TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 284


__ADS_3

Di kafe Casablanka seorang gadis menggunakan dress pendek di atas lutut, sedang duduk sambil sesekali menyesap jus yang baru dipesannya. Sering kali pandangan matanya melihat ke arah ponsel, berharap ada notifikasi masuk. Atau hanya sekadar melihat waktu di ponsel. Pasalnya dia tak memakai jam tangan.


"Aku tak yakin dia akan datang. Atau jangan-jangan dugaanku memang salah," gumam gadis itu merasa tak yakin dengan dirinya sendiri.


Selang sepuluh menit kemudian, jus yang dia pesan sudah habis dia minum. Namun, orang yang dia tunggu tak jua datang.


"Sebaiknya aku pulang saja."


Lisa mengambil tas dan melingkarkan di lengannya. Tiga puluh menit menunggu nyatanya tidak ada hasil dan Helen tak juga menunjukkan wajahnya. Bahkan Helen tak memberinya kabar kalau dia tak akan datang.


"Pakai kartu ini," kata Lisa sambil memberikan kartu debit miliknya kepada waitress untuk membayar apa yang sudah dipesannya. Lisa merasa usahanya sia-sia karena Helen tak menepati janji.


"Selamat malam, Nona Lisa. Maaf aku terlambat satu jam."


Lisa menoleh, ada Helen di belakangnya. Terlihat senyum tipis nan licik menghiasi wajah Helen. Belum mereka bicara saja, sepertinya Lisa sudah menduga kalau Helen akan bisa diajak kerja sama.


"Silahkan duduk."


Keduanya duduk saling berhadapan. Helen memesan segelas cappucino diikuti oleh Lisa. Mengobrol tidak hangat kalau tak ditemani minuman.


"Jadi apa kamu mengenal Arabella?" Lisa memulai pembicaraan.


"Tidak! Tapi aku mengetahuinya," sahut Helen. Dia begitu elegan menyesap capuccino hangatnya.


"Aku ... tidak terlalu suka bicara formal. Apa yang kamu ketahui tentang ... Arabella? Ceritakan saja semuanya."


Lisa bertanya lagi. Kali ini bicaranya sedikit lebih santai, "yah kita bisa bekerja sama. Aku tahu kamu sangat mencintai Kak Alvin dan membenci istrinya 'kan? Begitupula aku, sangat mencintai Noahku."


"Kesimpulannya, Arabella adalah aku, tapi aku bukanlah dia. Kamu tahu dunia lain, dunia paralel yang ada seperti di dalam dunia dongeng? Mungkin kalau aku pribadi menyebutnya dunia mimpi. Aku sudah berulang kali ke sana. Sebagai ... Arabella," kata Helen langsung menyahuti.


"Menarik! Aku tidak pernah ke sana. Jelaskan lebih detail siapa Ara?"


Lisa menegakkan punggungnya. Mendengarkan dengan serius ketika Helen berbicara. Wanita itu mulai menjelaskan bahkan menggambarkan ciri fisik Arabella, lingkungan dan kondisi Ara di dunia lain. Semua Helen ceritakan tanpa ada yang dia tutupi. "Dia sakit di tubuhnya ... dan JIWAnya!"

__ADS_1


"Jadi maksudmu, dia kurang waras?" tanya Lisa. Dia semakin tertarik dengan cerita Helen.


"Yah, bisa jadi."


"Lanjutkan ceritanya!" Lisa meminum lagi kopinya.


"Tunggu! Tapi sebelumnya aku ingin bertanya, apa kamu akan percaya dengan kata-kataku? Kalau akhirnya tidak, aku malas berbicara banyak."


"Lanjutkan saja. Aku punya informasi penting."


Helen mengulurkan tangan menyalami Lisa. Mereka sepakat bekerja sama. "Aku sepakat! Kita bekerja sama sekarang!"


Lisa menyodorkan sebuah kertas yang dia ambil dari tas Noah. Surat hasil laboratorium yang barusan Noah uji beberapa hari yang lalu. Di sana ada keterangan sidik jari milik Helen yang tertinggal di pisau.


"Apa ini?" tanya Helen.


"Baca saja."


"Pisau?" tanya Helen sambil berpikir.


"Ceritakan saja dulu semuanya. Setelah itu aku akan jelaskan hasil laporan itu yang aku ambil dari Paman Noah."


Helen mengangguk. Kemudian dia ceritakan semuanya tentang Ara yang dia tahu. Termasuk menceritakan kalau Arabella ternyata adalah adik tiri seorang gadis bernama Aluna. Helen mengatakan Arabella sangat kesepian dan belum sekali pun berpacaran. Di dalam dunia sana, Helen banyak membaca tulisan Ara tentang Noah yang selalu dia rindukan.


"Ha ha, jadi dia hanya seorang gadis yang penyakitan? Yang bermimpi menjadi Cinderella?" tanya Lisa.


"Bahkan tubuhnya sangat kurus. Tak memiliki rambut dan hanya menghabiskan waktunya di rumah sakit. Arabella adalah penderita kanker stadium akhir."


Helen kembali menjelaskan. Sangat detail dengan apa yang dia lihat kepada Lisa. Mereka sudah sepakat, untuk menyelesaikan masalah bersama-sama. Termasuk melawan Aluna yang kini mendiami tubuh Luna.


"Aku sudah jelaskan. Sekarang beritahu aku apa maksud dari hasil lab ini?" Helen menaruh kertas hasil laporan ke meja. Meminta Lisa agar membuka suara.


"Di keterangan tertulis kalau kamu adalah pemilik sidik jari di pisau yang dikirim Aluna. Kamu tahu kan kalau Luna yang asli telah meninggal terbunuh?"

__ADS_1


Pertanyaan Lisa membuat mata Helen terbelalak. Pupil matanya membesar menandakan kalau dia sangat kaget.


"Lu- Luna meninggal?" tanya Helen terbata.


"Yah, dan kamulah yang membunuhnya!"


Lisa menunjuk Helen dengan ucapan penuh penekanan. "Benar bukan apa yang aku katakan?"


Helen menggeleng cepat. Jangankan membunuh, berita kematian Luna saja baru dia ketahui sekarang.


"Kamu tahu dari mana, Lisa?" tanya Helen dengan nada sedikit keras.


"Sudah kubilang kalau Paman Noah sendiri yang mengatakannya. Lihat sidik jari ini milikmu. Kamulah yang membunuh Luna beberapa bulan yang lalu!"


Lisa merasa Helen bersandiwara terhadap dirinya. Sampai-sampai berlagak seperti orang yang tidak tahu.


"Sudah kubilang kalau aku tak suka terlalu formal dan menyembunyikan fakta. Beri tahu aku sekarang, maka aku akan menutup mulut nanti."


"Lisa, aku tak sedang bersandiwara. A-aku ... hanya berani melukai Luna, tapi tak sampai membunuhnya dengan tanganku sendiri."


Alis Lisa mengernyit. "Lalu siapa yang membunuhnya?"


Helen kembali menggeleng dan mengangkat bahu tidak tahu.


"Apa kamu tahu gambar ini?" tanya Lisa lagi. Dia menyodorkan sebuah kertas berisi gambar.


"Ini adalah milik Arabella kata Noah. Apa kamu pernah melihat benda ini?"


Lisa bertanya lagi. Tadi malam saat Noah mabuk, lelaki itu banyak meracau mengatakan semuanya kepada Lisa tentang Arabella. Barang-barang yang diberikan Arabella kepadanya termasuk gambar tersebut.


"Ini adalah sebuah liontin giok. Sepertinya aku pernah melihat bandul ini. Apa yang diberitahukan Noah mengenai gambar ini?" tanya Helen semakin penasaran.


"Aku tak tahu jelas. Tapi waktu itu Noah berkata, lewat benda inilah Ara dan Aluna bisa ada di dunia ini. Giok ini yang mengantar mereka ke dunia kita."

__ADS_1


__ADS_2