TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Kedatangan Ayah Mertua


__ADS_3

Bukti? Apa yang harus aku lakukan untuk mencarinya? Sedangkan di ruangan itu tidak tersedia CCTV. Apa mungkin sesaat setelah aku berada di mobil. Benda yang ditaruh Alvin di bagasi adalah pecahan botol itu? Kalau iya, aku harus bertanya kepada sistem setelah ini! Batin Aluna.


"Nenek, sebenarnya ... kami datang ke sini karena dua tujuan," ucap Mona pelan.


"Katakan saja apa dua tujuan kalian?" tanya nenek Alma. Terlihat guratan kerutan di dahinya yang mengernyit.


Mona melihat lagi anaknya yang menangis, ia mengelus punggungnya pelan, seakan sedang mencoba menguatkan Helen. Jujur walaupun di hati kecilnya tidak yakin Luna lah yang bersalah, dia masih saja membela mati-matian.


"Jangan menangis, Nak! Kita pasti akan mendapatkan keadilan," kata Mona mendramatisir keadaan.


Dari prediksinya melihat reaksi Aluna dalam menanggapi tuduhan Helen, tak pernah sedikitpun Nenek Alma membayangkan bahwa Aluna akan berbuat buruk apalagi sampai menyayat lengan Helen separah itu. Mungkin kalau memberi pukulan sedikit, ia masih bisa percaya. Nenek Alma malah melihat reaksi Aluna yang cukup tenang.


"Tujuan pertama kami datang kemari adalah ingin menanyakan apa alasan Luna melukai Helen? Kenapa dia bisa sekejam itu? Bukankah Luna sudah memiliki segalanya? Seharusnya kalau dia marah mengenai masalah tempo hari, tidak dengan melukai fisiknya? Ini baru lengan, bahkan kalau dibiarkan seperti ini terus Luna bisa saja membunuh Helen! Aku sebagai seorang ibu cukup khawatir, aku dengar sendiri dari mulut Helen kalau Luna sempat hendak merusak wajah dan menghabisi nyawanya. Benar begitu Luna?" Mona terus menyudutkan Aluna.


Mendengar ucapan Mona, Aluna menggelengkan kepalanya pelan. Ya, Memang benar dia sempat berpikiran ingin menghabisi nyawa Helen, bahkan dia berencana merusak wajahnya juga. Tetapi, itu hanya pikiran sekejap, setelahnya dia langsung menepis dan sadar kalau membunuh adalah hal yang tidak benar.


"Anda terlalu mendramatisir keadaan, Nyonya! Aku memukulnya karena dia telah melukai kepalaku!" sangkal Aluna.


"Diam aku belum selesai berbicara!" Bentak Mona. "Lihat, Nek. Wajah anakku pun cukup memar akibat pukulan beberapa kali tangan Luna. Kamu tidak bisa menyangkal lagi, Luna! Kalau bukan kamu yang melakukannya lalu siapa lagi? Aku tidak habis pikir salah aku apa dalam mendidiknya, sampai-sampai Luna bisa sekasar itu! Jelas itu adalah perilaku kriminal."


Nenek Alma menahan Aluna agar tak terbawa emosi. Sementara Clara sudah meninggalkan ruang tamu hendak menyambut kedatangan Anming dari luar negri di depan mansion. Selama ini Clara bahkan belum menjelaskan kepada suaminya itu perihal masalah Luna.


"Menurutku dia tak memiliki bukti apa pun untuk memperkuat statusnya kalau tidak bersalah. Karena aku masih mengganggap Luna adalah anakku juga, bagaimana kalau kita berdamai saja," kata Mona lagi.

__ADS_1


"Berdamai?" Nenek Alma kembali bertanya.


"Ya, lebih baik kita berdamai saja. Tentunya dengan satu syarat." Mona mengambil secangkir teh lalu menyesap perlahan. "Aku tidak akan melaporkan Luna ke polisi asalkan Nyonya Clara mengembalikan lagi posisi Helen di perusahaan," tambahnya sembari tersenyum menikmati teh.


Nenek Alma melihat lagi luka di lengan Helen. Tidak hanya lengannya, Nenek Alma juga melihat luka memar di wajahnya. Mungkin benar apa kata Mona, luka itu disebabkan oleh tangan Luna, karena tidak mungkin muncul dengan sendirinya lebam di wajah gadis berumur dua puluh tahun itu. Daripada masalah semakin berlarut, wanita tua itu berniat meminta maaf.


"Aku memahami apa yang kamu khawatirkan. Aku sebagai yang tertua di sini tidak ingin masalah ini semakin berlarut. Walau bagaimanapun Luna sudah menjadi tanggung jawab keluarga kami. Karena buktinya belum tersedia, lebih baik kita selesaikan secara kekeluargaan terlebih dahulu," ucap Nenek Alma.


Namun, sebelum tangan keriputnya menyentuh Helen. Luna menarik pelan tangan Nenek Alma. Dia menggelengkan kepala tidak memperbolehkan Nenek Alma yang berniat meminta maaf.


"Nenek jangan meminta maaf, karena aku tidak bersalah!" seru Aluna menahannya. "Jangan turunkan harga diri nenek di depan wanita ular seperti mereka, serigala berbulu domba! Laporkan saja, aku tidak takut sedikitpun!" tambahnya sinis.


Mona langsung berdiri, darahnya mendadak mendidih mendengar ucapan Aluna barusan, menurutnya keluarga Wiratama yang terkenal kesopanannya kepada tamu malah menghinanya dengan kata-kata kasar Aluna.


"Aku tidak sudi tangan Nenek menyentuh tangan kotor kalian. Apalagi sampai meminta maaf. Selama aku berdiri di sini itu tidak akan terjadi, Nyonya!" ketus Aluna ikut berdiri, ia menantang balik wanita paruh baya itu.


Tiba-tiba dari ambang pintu muncul Anming bersama Clara. Lelaki yang baru pulang dari luar negri itu sangat kaget ketika melihat keributan di rumahnya. "Ada apa ini?" tanyanya dengan nada tinggi.


Sontak, semua menoleh ke arah Anming. Clara sempat ingin mencegah suaminya dan berusaha menjelaskan agar tidak salah paham. Namun, karena suasana belum mendukung, Anming sudah lebih dulu berpikiran negatif.


"Sayang, ini tidak seperti yang dilihat." Clara mencoba menenangkan.


"Apa maksudmu? Luna, apa yang terjadi kenapa kamu berkata kasar seperti itu?" Anming mendekati Aluna dan Nenek Alma yang masih terperanjat karena kedatangan mendadak anaknya.

__ADS_1


Melihat ada cela untuk mencari dukungan, kedua ibu dan anak itu kembali tersenyum licik. "Tuan, lihatlah kelakuan menantumu. Salahkah aku bila mencari keadilan di sini? Luna tidak hanya melukai tangan Helen, tetapi dia juga telah melukai perasaan seorang ibu yang sudah merawatnya dari kecil, kata-katanya sangat kasar. Apa kalian yakin telah memilih menantu yang tepat?" Mona mulai menunjukan powernya dalam berakting.


Wajah Anming mendadak merah, pembuluh darahnya di leher berdenyut. Ya, dia yang baru pulang dari berpergian sangat kecewa dengan sambutan yang diperolehnya. Lelaki itu melihat Aluna dengan tatapan marah.


Siapa lagi dia? batin Aluna.


Sebelum Anming mengeluarkan suaranya lagi, kalung sistem menyala, menghentikan gerakan semua orang sesaat.


...[Lelaki ini adalah Anming, ayah dari Alvin. Dia merupakan lelaki yang tegas dan sedikit emosional. Kamu harus bisa mengambil hatinya.]...


Jadi dia adalah ayah mertua Luna? Sepertinya dia tidak menyukaiku? Tetapi, tenanglah! Aku akan mencoba mengikuti saranmu, Miss K. Batin Aluna.


Semua kembali normal.


"Luna! Jaga sopan santunmu! Apa benar kelakuanmu sebejat itu? Kalau itu benar, sebaiknya kalian bercerai saja. Aku sangat malu mempunyai menantu seorang kriminal!" Bentak Anming, dia yang sedang kelelahan mendadak emosi.


Aluna terperanjat mendengar ucapan ayah mertuanya. Baru saja bertemu, lelaki itu menyuruhnya bercerai dari Alvin. Jelas itu membuatnya syok.


"Tidak, Itu tidak akan terjadi! Aku tidak akan bercerai dari Alvin sampai kapanpun! Aku berhak mempertahankan rumah tangga kami, karena--" balas Aluna.


"Karena ... aku sudah mencintai suamiku."


###

__ADS_1


__ADS_2