
"Nona, ini air mineral dan obat pembersih luka yang Anda minta," ucap asisten Jo dengan napas tersengal-sengal kerena habis berlari. Dia memberikan sebotol air mineral, beberapa lembar plester dan sebotol obat cair pembersih luka berwarna kuning kepada Aluna.
"Terima kasih, Asisten Jo," sahut Aluna.
Tak menunggu waktu lama, Aluna membuka satu persatu segel botol, langsung mengucurkannya ke luka di tangan Alvin. Memang lukanya tak terlalu dalam, hanya saja Aluna merasa khawatir luka itu menyebabkan infeksi, mengingat benda yang menggoresnya sangat kotor.
Setelah dibersihkan Aluna membuka dua lembar plester lalu menempelkannya tepat di telapak tangan Alvin yang terluka. "Apa sekarang sudah lebih baik?" tanya Aluna.
Alvin pun mengangguk dan tersenyum. Kemudian, dia melihat sekilas jam di tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam. "Terima kasih Luna, sepertinya sudah mendekati tengah malam. Sebaiknya kita pulang sekarang," ucapnya dengan suara serak.
Sebenarnya tubuh Alvin sudah semakin lemah, gatal di punggung dan bagian depannya semakin menjadi, bahkan wajahnya pun memerah karena alergi. Sayangnya karena tempat itu gelap dan kurang penerangan, Aluna tak begitu jelas melihatnya.
"Asisten Jo, antar pecahan botol ini ke laboratorium milik noah sekarang. Tolong pesanan taksi, kami akan pulang dengan naik taksi." Alvin berkata kepada asisten sekaligus sopir pribadinya.
"Baik, Tuan." Asisten Jo lalu merapihkan kantong berisi pecahan botol, memasukkannya ke karung yang lebih tebal. Setelah semuanya beres, dia juga langsung memesan taksi online.
"Aku sudah memesannya. Taksi sedang menuju ke mari, kemungkinan akan datang lima menit lagi, Tuan."
"Tinggalkan saja kami. Cepat berikan kepada Noah sekarang, barusan aku menghubunginya kalau dia masih berada di laboratorium," perintah Alvin.
Atas perintah tuannya, Asisten Jo pun langsung berpamitan membawa mobil menuju laboratorium. Sementara Alvin dan Luna masih duduk menunggu taksi yang akan mengantarkan mereka pulang.
"Apa kamu kedinginan, Luna?" tanya Alvin melihat ke arah Aluna yang dari tadi mengelus kedua lengannya dengan tangan menyilang di depan. Kalau dibandingkan Alvin, fisik Aluna lebih kuat dan lebih tangguh. Aluna sudah biasa bekerja di malam hari.
"Aku sudah memakai sweaterku, lagi pula aku terbiasa bekerja di tengah malam sebelumnya." Aluna tidak sadar kalau dia sudah kelepasan bicara, membuat Alvin menoleh keheranan.
"Bekerja di tengah malam?" Alvin bertanya balik, "apa maksudnya?"
__ADS_1
Aluna yang baru menyadari, langsung menutup mulutnya dengan satu telapak tangan. "Eu ... maksud--"
Tin ... tin.
Suara klakson mobil taksi memotong ucapan Aluna, dia yang bingung inggin menjawab apa, langsung berdiri menarik tangan Alvin. "Suamiku, sepertinya itu adalah taksi yang kita pesan, sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Aluna.
Kerena tubuhnya yang semakin lemah, Alvin tidak terlalu memperdulikan kata-kata Aluna yang ambigu. Dia pun ikut berdiri dan berjalan menuju taksi yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Langkah Alvin yang berjalan di belakang Aluna begitu gontai, sayangnya Aluna yang berjalan cepat di depan tak menyadarinya. Tentu saja ini adalah pengalaman pertama Alvin, dia berusaha menguatkan kakinya berjalan ke arah mobil.
Handphone Aluna kembali berdering, Helen kembali meneleponnya. Sayangnya Aluna mengacuhkan dan berkali-kali menolak panggilan teleponnya. Di saat yang sama, Alvin telah memasuki mobil dan duduk di sebelahnya. "Cepat antar kami pulang sekarang." Alvin berkata kepada sopir taksi dalam posisi mata terpejam menyandar di kursi. Sopir taksi pun mengangguk langsung melajukan mobilnya.
"Suamiku, apa kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu memerah?" tanya Aluna kembali khawatir, dia baru menyadarinya ketika lampu dalam mobil memperlihatkan wajah Alvin dengan jelas.
Walaupun hampir hilang kesadaran, Alvin masih mendengar Aluna berkata padanya. Alvin pun langsung menyangkalnya. "Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir ini adalah hal yang biasa. Aku hanya mengantuk ingin beristirahat."
Meskipun tidak yakin, Aluna terpaksa percaya. Dia kemudian mengecek lagi handphonenya melihat apakah Helen masih menghubunginya. Ternyata masih, karena teleponnya tidak diangkat, wanita itu banyak mengirimkan pesan kepada Aluna.
Wanita tak berpendirian! Seenaknya saja, Jelas aku tidak mungkin menyia-nyiakan kerja kerasku! Aku tidak sebodoh itu, mempercayai ucapanmu, Ja lang! gerutu Aluna dalam hati.
Aluna yang kesal langsung membalas pesan Helen dengan kata-kata kasar, dia mengumpat habis-habisan Helen lewat pesan. Ya, Aluna yang sudah bekerja keras bersama Alvin menolak mentah-mentah itikad baik Helen.
***
Di Laboratorium Forensik.
Tidak sampai setengah jam, asisten Jo sudah sampai laboratorium. Noah yang mengetahui kedatangannya dari petugas keamanan, langsung keluar mengambil kantong pecahan botol sendiri.
__ADS_1
"Katakan kepada Alvin, aku akan lembur malam ini agar segera menelitinya," kata Noah kepada asisten Jo sebelum pergi.
Suasana laboratorium begitu sepi tak ada satu pun orang selainnya. Semua anggota tim lainnya sudah beristirahat pulang, hanya ada dia sendiri yang sengaja lembur demi Alvin.
"Kalau tidak demi menolongmu, tidak mungkin aku sampai lembur selarut ini," ucap Noah pada dirinya sendiri. Noah ingin membalas budi kepada Alvin. Sahabatnya itu sudah banyak membantunya, terutama menyangkut materi.
Tak menunggu lama, Noah langsung memulai penelitiannya. Dia meletakkan semua pecahan botol di meja, lalu mulai menelitinya satu persatu. Namun, Di saat dia sedang fokus, tiba-tiba ponsel Noah berdering pelan menandakan ada pesan masuk.
Rupanya pesan itu dari pacarnya, Noah yang merasa terganggu mau tak mau menunda pekerjaannya, lalu membuka handphonenya.
Pesan dari pacar Noah: [Paman, kenapa kamu tidak menemaniku menonton bioskop? Apa aku tidak terlalu berharga dibandingkan pekerjaanmu itu? Kalau iya, sebaiknya kita putus saja! Aku sangat lelah berpacaran denganmu!]
Noah yang membacanya, tak menunjukan ekspresi kaget sedikit pun. Menurutnya, pacarnya itu terlalu kekanakan, berpuluh-puluh kali selalu meminta ingin putus, setiap kali dia tak memenuhi keinginannya. Namun, berkali-kali setelahnya dia kembali mendekatinya lagi. Hal itu membuat Noah menanggapinya biasa saja.
Kenapa sifatmu tidak pernah berubah, Lisa? gumam Noah.
***
Di Kediaman Alvin.
Setelah sampai mansion, Alvin yang kelelahan langsung menuju kamarnya. Begitu juga Aluna, dia pun langsung bergegas masuk ke kamar sementaranya. Atas kesepakatan bersama, Aluna akan tidur terpisah selama tujuh hari.
Aluna sengaja tidak tidur sambil menunggu tugas yang diberikan sistem. Aluna mengisi waktu luangnya dengan menulis kegiatan sehari-harinya di buku harian Luna.
Teng.
Waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam. Bersamaan dengan itu, sensor di kalung Aluna langsung menyala terang.
__ADS_1
"Miss K apa tugasku hari ini?" tanya Aluna begitu penasaran.
###