TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
243


__ADS_3

Aluna baru ingat kalau Luna memiliki sebuah buku harian. Sayangnya, dia tak ingat lagi menaruh buku itu di mana. Terakhir dia membacanya ketika sedang pisah ranjang dengan Alvin beberapa minggu yang lalu.


"Buku harian itu, aku harus mencarinya. Aku yakin ada petunjuk di buku tersebut," gumam Aluna.


Hari sudah semakin petang, sebentar lagi Alvin akan pulang dari bekerja. Saat itu setelah selesai memandikan Zero, Aluna bergegas ke kamar Luna yang dulu untuk mencari buku tersebut.


"Sepertinya mama sedang mencari sesuatu?" tanya Zero tiba-tiba. Dia melihat pandangan mata Aluna yang terlihat gamang.


"Ya, mama sedang mencari sebuah buku. Ze, kamu main sebentar di sini yah! Mama akan pergi sebentar ke kamar sebelah," jawab Aluna.


Zero mengangguk, dan meneruskan kembali membuat miniatur gedung yang tadi dia tinggal sebelum mandi.


Sementara di kamar sebelah, tepatnya berjarak tiga ruangan dari kamar Zero. Aluna langsung merangsek masuk dan berjalan menuju lemari.


"Di mana buku itu? Aku yakin menaruhnya di sini," gumam Aluna lagi.


Di lemari terlihat beberapa baju milik Luna yang menggantung. Tidak ada apa pun selain pakaian itu, kecuali beberapa pembalut sisa yang belum digunakan Luna.


Beberapa menit mencari nyatanya belum berhasil dia temukan. Aluna kembali mengobrak-abrik tempat tidur. Membuka laci dan hordeng, mencari di setiap sudut kamar sampai kamar mandi pun tak luput dari jangkauannya.


"Di mana buku itu? Apa tertinggal di rumah Ayah? Aku harus mencari pelayan yang membersihkan kamar ini," gumam Aluna.


Kamar itu Aluna tinggalkan sudah lama, mungkin saja pelayan yang membersihkan ruangan itu yang menemukannya. Kalau iya, dia harus mencari pelayan itu sekarang.


"Pelayan An," panggil Aluna kepada seorang pelayan, kebetulan pelayan tersebut tidak jauh dari kamar.


"Yah, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Pelayan An balik bertanya.


Aluna mendekati pelayan dan berbisik pelan. "Apa Bibi yang membersihkan kamar itu?" tanyanya sambil menunjuk kamar Luna.

__ADS_1


Pelayan An mengangguk, dia kembali bertanya apa yang Aluna butuhkan sekarang.


"Apa bibi menemukan sebuah buku di kamar itu?" Aluna kembali bertanya.


Kening Pelayan An berkerut, dia mengingat lagi saat dia terakhir membersihkan kamar itu. Kemudian pelayan An, meminta izin untuk mengambil sesuatu.


"Nyonya muda, ada sesuatu yang aku temukan di dalam kamar itu. Tapi bukan sebuah buku, hanya beberapa potongan kertas di dalam sebuah amplop. Dan satu lagi ...." Pelayan An menghentikan ucapannya.


Aluna diam sejenak mengamati ekspresi pelayan An selanjutnya. "Satu lagi apa, Bibi?"


Pelayan An mengembuskan napas sedikit berat, "Nyonya, tunggu di sini sebentar aku mengambil benda itu dulu."


Kemudian pelayan An meninggalkan Aluna seorang diri di lorong kamar. Aluna masih bertanya-tanya, sebenarnya benda apa yang ditemukan wanita tua tersebut sampai raut wajahnya terlihat lain.


Lima menit belum kembali, Aluna memutuskan untuk melihat sejenak Zero di dalam kamarnya. Aluna melihat Zero masih menyusun satu persatu balok, membentuk miniatur beberapa bangunan dan menyusunnya hingga membentuk seperti kota kecil.


Susunannya sangat detail. Zero bahkan melukis di atas papan kayu, seperti sebuah jalan raya yang beraspal. Ada mobil-mobil kecil yang ditaruh di atasnya seperti jalan sungguhan. Agar terkesan alami, Zero menaruh beberapa miniatur berbentuk manusia di setiap sudut, seperti orang-orang yang sedang melakukan aktivitas.


"Aku ingin membuat sebuah kota kecil yang aku lihat di sepanjang jalan tadi, Mama. Tapi ... sudah tak ada sisa balok lagi, dan aku belum menyelesaikannya. Padahal aku sudah janji ingin menyelesaikannya sebelum papa datang," jawab Zero.


Aluna mengamati setiap detail gedung-gedung kecil yang Zero buat. Ya, penyusunannya berhenti karena sudah tak ada lagi balok kecil yang tersisa.


"Ini sudah hampir jadi," kata Aluna masih mengamati kekurangannya. Menurut Aluna kota buatan Zero sudah selesai, tetapi belum menurut Zero.


Zero tampak diam sejenak melihat hasil karyanya yang belum jadi. Dari sekian banyak mainan yang dibeli nenek Alma, hanya mainan itulah yang membuatnya penasaran. Dari balok kayu sederhana dan beberapa mainan lainnya, dia ingin membuat sebuah karya yang terkesan mewah. Membuat kota kecil impiannya.


"Tidak ada taman bermain dan lapangan bola. Lapangan dan taman adalah tempat yang menyenangkan. Di tempat itu aku bisa mendapatkan teman yang baru, bermain bola, dan melakukan permainan yang lainnya seperti di desa tempat Sindi," kata Zero sedikit murung.


Aluna mengangguk akhirnya mengerti. Aluna tak paham tentang seni dan arsitektur, dia hanya membantu sekedarnya dari tadi siang. Aluna pikir Zero hanya akan membuat sebuah gedung kecil, nyatanya dia malah memperluas imajinasinya ingin membangun kota impian di kamarnya.

__ADS_1


"Kau hebat, kau pasti bisa menyelesaikannya nanti. Sekarang apa yang kamu butuhkan lagi untuk menyelesaikannya? Mama akan bilang ke papa untuk membelikannya?" tanya Aluna.


"Aku belum pernah melihat taman bermain. Jadi aku belum bisa membayangkannya, Mama," jawab Zero.


"Lalu apa lagi? Mama akan belikan lagi balok-balok kecil sisanya. Mama juga akan mengajakmu nanti berkeliling kota dan melihat taman bermain," kata Aluna.


Zero menggeleng. Dia tak mau mengecewakan ke dua orang tuanya dengan permintaan yang banyak. Dia hanya ingin melihat sebuah taman, bermain di sana dan berimajinasi ingin membuat miniaturnya.


"Benar tidak ada lagi?"


Zero kembali menggeleng.


"Sekarang sudah mulai malam. Sambil menunggu papa pulang, kita istirahat dulu, yuk? Besok Ze sudah mulai sekolah, mama sudah mencarikan sekolah yang baru untukmu," kata Aluna.


"Waaah, terima kasih, Mama. Aku sangat senang pasti aku akan punya banyak teman baru lagi," ucap Zero kegirangan.


"Yah, nanti mama akan mengantar dan menjemputmu besok. Setelah pulang nanti, Mama akan mengajakmu juga ke sebuah taman bermain."


Zero kembali kegirangan. Sudah lama dia tak sekolah, dan ingin cepat besok bertemu teman-teman barunya. Dia pun senang karena Aluna ingin mengajaknya ke sebuah taman bermain.


Di saat bersamaan, kalung sistem berkedip dan Zero melihatnya. Zero mengamati perubahan warna di kalung Aluna.


"Lihat Mama, kalungnya menyala." Zero kaget sambil memegang bandul di kalung Aluna.


Aluna terkejut jangan sampai Zero mendengar ucapan sistem. Kalau dia bisa melihat sensor di kalung itu, kemungkinan dia pun dapat mendengar ucapan sistem. Buru-buru dimasukkannya lagi kalung itu ke dalam bajunya hingga tak terlihat Zero. "Mama pergi sebentar ke toilet. Tunggu sebentar di sini ya, Ze," ucap Aluna setengah berlari menuju ke toilet.


Zero mengangguk. Masih penasaran dia memandangi punggung ibunya yang semakin menjauh. Dalam hatinya, dia seperti pernah melihat batu giok yang menjadi bandul di kalung ibunya. Yah, batu giok yang memancarkan cahaya merah, tapi Zero lupa pernah melihatnya di mana.


Di dalam kamar mandi Aluna langsung menepuk kalung sistem.

__ADS_1


[Nona Aluna, misi Anda menjadi sekretaris Alvin belum berakhir. Besok, Anda harus kembali bekerja.]


__ADS_2