
"Maaf aku sedikit lama," kata Aluna memasuki ruangan Alvin.
Sebelum Aluna sampai di ruangan itu, terlebih dulu ia mengambil makanan yang sudah dipesannya lewat aplikasi online. Makanan itu dibawanya untuk mereka makan berdua.
"Aku sudah pesankan makanan untukmu, ayo kita makan dulu," kata Aluna setelah makanannya sudah dia siapkan di meja.
Biasanya Alvin tak pernah meninggalkan sarapan paginya, namun sejak kehadiran Aluna, Alvin selalu ingin makan berdua dengan wanita itu. Sampai-sampai sarapan yang seharusnya dia lakukan setiap pagi, mundur hingga jam sebelas.
Sekarang mereka berdua sudah duduk di depan meja kecil yang disulap Aluna untuk makan siang. Aluna menyajikan nasi, daging, dan terong rebus yang dipesannya di atas piring, lalu memberikannya kepada Alvin. "Makanlah, setelah ini ada yang ingin aku bicarakan."
Setengah jam berlalu. Meskipun tak terlalu menyukai makanan yang disajikan Aluna. Alvin tetap menghabiskannya tanpa sisa.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Luna?" tanya Alvin.
"Ada reporter stasiun TV di bawah. Mereka ingin mewawancarai kita berdua," kata Aluna. "Ini kesempatanmu untuk menarik perhatian banyak investor agar mau bekerja sama dengan kita," bujuknya.
"Aku tidak suka terekspos kamera."
Menurut Alvin, semua produk yang diluncurkan perusahaannya sudah di iklankan dengan baik. Bahkan investor dalam dan luar negeri pun sudah banyak yang mengenal sepak terjang Alvin di dunia bisnis dan investasi. Hal itu sudah cukup baginya untuk menjadi terkenal dan tidak perlu melakukan wawancara secara ekslusif.
"Alvin, banyak media yang menyebarkan berita buruk tentang perusahaan kita. Bahkan informasi pribadi kita pun, mereka ketahui. Apa kamu tidak kasian pada Luna yang selalu dicap buruk masyarakat." Aluna kembali membujuk Alvin.
"Sudah kubilang aku tidak mau!" seru Alvin lagi.
"Tapi, aku ingin membersihkan nama baik Luna."
Tetap pada pendiriannya, Alvin menggeleng tidak mau. Saat itu juga dia kembali lagi ke meja kerjanya, ingin meneruskan lagi pekerjaannya yang belum selesai.
"Baiklah, kalau tidak mau. Aku akan mengajak Sekretaris Sam untuk menemaniku menghadapi para reporter itu. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk merubah pandangan buruk media terhadap Luna," kata Aluna sambil merapihkan piring yang digunakan Alvin makan.
__ADS_1
Alvin terdiam, mulai membuka lagi laptopnya.
"Apa para reporter itu akan mengambil fotomu dan sekretaris Sam?" tanya Alvin merasa tidak suka.
"Tentu saja, dengan sapa lagi kalau bukan dengannya," jawab Aluna enteng.
Setelah semau rapi, Aluna duduk di sofa mulai memoleskan bedak dan lipstik berwarna merah di bibirnya agar terlihat lebih menarik di depan kamera. Dia juga mulai merapihkan rambutnya yang panjang agar tergerai rapih.
Mendengar Aluna akan di foto bersama sekretaris Sam. Alvin merasa kesal dan tidak teruma. Saat itu juga Alvin kembali menutup laptopnya. "Baiklah, aku bersedia diwawancarai sekarang."
...***...
Satu jam menunggu. Para reporter sudah menyiapkan semuanya. Kamera dan semuanya sudah terpasang rapih, mereka sudah siap pada posisi masing-masing.
Selang beberapa menit, Aluna dan Alvin berjalan bergandengan memasuki aula yang sudah disulap berbagai dekorasi untuk pemotretan. Tadinya pihak stasiun TV hanya ingin mewawancarai Presdir Wiratama saja. Namun, demi menebus kesalahan dua reporter, mereka menyetujui untuk meliput dan memotret pasangan suami istri itu.
"Mereka benar-benar pasangan yang serasi," ucap kedua reporter berbarengan.
"Mereka sangat cocok dijadikan model. Ternyata Presdir Alvin sangat tampan. Baru kali ini aku melihatnya secara langsung."
Sebelum melakukan sesi wawancara, mereka terlebih dahulu melakukan pemotretan. Salah satu reporter mengarahkan berbagai macam pose kepada Alvin dan Aluna agar terlihat semakin serasi. Aluna terlihat lebih pandai menunjukan gayanya saat difoto, dibandingkan Alvin yang dari tadi menunjukkan ekspresi datar. Lelaki itu tidak terlalu menyukai kamera, kalau bukan karena Aluna, Alvin tak mungkin mau menunjukkan wajahnya ke media.
"Lebih dekat lagi, Nyonya," kata salah satu fotografer kepada Aluna. Dia lalu mengarahkan agar tubuh mereka saling menempel, "senyum ...."
Fotografer terlihat puas mendapatkan hasil fotonya. Beberapa jepretan gambar berhasil dia dapatkan dengan sempurna. Aluna sangat cantik dan elegan memakai pakaian formalnya, begitupula dengan Alvin yang begitu berkharisma.
"Cukup!" tegas Alvin. Dia nampak tidak suka karena fotografer terlalu banyak mengambil gambar mereka. "Aku hanya punya waktu lima belas menit untuk kalian wawancarai," imbuhnya.
Padahal aku masih ingin difoto, batin Aluna.
__ADS_1
Di menit itu juga wawancara pun dimulai. Dua reporter sudah menyiapkan berbagai pertanyaan untuk Alvin. Karena takut dengan Aluna, mereka menyetujui arahannya dengan mengulik masalah pernikahan Alvin dan Luna. Aluna memerintahkan mereka agar memulihkan kembali nama baik Luna di publik.
...***...
Di Kediaman Hideon.
"Sudah berapa cangkir kopi lagi yang harus aku habiskan agar rasa kantukku menghilang?"
Ara melebarkan kelopak matanya dengan kedua jari agar terus terbuka. Akibat kekenyangan, rasa kantuk menderanya.
"Hoaem ... hoaem ...."
Berkali-kali Ara menguap. Ternyata menahan kantuk tak semudah yang dia bayangkan. Sudah lima cangkir kopi hitam dihabiskannya, namun, tetap saja dia masih mengantuk.
Ara kembali ke kamar mandi dan mencuci mukanya untuk ke sekian kalinya.
Sepertinya aku harus menggerakkan tubuh agar tak mengantuk lagi, kata Ara dalam hati.
Saat itu juga, Ara berlari ke luar halaman untuk berolahraga. Ara sengaja berdiri di luar halaman berada tepat di bawah sinar matahari. Menurut Ara, dengan tubuhnya terkena panas, maka rasa kantuknya pun akan menghilang.
Mona yang ada di atas sampai turun ke lantai satu dan berlari ke halaman depan. Ada salah satu pelayan yang melaporkan kalau Helen sedang berlari tepat di bawah sinar matahari langsung. Menurut Mona ini adalah hal yang mustahil dilakukan Helen. Helen sangat takut dengan sinar matahari langsung karena akan membuat kulitnya kusam.
"Helen! Sedang apa kamu di luar. Apa kamu sedang sakit? Di siang bolong seperti sekarang kenapa kamu berolahraga?" tanya Mona keheranan.
Mendengar ibunya memanggil, Ara pun menoleh. "Aku sedang menahan kantukku. Dengan cara ini aku tidak mengantuk lagi," kata Ara.
"Tidak! Masuk, masuk. Sepertinya ingatanmu mulai eror lagi. Biasanya kamu terlalu anti terkena sinar matahari langsung. Kenapa kamu sekarang malah melakukannya?"
Mona menatap aneh Ara. "Mencurigakan," gumamnya.
__ADS_1