
Hari sudah beranjak siang, akan tetapi Aluna masih berkutat di bawah selimutnya, memeluk guling sambil mengingat lagi ucapan Alvin sebelum ia tidur. Pagi tadi sebelum Aluna tertidur, Alvin menemaninya bercengkrama beberapa menit. Ya, lelaki itu hanya ingin memastikan Aluna sudah tidur di kamarnya. Semenjak kejadian beberapa jam yang lalu, sifat paranoid Alvin kembali muncul.
^^^Tidurlah! Aku tidak akan pergi sebelum kamu tidur.^^^
^^^Aku tidak akan pergi kemana pun. Sebentar lagi aku akan tidur, jadi anda beristirahatlah di kamarmu, Suamiku!.^^^
^^^Jangan membuatku mengulang kata-kata lagi, ucap Alvin.^^^
^^^Bukankah Anda juga mengantuk?^^^
^^^Cepatlah tidur! Atau aku akan menggangumu dengan cara yang lain!^^^
Gara-gara ucapan terakhir Alvin, membuat Aluna langsung membenamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut dan hanya menyisakan bagian kepala yang terlihat menyembul. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Aluna yang takut dengan ancaman Alvin, langsung tertidur pulas lewat beberapa menit setelahnya.
Apa mungkin aku sudah ...? Ah' sudahlah Aluna, ini hanya dunia halusinasi. Gumam Aluna.
Kini, gadis itu sudah membuka lebar matanya, sambil tersenyum sendiri Aluna mengingat-ingat kembali wajah manis Alvin, ketika mengenakan baju tidur yang sama dengannya. Dalam pikiran Aluna mungkinkah seorang Alvin sudah jatuh cinta sepenuhnya kepada Luna? Sementara Aluna sendiri tak yakin, ia tak mengerti standar cinta dari seorang lelaki. Sementara, seumur hidupnya ia belum pernah sekalipun berpacaran, yang dipikirkan dalam hidupnya adalah bekerja, bekerja, dan bekerja.
...[Nona, selesaikan misimu hari ini]...
Tiba-tiba kalung berkedip memperingatinya.
"Sepertinya sudah siang." Aluna menggerakkan tangannya, mengulet selebar mungkin.
"Hoaem." Aluna menutup mulutnya yang masih menguap. "padahal aku masih sangat mengantuk! sayangnya aku harus segera menyelesaikan misi hari ini."
Aluna melihat jam di handphone, rupanya sudah pukul delapan pagi. Dengan sangat terpaksa, Aluna memaksakan kedua kakinya segera turun dari atas ranjang. Wanita itu berjalan sangat gontai menuju kamar mandi.
Beberapa kali sapuan air ke wajahnya, membuat Aluna kembali sadar sepenuhnya. Tak mau banyak membuang waktu ia ingin segera membersihkan diri dan segera menyelesaikan misi secepat mungkin.
__ADS_1
"Setelah ini, aku harus mencari Alvin agar misi ini cepat terselesaikan," gumam Aluna.
Baru memegang handle pintu kamar mandi, Aluna mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Nona Luna."
"Nona, di manakah Anda? Nyonya besar menunggu Anda di bawah." Terdengar lagi ada seseorang memanggilnya.
Huft! Aluna mengembuskan kasar napasnya, baru saja ingin membersihkan diri, ada pelayan yang memanggilnya.
"Maaf, Nona. Anda ditunggu Nyonya besar di bawah. Nyonya mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan," ucap pelayan kepada Aluna setelah wanita itu keluar dari kamar mandi.
"Tapi aku belum mandi," jawab Aluna.
"Maaf, Nyonya sudah menunggu satu jam ketika Anda masih tidur. Nyonya Clara juga bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan." Pelayan terus menunduk menjelaskan.
"Baiklah, katakan saja kepada ibu mertua kalau aku akan turun lima menit lagi." Aluna bergegas mandi secepat kilat, lalu turun.
Baru berjalan beberapa langkah, Aluna langsung menghentikannya begitu tahu di ruang tamu ada Helen dan Mona. Aluna tampak ragu, akan menemui panggilan mertuanya? Atau akan pergi karena sudah merasa muak dengan tingkah Helen?
Sepertinya mereka akan mengatakan hal yang buruk. Aku harus waspada! Benar kata Alvin kalau aku harus menggunakan otak, bukan dengan otot.
Belum sampai ke tempat mereka, Aluna sudah lebih dulu melihat wajah tak senang mertua dan Nenek Alma. Aluna berdiri mematung di sudut ruang tamu, memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka dahulu.
"Maaf, Nyonya. Kami datang kemari semata-mata demi kebaikan Luna dan keluarga Anda. Kami tidak ingin ada hal buruk yang menimpa keluarga kalian karena Luna. Ya, Luna adalah wanita yang kasar dan membahayakan. Luarnya saja tampak lembut, tetapi sifatnya sangat emosional. Lihat bahkan dia sampai melukai adiknya sendiri," ucap Mona menunjuk lengan Helen.
Sialan! Mereka masih saja terus menjelekkanku! batin Aluna terus mengamati.
"Jadi kedatangan kalian untuk mengeluh atau mau menuntut kami?" tanya Clara.
__ADS_1
Ya, sudah hampir satu jam lamanya mereka menunggu Aluna di ruang tamu menunggu gadis itu bangun dari tidurnya. Helen dan Mona sengaja menunggunya turun agar nenek lebih mempercayai cerita mereka berdua.
"Aku tidak yakin Luna yang melakukannya. Luna adalah Wanita yang baik dan patuh. Mana mungkin dia yang melakukannya!" seru Clara tidak terima.
Mona menelan ludah beberapa kali, Ia masih terus berpikir harus mengeluarkan kata-kata pamungkas
apa lagi yang harus dia lakukan agar nenek Alma langsung mempercayainya.
Jadi ibu mertua dan nenek tidak marah padaku? Kalau begitu aku mau menemui wanita sialan itu lagi.
Mendengar Ny, Clara mempercayainya, akhirnya Aluna memutuskan untuk menemui mertuanya. Baginya, sekarang dia harus menjadi menantu penurut di depan keduanya.
"Selamat pagi Ibu mertua, selamat pagi Nenek!" Begitu datang, Aluna langsung bergantian memeluk Clara dan nenek Alma.
"Akhirnya kamu datang juga, Kak!" raut wajah Helen langsung berubah.
Sebenarnya dari tadi Nenek Alma ingin memanggilnya turun, mengkonfirmasi keadaan Luna di kamar. Namun, karena Aluna masih tidur, ia tidak tega, membiarkan Helen dan Mona harus menunggu di ruang tamu dengan nenek menemani nenek meminum teh.
"Apa tidurmu nyenyak, Luna?" tanya Nenek Alma, dia membiarkan Aluna memeluknya dengan manja.
Melihat keakraban Nenek Alma dan Aluna, Helen semakin panas melihatnya. Bagaimana tidak panas, bahkan dia yang bertahun-tahun mengenal keluarga Alvin pun tidak pernah sehangat itu kepada nenek.
"Luna, apa luka di kepalamu sudah di obati?" Mona berusaha memperlihatkan perhatiannya kepada Aluna.
Baru saja dibuat hangat, sekarang wajah Clara dan Nenek Alma kembali masam. Tersirat di otaknya kalau mereka berdua akan menyalahkan dan membuat Aluna malu.
"Aku baik-baik saja! Aku akan memberitahukan kepada kalian, bahwa suamiku sendiri yang mengobatinya langsung. Ya, suamiku begitu perhatian bukan?" jawab Aluna memanasi Helen menunjuk plester di keningnya. Aluna yang duduk di sebelah Nenek Alma, terus bersikap manja dengan memijat lembut punggung wanita tua itu.
"Tentu saja Alvin sangat perhatian. Lihatlah! Nenek saja sangat menyukai Luna," tambah Clara memanasi.
__ADS_1
Helen yang melihat keakraban mereka begitu geram, kupingnya mendadak panas ketika Clara mengatakan kalau Luna adalah wanita penurut.