
"Aku menemukan pisau ini tidak jauh dari tempat tidur, Nyonya muda," kata pelayan An, ditangannya sudah ada sebuah pisau yang terbungkus kain.
Aluna menatap lekat benda yang dibawakan pelayan An, dengan hati-hati dia meraihnya. "Pisau? Kenapa ada pisau di kamarku?" tanya Aluna mengamati benda tajam itu.
Pelayan An mengangkat bahunya, tak tahu. Kemudian dia menyodorkan beberapa potongan kertas kepada Aluna. "Saya juga menemukan potongan kertas ini Nyonya. Saya simpan karena saya pikir benda-benda ini penting dan Nyonya akan menanyakannya."
Pelayan An langsung menyerahkan benda temuannya di kamar Luna kepada Aluna. Pelayan An dulu sangat dekat dengan Luna, dia sering melihat Luna sering menulis di buku harian, dia sengaja menyimpannya takut ada orang lain membaca isi tulisan tersebut karena terlalu pribadi.
"Bukankah ini adalah sebuah surat? Kenapa Luna menyobeknya?" tanya Aluna keceplosan berbicara, membuat pelayan An kaget.
Bukankah Nyonya Luna sendiri yang membuatnya? Kenapa dia tanyakan hal itu? batin Pelayan An, mengamati perubahan ekspresi di wajah Aluna.
"Maksud aku, kenapa dulu aku menyobeknya? Aku memang sedang mencarinya. Terima kasih karena Bibi telah menyimpannya sampai sekarang. Aku pikir kertas ini sudah hilang entah ke mana," kata Aluna berusaha berkelit.
Pelayan An mengangguk, dia pun bertanya apakah Aluna masih memerlukannya lagi. Karena kalau tidak ada, dia ingin kembali menyelesaikan pekerjaannya di belakang.
"Kalau tidak ada yang diperlukan lagi, saya pamit undur diri, Nyonya muda," kata pelayan An dengan sedikit menunduk.
__ADS_1
Selepas kepergian pelayan An, Aluna membaca sekilas potongan beberapa kertas itu. Karena potongan kertas tersebut tidak beraturan, Aluna harus menyusunnya terlebih dulu agar bisa membaca semua isi tulisan itu.
"Sepertinya ini adalah sebuah surat. Ada nama Alvin di atasnya, aku yakin ini kertas yang cukup penting dan Aluna menyobeknya sebelum aku datang," kata Aluna.
Sedang asiknya membaca beberapa potongan kertas, tiba-tiba Aluna dikejutkan oleh suara Alvin dari luar. Secepat mungkin Aluna menyembunyikannya ke dalam laci sebelum Alvin datang dan ikut membaca.
"Alvin, maaf aku tak tahu kalau kamu sudah pulang," ucap Aluna ketika dia baru saja membuka pintu.
Alvin tersenyum dan langsung saja meraih tubuh Aluna dan memeluknya erat. "Baru saja beberapa jam tak bertemu, aku sudah sangat merindukanmu," ucap Alvin sambil mencium pipi Aluna berulang kali, "di mana Zero? Aku tak melihatnya dari tadi."
Aluna langsung tersentak. Merasakan tak bisa bernapas bebas, apalagi saat pelukan Alvin semakin erat, "Alvin, lepaskan sedikit. Aku kesulitan bernapas," ucap Aluna sedikit mendorong tubuh Alvin.
Alvin mencium Aluna, tak membiarkan wanita itu kabur dari pelukannya. Mencium lagi dan lagi, sebelum dia benar-benar puas. Bahkan dia inginkan hal yang lebih, ingin memuaskan kerinduannya di atas ranjang tanpa basa-basi.
"Alvin, bisakah kamu bersabar sebentar," kata Aluna dia tak bisa menahan kekuatan Alvin saat mengangkat tubuhnya, "aku takut Zero ke–"
Lagi-lagi Alvin menciumnya tak memberikan kelonggaran sedikit pun agar Aluna berbicara. Alvin tak peduli, menurutnya lagipula dia sedang mengunci rapat pintu kamar.
__ADS_1
"Lihat gatal-gatalku kambuh lagi. Hanya kamu obatnya untuk menyembuhkan gatal-gatal di tubuhku ini. Sebentar saja sepuluh menit, setelah ini kita lakukan lagi setelah Zero tertidur."
Tadi di perusahaan saat bekerja. Alvin tak hentinya menelepon Aluna dan Zero. Dia begitu gemas saat melakukan panggilan video, mendengar suara dan wajah Aluna dari ponsel. Pikirannya mulai kotor, wajahnya memerah dan ingin cepat-cepat pulang. Untung saja Alvin masih bisa fokus menyelesaikan tugasnya.
"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan sampai seperti ini? Bukankah perusahaanmu cukup bersih," ucap Aluna ketika mereka sudah terbaring di ranjang.
"Aku tak tahu," jawab Alvin. Dia langsung menyumpal mulut Aluna dengan mulut, tidak suka kegiatannya diganggu dengan pertanyaan Aluna.
"Alvin! Aku–"
Aluna tak bisa melawan apalagi menolak kali ini. Akibat serangan ciuman dadakan tadi, membuat dia ikut terbawa naf su. Apalagi bau parfum Alvin begitu sangat menggoda membuat dia balik memeluk. Sentuhan demi sentuhan yang diberikan Alvin membuat dia pun menginginkan hal yang lebih, membiarkan pria yang memeluknya itu melakukan apa pun kemauannya.
"Sepertinya kamu gatal-gatal karena pikiranmu yang kotor," balas Aluna.
Kegiatan yang harusnya diselesaikan sepuluh menit, menjadi lebih lama karena keduanya masih belum merasa puas. Namun, mereka teringat akan Zero. Alvin langsung menyudahi setelah melakukan pelepasan dan ingin melanjutkan lagi nanti malam.
"Terima kasih, Sayang," ucap Alvin sambil mengecup kening Aluna. Dia kembali merapihkan pakaiannya lagi, "kalau kamu lelah, istirahat saja dulu! Biar aku saja yang menemani Zero sampai dia tidur. Aku akan membangunkan lagi nanti malam," bisik Alvin pelan.
__ADS_1
Aluna tak berani membalas, dia malah membenamkan wajahnya dibalik selimut. Memang bukan yang pertama kali, tapi tetap saja dia masih berasa malu setiap selesai melakukannya bersama Alvin. Walau pun dia sendiri ikut menikmatinya.