
Zero mulai siuman, membuka matanya perlahan melihat orang-orang yang sedang mengelilinginya. Diantara orang yang ada di sana, Zero hanya mengenal Sindi, gadis kecil yang tempo hari telah membuatku kesal.
"Anak kecil, akhirnya kamu siuman."
"Jangan terlalu benyak bergerak, tubuhmu masih terluka." Seseorang menahan Zero agar tidak berdiri.
"Di mana Miwa? Siapa anak ini? Kasihan sekali, kenapa anak ini ada di rumahnya?"
Beberapa orang saling membicarakan Zero. Mereka tidak tahu siapa Zero dan kenapa rumah Miwa sampai terbakar. Dari beberapa orang itu malah mengusulkan Zero untuk cepat di bawah ke rumah sakit.
"Rumah sakit terlalu jauh dari sini. Lebih baik bawa saja ke rumahku," uap Sindi.
"Benar, apa yang dikatakan Nona Sindi. Lebih baik, anak ini dibawah ke rumah kami. Kebetulan Nyonya Sinta adalah mantan perawat, Nyonya pasti tak akan menolak mengobati Zero," kata pelayan menambahi.
"Baiklah, kita angkat anak ini cepat. Udara di sini sangat tak baik bagi pernapasannya."
Zero masih belum sadar betul, dia sebenarnya ingin menolak saat orang-orang di tempat itu tiba-tiba menggotong tubuhnya. Namun karena tenaganya belum pulih, membuat Zero tak berdaya.
"Rebahkan saja di sofa itu," kata pelayan menunjuk sofa ruang tamu, setelah sampai di dalam rumah Sindi.
Beberapa orang yang menggotong Zero merebahkan anak itu ke sebuah sofa. Zero tak bisa berkutik, dia masih pasrah membiarkan tubuhnya dibaringkan.
"Nona Sindi memang sangat baik, semoga anak ini bisa cepat pulih dan segera dijemput Miwa. Beruntung Nona segera menolongmu," kata orang-orang itu sebelum pergi. Zero masih belum bisa berpikir apa maksud dari ucapan mereka.
"Terima kasih, paman dan bibi," kata Zero.
Semua orang mulai meninggalkan rumah Sindi, membiarkan anak itu berbaring di sofa ditemani pelayan. Sementara Sindi sendiri langsung masuk ke dalam mencari ibunya.
"Di mana aku, Bibi?" tanya Zero kepada pelayan.
"Anda sedang berada di rumah Nona muda Sindi. Jangan takut, kami akan membantu menyembuhkan lukamu," kata pelayan kepada Zero.
"Terima kasih, Bibi sudah menolongku. Tapi sebaiknya aku pulang saja. Aku tak mau merepotkan keluarga Sindi," kata Zero hendak bangun.
Akan tetapi pelayan malah menahan tubuh Zero. "Anda belum sembuh total. Lagipula bukan hanya aku yang menolong Anda, tetapi juga Nona Sindi. Kalau bukan karena nona muda yang menemukan Anda dan memberikan napas buatan. Mungkin nyawa Anda sudah tak tertolong tadi," kata pelayan.
Zero memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Dia tak ingat betul bagaimana dia bisa keluar. Yang dia ingat, dia sedang berguling di lantai saat kebakaran tadi.
"Jadi Sindi yang menolongku?" tanya Zero.
Pelayan mengangguk. Dia lalu menceritakan kronologi dari awal sampai akhir hingga Sindi bisa menyelamatkan Zero. Pelayan itu juga berkata kalau Sindi tak mau melakukan kesalahan yang ke dua kali akibat membiarkan nyawa orang terancam ketika Zero hendak digigit anjingnya kemarin.
Jadi aku telah berhutang budi pada anak itu, batin Zero.
"Ibu, lihat. Anak inilah yang aku ceritakan dari kemarin," kata Sindi menarik tangan ibunya, berjalan keluar dari dalam menemui Zero yang berbaring di sofa.
"Kenalkan namanya Zero," kata Sindi dengan polosnya.
Ibu Sindi mendekati Zero, melihat saksama rupa anak itu. Dia akhirnya tersenyum dan menyadari kenapa Sindi sampai bersikeras menolong anak itu. Sementara Zero sendiri tampak canggung dilihat sedemikian rupa olah ibunya Sindi.
"Maaf sudah merepotkan Bibi. Sebaiknya aku pulang saja," kata Zero lagi.
"Jangan pergi dulu! Kamu sedang terluka, biarkan aku mengobati lukamu dulu. Perkenalkan namaku Sinta. Kau sangat tampan, siapa namamu?" tanya sinta menahan tubuh Zero.
Mau tak mau Zero akhirnya mengalah. "Namaku, Zero, Bibi."
"Pelayan tolong ambilkan kotak obat di dalam, aku akan menyembuhkan luka anak ini," sambungnya lagi menyuruh pelayannya mengambil kotak obat.
Mereka pun berkenalan. Biasanya Zero akan menolak kebaikan orang lain karena takut merepotkan. Tetapi karena kelembutan yang Sinta berikan saat membujuknya, Zero membiarkan wanita itu menyembuhkan lukanya.
"Anak baik, bilang aku kalau sakit," kata Sinta. Tangannya dengan cekatan membersihkan luka goresan di tangan Zero.
__ADS_1
Begitu pun sebaliknya, Sinta pun sangat menyukai sikap Zero yang sopan. "Kau hebat bisa menyelamatkan diri. Aku sendiri yang dewasa saja belum tentu bisa keluar kalau terjebak di dalam kobaran api."
"Terima kasih Bibi, maaf sudah merepotkanmu," kata Zero.
"Tidak apa-apa aku sangat senang melakukannya. Oh iya, aku sudah mendengar keberanianmu dari Sindi. Selain berani, sepertinya kamu juga sangat pintar. Maukah kamu menjadi teman anakku? Sindi jarang sekali meminta orang lain menjadi temannya," ucap Sinta setelah dia selesai mengobati luka Zero. "Nah selesai juga, tinggal tunggu sampai luka ini kering."
Sebagai ucapan terima kasih, Zero mengangguk. Tidak ada alasan untuk menolak berteman dengan Sindi walaupun sebenarnya Zero sangat enggan berteman dengan perempuan.
Sindi yang dari tadi tak berani mendekat, akhirnya memberanikan diri mendekati Zero dan kembali meminta maaf kepadanya lagi.
"Aku sudah melupakan kejadian kemarin. Jadi jangan meminta maaf lagi," kata Zero tersenyum.
"Jadi kamu mau jadi temanku?"
Zero mengangguk. "Kalau begitu kita berteman sekarang," kata Sindi menunjukkan kelingkingnya.
Sindi kemudian menjelaskan, tanda mereka resmi berteman adalah harus menautkan jari kelingking mereka jadi satu.
Zero menurut dan mengikuti perintah Sindi. "Yah, kita berteman."
Kalian benar-benar sangat lucu, batin Sinta begitu gemas melihat tingkah keduanya.
"Lihat, aku punya banyak mainan untuk anak lelaki, aku sangat suka bermain dengan mobil-mobilan ini. Apa kamu juga suka? Kalau kamu mau, kamu boleh meminjamnya," kata Sindi mengeluarkan banyak mainan di depan Zero ketika dia sudah pulih dan bisa duduk dengan normal.
Zero terperangah melihat mainan-mainan mahal itu. Seumur hidup baru kali ini dia melihatnya. Awalnya dia ragu ikut bermain, tapi setelah Sindi menunjukkan kehebatan mobilnya, dia pun akhirnya ikut bergabung dan turun ke lantai bermain bersama Sindi.
"Ternyata kamu sangat hebat. Aku pikir perempuan hanya bisa bermain boneka," kata Zero, "ayo naik, aku akan mendorongnya dari belakang."
Zero melupakan sakitnya dan ikut bermain bersama Sindi di rumahnya. Sementara Sinta dan pelayanan hanya memantaunya dari jauh.
Beberapa jam berlalu, Zero sudah semakin akrab dengan Sindi dan ibunya. Saat jam makan malam, mereka pun ikut mengajak Zero agar makan bersama.
Zero duduk termangu sambil terus melihat satu persatu makanan yang tersaji di meja. Makanan itu terlihat sangat lezat dan menggugah selera, bahkan berkali-kali Zero sampai meneguk air liurnya karena saking ngilernya.
Tiba-tiba Zero menunduk, tangannya dia turunkan di bawah meja. Tentu saja Zero tak berani mengambil apalagi sampai memakannya dengan percuma.
Sindi dan ibunya saling melihat, dia tak mengerti kenapa Zero mendadak murung. Saat itu juga Sinta ibunya langsung mendekati Zero. "Kenapa kau tiba-tiba murung? Apa kamu tak menyukai makanan di sini?" tanya Sinta.
Zero menggeleng pelan. Dia masih menunduk tak berani melihat lagi ke arah makanan. Karena semakin dia melihat, semakin berkeinginan memakan makanan itu.
"Maafkan aku, Bibi. Tapi aku tidak bisa memakan makanan dari orang lain secara percuma. Aku belum bekerja di rumah Bibi," kata Zero dengan lugunya.
Sinta menarik napas panjang. Baru kali ini ada anak lelaki yang membuatnya berkesan seperti Zero. Selain pintar dan pemberani, Zero pun sudah memiliki prinsip di usia sekecil itu. Sinta bisa membayangkan bagaimana malangnya nasib anak itu.
"Apa orang tuamu selalu menyuruhmu bekerja?" tanya Sinta.
Zero mengangguk. Dia juga menceritakan kalau dia punya banyak orang tua asuh. Zero banyak bercerita, kalau dia sering bergonta-ganti orang tau dan harus bekerja dulu sebelum mendapatkan makanan.
Dari cerita Zero, Sinta berasumsi kalau Zero adalah anak yatim piatu yang sangat malang. Sinta juga memegang tangan Zero yang kasar, dia berpikir kalau Zero sudah sangat menderita karena disuruh bekerja oleh orang tua asuhnya.
"Keluarga Miwa benar-benar keterlaluan menyuruh anak sekecil ini memasak sendiri bahkan bekerja. Zero, kamu boleh memakan makanan di sini sepuasnya tanpa harus bekerja. Anggap saja makanan ini sebagai hadiah dari bibi, karena kamu telah menemani Sindi bermain tadi," kata Sinta lagi.
"Jadi pekerjaanku adalah menemani anak bibi bermain?" tanya Zero dengan polosnya.
Sinta kembali mengangguk, "Yah, anggap saja begitu. Ayo kita makan bersama sebelum makanannya dingin. Dan satu lagi, bibi sudah menerimamu bekerja di rumah ini. Tinggallah di sini untuk menemani Sindi bermain. Lagipula Sindi tak memiliki saudara lelaki untuk melindunginya ketika bermain dengan anak di luar sana," kata Sinta memohon. Dia mendekatkan wajahnya sambil tersenyum.
"Heum ... apa aku ditugaskan sebagai pengawal pribadi Sindi?" tanya Zero lagi.
Sindi dan Ibunya tertawa bersamaan. Meskipun terdengarnya konyol, keduanya pun akhirnya mengangguk.
Malam itu untuk pertama kalinya, Zero memakan makanan yang sangat lezat dan bergizi. Mereka bertiga makan bersama sambil sesekali bersenda gurau.
__ADS_1
Ketika mereka asik makan bersama, tiba-tiba pelayan memberitahukan kalau Bu Han sudah ada di depan rumah ingin, menjemput Zero.
"Nyonya, orang tua asuh Zero ingin menemui Anda. Mereka sedang menunggu di luar."
...***...
Di tempat lain di depan rumah Miwa, Pak Han dan istrinya telah kembali dari berjudi. Mereka kaget saat kembali sudah melihat rumah Miwa yang telah rata dengan tanah akibat kebakaran. Saat itu Bu Han langsung menghubungi Miwa. Namun sayangnya, teleponnya tak tersambung. Bu Han langsung bertanya ke beberapa tetangga menanyakan apa yang terjadi ketika mereka pergi.
"Jadi kau adalah orang tua anak itu?" tanya seorang tetangga.
Bu Han mengangguk, dia pun menjelaskan kalau dia adiknya Miwa dari kota. "Kenapa dengan rumah Miwa? Di mana anakku?" tanya Bu Han bersandiwara seolah sangat sedih karena kehilangan Zero.
Tetangga langsung menjelaskan kalau Zero ada bersama keluarga Sindi. Tetangga itu pun memarahi Bu Han karena telah membiarkan anak berumur hampir enam tahun itu di rumah sendirian dan meninggalkannya dalam kondisi kelaparan sampai harus memasak sendiri.
"Maafkan kami, saat itu kami terpaksa menitipkannya kepada Miwa karena ada keperluan yang sangat mendesak. Harusnya Miwa tak pergi dan tak membiarkan anak kami ditinggal sendirian. Miwa juga salah, maafkan kami semua," kata Bu Han menunduk.
Bu Han menangis tersedu agar tetangga iba dan memberitahukan di mana alamat rumah Sindi. Kedua suami istri itu pun yakin kalau Zero mereka selamatkan.
"Anak kalian sudah diamankan keluarga Sinta. Nona muda telah menyelamatkan anak itu dan membawa ke rumahnya untuk diobati," kata tetangga memberitahukan.
Pak dan Bu Han sangat berterima kasih banyak kepada keluarga itu, mereka pun memberikan buah tangan sebagai ucapan terima kasih kepada tetangga. Selang beberapa menit, keduanya lalu berpamitan segera menemui Zero di rumah Sindi.
Akan tetapi, tepat di depan gang. Bu Han melihat Yuze turun dari mobil bersama pengawal pribadinya.
"Siapa mereka? Kenapa lelaki itu berdiri di depan rumah Miwa?" tanya Bu Han menarik suaminya agar menepi, dia melihat Yuze sedang berdiri di depan mobilnya sambil memperhatikan rumah Miwa.
"Jangan-jangan dia adalah keluarga asli anak itu. Lihatlah, penampilan dan mobil lelaki itu sangat mewah. Dari sepatu yang digunakannya saja bermerek, sepertinya dia sangat kaya," kata Pak Han.
Sebelum ke rumah Sindi, pasangan itu memperhatikan Yuze dari jauh. Mereka memperhatikan tingkah laku Yuze yang mencurigakan. Terlihat Yuze juga menoleh ke kanan dan ke kiri seakan mencari seseorang untuk dimintai informasi.
"Dia orang kaya, berarti identitas Zero bukanlah anak yang sembarangan. Pantas saja Sembo menyembunyikannya kepada kami dan rela memberikan uang banyak untuk menjaganya. Aku yakin Sembo pasti memeras mereka, kalau dia bisa, kenapa kita pun tak melakukannya," kata Bu Han.
"Maksudmu, apa istriku?" tanya Pak Han tak mengerti.
"Bodoh! Kita harus cepat mengambil Zero den menyembunyikannya lagi sebelum mereka memberikan uang tebusannya. Lihat, sepertinya dia sedang menggali informasi kepada tetangga. Kita harus bergerak sebelum dia yang lebih dulu mengambil Zero di rumah Sinta," kata Bu Han.
Pak Han mengangguk, dia hanya bisa menurut dan mengikuti kemauan istrinya. Ketika Yuze sedang berbicara dengan salah satu tetangga, mereka langsung berlari menuju rumah Sindi.
...***...
Setelah memencet bel rumah Sindi berulang kali, keluarlah pelayan di rumah itu membukakan gerbang. Bu Han tak berbasa basi dan langsung menanyakan keberadaan Zero.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil Nyonya di dalam," kata pelayan kemudian masuk ke dalam.
Tidak lama, pelayan itu kembali datang bersama Sinta menemui Pak dan Bu Han yang sedang duduk di teras.
"Anda siapa?" tanya Sinta.
Pak dan Bu Han langsung membungkukkan badan memberi hormat. Dia langsung memperkenalkan diri siapa dia sebenarnya. "Perkenalkan namaku Han, panggil saja Pak Han. Kami adalah orang tua asuh Zero. Kedatangan kami ke mari ingin menjemput Zero. Kami sangat berterima kasih karena Anda sudah menolong anak kami," kata Pak Han terus menunduk. Mereka tak berani berjabat tangan karena tahu tangan mereka kotor, tak pantas bersalaman dengan orang kaya seperti Sinta.
"Jadi kalian orang tua asuh Zero yang sangat kejam itu. Beraninya kalian ke mari, setelah membiarkan Zero hampir mati karena kebakaran," ucap Sinta dengan nada emosi.
Saat itu juga, Bu Han kembali bersandiwara dengan menangis sambil berlutut merasa bersalah di depan Sinta. Mereka rela melakukan apa pun asalkan Zero cepat dikembalikan.
"Ikut aku ke dalam," kata Sinta. Kedua suami istri itu pun langsung berjalan mengekor di belakang Sinta.
Begitu sampai di meja makan, Bu Han langsung memeluk dan menangis sejadi mungkin tubuh Zero. Sandiwaranya sangat hebat, seakan dia begitu rindu dengan anak itu.
"Hiks, maafkan aku Zero sudah meninggalkanmu. Ayo kita pulang. Aku akan memasak makanan yang lezat. Lihat aku membawa buah tangan untukmu," kata Bu Han merayu Zero menunjukkan beberapa telur.
Zero tak bereaksi apa pun. Dia hanya terlihat geli dengan kelakuan mereka yang aneh. Sindi tak menyukai mereka, dia pun berniat mengusir keduanya.
__ADS_1
"Maaf, Zero akan tinggal di rumah kami. Jadi sebaiknya kalian pergi saja. Lagipula, makanan di sini lebih terjamin dan bergizi," kata Sindi, "ibu jangan biarkan mereka membawa Zero pulang," tambahnya memohon kepada Sinta.