
Aluna sedang mempersiapkan bahan untuk rapat siang ini. Dia sangat sibuk, begitu pula dengan Alvin. Beberapa calon investor sudah menunggu di ruang konferensi, mereka akan mengadakan rapat umum pemegang saham.
"Luna, apa proposalnya sudah selesai kamu siapkan?" tanya Alvin sambil sibuk menandatangani beberapa dokumen.
"Sudah Presdir. Aku akan menyerahkannya nanti kepada notulen. Ada beberapa poin penting untuk kita bahas nanti. Aku yakin para investor akan tertarik menaruh saham di perusahaan kita," kata Aluna sambil menyerahkan beberapa lembar dokumen yang baru dia print dari komputer.
"Kerjamu memang sangat bagus, tak bisa diragukan lagi, Aluna. Aku sangat menyukai cara kerjamu. Mungkin setelah ini kamu akan membangun perusahaanmu sendiri," kata Alvin sedikit menggoda.
"Kamu jangan terlalu sering memujiku. Aku bisa salah tingkah nanti."
"Justru karena aku suka kalau kamu sedang salah tingkah," kata Alvin lagi berusaha mengabaikan pekerjaannya sesaat.
Alvin mendekatkan wajahnya. Menatap intens Aluna. Namun, Aluna menjaga jarak malah meminta Alvin agar melihat jam di tangannya. "Alvin, rapat sebentar lagi dimulai."
Alvin melihat jam di tangannya. Ternyata sudah pukul satu siang. Itu tandanya rapat akan dimulai sepuluh menit lagi dan mereka harus ada di sana sebelum dimulai.
"Aku hampir melupakan semuanya. Baiklah ayo kita ke ruang konferensi sekarang."
"Tidak, Alvin. Kamu duluan saja. Aku ingin ke toilet sebentar. Hanya lima menit saja. Aku ingin memberikan kabar kepada Sinta dulu agar dia menunggu saja di hotel," kata Aluna.
Alvin mengangguk mengiyakan. Karena harus segera ke ruang konferensi untuk rapat dia pun akhirnya pergi seorang diri.
Di toilet, Aluna mencoba menghubungi Sinta. Namun sayang, saat itu dia sedang menerima panggilan dari Clara. Otomatis membuat panggilan Aluna tidak bisa tersambung.
"Apa tidak ada sinyal di sini?"
Aluna tak bisa berlama-lama dan dia pikir sedang tidak ada sinyal di ponselnya. Dia pun memutuskan untuk keluar saja. Sebelum keluar, Aluna sempat membaca pesan dari Noah kalau hasil sidik jari di pisau yang dia bawa sudah keluar. Aluna langsung menghubungi Noah detik itu juga.
Sebenarnya siapa pelakunya?
Tut, tut.
__ADS_1
"Ah sial tidak tersambung lagi! Mungkin benar di sini sepertinya tidak ada sinyal."
Sambungan telepon tak tersambung. Bukan tak ada sinyal seperti dugaan Aluna. Melainkan, Noah memang sengaja mematikan ponsel miliknya. Yah, dia sengaja mematikannya dari semalam karena tak ingin Lisa terus menerornya.
"Ah sudahlah sebaiknya aku ke ruang konferensi saja sekarang."
Aluna terus menggerutu. Batinnya sangat penasaran dengan hasil sidik jari di pisau yang dia temukan. Kalau dia bisa mengungkap siapa pelaku pembunuh Luna, otomatis Sistem akan memberikan tas saran yang akan dia gunakan untuk mempercepat waktu di dunia novel. Itu artinya dia akan terbebas dengan tugas dari sistem dan akan kembali dengan cepat ke dunia nyata.
Aluna melihat lagi jam di tangannya. Lima menit telah usai, dia harus cepat memasuki ruangan konferensi untuk mendampingi Alvin.
***
Di tempat lain di taman kanak-kanak tempat Zero bersekolah. Seluruh murid sedang asik membuat burung bangau dari kertas origami. Terlihat Zero dan teman-temannya sangat fokus dan mereka sangat menikmati proses pembuatannya.
"Lihatlah, Guru San. Burung bangau buatanku berwarna merah muda. Sangat cantik seperti aku 'kan?"
Salah seorang murid perempuan menunjukkan hasik karyanya kepada seorang guru wanita. Disusul teman Zero lainnya. Mereka tidak hanya membuatnya dengan kertas origami, tetapi juga menghiasnya dengan spidol berwarna agar lebih cantik.
"Punyaku lebih cantik. Lihat aku sengaja membuat gradasi di sayapnya. Aku akan memberikannya kepada temanku nanti, Guru San," kata Zero tidak mau kalah.
Hasil karya Zero memang paling bagus, coraknya pun sangat indah dibandingkan buatan teman-temannya. Zero sudah membuat sepuluh bangau dengan warna gradasi yang berbeda. Rencananya dia akan memberikannya kepada Sindi nanti kalau mereka bertemu.
"Wah benar punyamu sangat indah," kata teman-temannya takjub.
"Aku akan memberikannya kepada Sindi. Temanku saat aku tinggal di desa. Warna burung bangau ini sama sepeti baju yang dikenakan Sindi waktu menolongku dulu. Dan yang ini adalah warna kesukaan Sindi."
Zero terus menunjukkan hasil karyanya yang luar biasa. Semua anak takjub, begitu pula gurunya. Memuji kalau Zero berbakat di dalam bidang seni lukis.
"Kamu hebat. Temanmu pasti menyukainya, Zero," kata guru San memuji.
Di saat mereka sedang asik membuat hasil karya mereka. Seorang penjaga sekolah masuk, menghampiri guru Zero dan berbisik di telinganya.
__ADS_1
Guru San langsung dipanggil ke luar kelas. Rupanya ada keluarga Zero yang akan menjemput bocah kecil itu. Dia adalah Lily dan Yuze.
"Maaf, Anda berdua siapa yah?" tanya Guru San.
"Kami paman dan bibi Zero. Kami datang meminta izin untuk membawa pulang Zero sebelum jam belajarnya selesai. Orang tuanya sedang di luar kota dan kami harus mengantarkannya sekarang. Kami takut ketinggalan jam terbang pesawat yang sudah kami pesan beberapa jam yang lalu, kalau harus menunggu jam belajar berakhir," kata Lily beralasan.
Guru Zero tampak asing dengan keduanya. Dia ingat kalau Aluna telah berpesan agar dia tak boleh membiarkan Zero pulang selain dengan dirinya. Guru Zero menolak dengan tegas permintaan Lily dan Yuze untuk membawa pulang Zero.
"Anda tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Apa Anda tidak tahu kalau keluarga kami adalah keluarga terpandang di sini. Aku bisa saja menuntut sekolah ini karena telah mempersulit izin karena ada keperluan mendadak."
Yuze berkata dengan tegas sambil menunjuk wajah guru San dengan telunjuknya. Guru San tetap pada pendiriannya tidak akan membiarkan Zero pulang selain dengan Aluna.
"Tidak bisa Tuan dan Nyonya. Ini sudah tugasku untuk menjaga Zero. Nyonya Luna tak memperbolehkan siapa pun menjemput Zero kecuali beliau sendiri. Kalau tidak ada keperluan lagi, maaf aku harus kembali ke kelas. Karena jam belajar murid-muridku belum selesai."
Bukan Yuze namanya kalau dia telah menyerah. Karena ini di sekolah tidak mungkin dia marah-marah dan membuat keributan. Melihat guru Zero kembali ke kelas lagi. Lily dan Yuze pun mempunyai cara lain. Yaitu, mendatangi kepala sekolah langsung.
Di kantor kepala sekolah Lily menjelaskan kalau mereka sedang mengadakan acara keluarga yang sangat penting di luar kota. Jadi, dia harus cepat membawa Zero pulang. Kepala sekolah awalnya menimbang-nimbang permintaan mereka dan sempat menolaknya dengan cara halus.
Akan tetapi, ketika kepala sekolah mengetahui identitas Zero kalau dia adalah cucu keluarga bangsawan kaya raya yang terkenal, barulah dia memperbolehkan Zero pulang. Karena melihat Lily dan Yuze adalah paman dan bibinya. Kepala sekolah pikir, tidak mungkin mereka melakukan hal yang buruk terhadap Zero.
"Guru pembimbing Zero tak memperbolehkan kami membawa keponakanku pulang. Kami ingin meminta bantuan kepada Anda langsung, mengingat acara keluarga kami sebentar lagi dimulai. Kami harus ke bandara sekarang juga," kata Yuze dengan raut wajah serius dan meyakinkan.
Kepala sekolah akhirnya memanggil guru San ke kantor dan menyuruhnya membawa Zero.
"Guru San, mereka adalah paman dan bibinya. Biarkan mereka membawa pulang Zero," kata kepala sekolah tegas.
Guru San menunduk hormat. Sejujurnya dia tak setuju sama sekali. Dia sudah berjanji kepada Aluna. Guru San pun menjawab dengan sopan kalau dia tak setuju.
"Guru San aku adalah kepala sekolah di sini. Jadi kamu harus patuh kalau masih ingin mengajar di sekolah ini."
Perkataan kepala sekolah membuat Guru San dilema.
__ADS_1