdiri berusaha merayu Hideon.
Namun, tangan Hideon keburu menepis tangan wanita itu. Yah, baru kali ini dia sangat menyesal menikahi Mona. "Apa salah anakku sampai kalian sejahat itu? Ternyata selama ini aku salah menilai, aku sangat malu dengan kelakuan kalian!" serunya.
"Sayang, sebaiknya kita jelaskan di rumah." Rayu Mona memegang tangan Hideon.
"Lepaskan! Aku sangat kecewa! Aku juga tak menyangka denganmu juga Devan! Berani-beraninya kamu menyebarkan berita hoax dengan memfitnah anakku tidur bersamamu!"
Bug.
Sekarang giliran Hideon memukul Devan. "Sekarang aku tidak ingin bekerja sama dengan perusahaanmu lagi! Besok aku akan mengambil seluruh saham milikku. Aku juga akan pastikan semua rekan bisnisku tidak akan mau bekerja sama denganmu lagi!"
Tentu saja Devan kembali merasa malu karena malam ini tiga orang telah memukulnya dan dia hanya diam saja. Devan mengusap darah yang menetes pada ujung bibirnya. Dalam hati lelaki itu sudah sangat geram bercampur malu.
"Masalah kita belum selesai, kita selesaikan di rumah!" Hideon mendorong Mona hingga terjatuh di lantai. Pria itu dengan rasa kecewanya lalu pergi meninggalkan mereka.
Brakk!
__ADS_1
Bersamaan dengan perginya Hideon, Devan yang merasa kesal menggebrak meja lalu pergi dengan perasaaan marah.
"Aku curiga dengan Luna, sekarang wanita itu sangat pintar dan kuat! Aku tidak percaya Luna berubah sangat cepat semenjak kecelakaan itu." Helen berkata dengan pelan kepada ibunya.
"Benar! Mommy juga tak percaya! Semenjak kecelakaan itu, Luna berubah drastis." Mona masih merapihkan rambut Helen.
"Luna yang aku lihat malam ini, seperti orang lain. Apa mungkin dia bukan Luna?" Helen semakin bertanya-tanya.
Aku harus menyelidikinya, batin Helen.
***
Di Dalam Lift.
"Ibu sangat kagum denganmu, Nak. Di saat kami tidak mempercayaimu, kamu malah memikirkan cara agar menjatuhkan satu musuh Alvin di dunia bisnis. Aku suka dengan tindakanmu malam ini, tidak hanya memikirkan pernikahanmu, tetapi kamu juga memikirkan bisnis keluarga kami." Clara mengusap lembut tangan Aluna.
"Ha.. ha.. tentu saja ibu mertua, aku juga sangat menyayangi kalian semua." Aluna merasa tersipu malu karena pujian yang diterimanya barusan.
"Ah, benar! Sepertinya Luna adalah contoh menantu idaman. Aku sangat ingin memiliki menantu seperti Luna, selain cantik dia juga sangat pintar. Beruntung sekali Alvin memilikinya," balas teman Clara.
Sementara Alvin yang terasingkan, sedang mencari cela agar menarik Aluna dari ibunya. Yah, dari tadi Alvin menunggu saat berakhirnya acara, ingin memiliki waktu berdua dengan Aluna. Sayangnya Aluna sepertinya sangat ingin menghindar, ingin berlama-lama berada di sebelah Clara.
Luna, aku sudah tidak sabar...batin Alvin yang sedang memikirkan sesuatu sembari tersenyum.
Kenapa dia tersenyum sendiri? Apa yang sedang ada dipikirannya? Pikir Aluna.
__ADS_1
Tentu saja malam ini aku ingin memakanmu, batin Alvin mencoba mencuri pandangan mata Aluna.
Ah' tidak! Kenapa dia mengedipkan satu matanya.
Ting.
Pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai satu lalu keluar dari dalam lift bersama-sama.
"Ibu mertua, izinkan aku ikut denganmu pulang! Sepertinya malam ini aku masih ingin mengobrol banyak dengan kalian," ucap Aluna merayu Clara.
Mereka semua berjalan menuju pintu keluar.
Clara menoleh ke arah Alvin sebentar. "Tidak sayang! Kami akan pulang terpisah. Malam ini kamu pulang saja dengan suamimu," ucap Clara.
Tentu saja, Clara tahu dengan bahasa tubuh yang ditunjukkan anaknya kepada Luna. Walaupun dia sendiri masih ingin berbicara banyak dengan menantunya, segera diurungkannya. Jelas Clara tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.
"Alvin, antar istrimu pulang! Kami pamit pulang duluan." Clara dan teman-temannya melambaikan tangan ke arah Luna.
"Hati-hati di jalan ibu mertua," balas Aluna.
Sesaat setelah Clara dan teman-temannya meninggalkan mereka berdua.
Tiba-tiba kalung sistem menyala.
...Selamat Nona Aluna, besok Anda akan mendapatkan dua tas saran....
__ADS_1