
Di pedesaan dekat pegunungan.
Hutan itu sangat lebat dan gelap. Sesekali Zero merasakan ada beberapa daun jatuh mengenai tubuhnya. Zero kini berusaha berjalan di tengah kegelapan hanya mengandalkan pantulan cahaya bulan purnama. Sesekali kakinya meraba-raba menyingkirkan ranting yang akan mengenai telapak kakinya yang tak beralas.
"Ke mana lagi aku harus berjalan? Kenapa tidak ada rumah satu pun di sini?"
Cuaca malam itu semakin dingin dan mencekam. Zero mencoba mengusap lengannya agar sedikit menghangatkan tubuhnya yang gemetar. Zero mendongakkan kepalanya ke atas pohon, di sana dia melihat beberapa burung hantu dan para monyet yang mengeluarkan suara saling bersahutan, sangat nyaring hampir menghilangkan kesunyian. Zero mulai sadar kalau kini dirinya ada di dalam hutan.
"Tolong jangan ganggu aku," kata Zero sambil tetap melangkah ke depan.
Namun tanpa Zero sadari, semakin anak lelaki itu berjalan ke depan, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari jarak beberapa meter. Rupanya, suara langkah kaki Zero berhasil membangunkan seekor hewan buas di hutan itu. Cuaca di hutan sangat dingin, sehingga membuat hewan buas itu semakin lapar, apalagi saat melihat umpan di depan mata.
"Haruskah aku tak lari ke sini tadi," gumam Zero menyesal.
Zero tak bergeming, dia terus melangkah maju. Dia sudah tak tahu lagi ke mana kakinya harus melangkah. Tak peduli apa pun yang terjadi dengannya, dia harus tetap berjalan sampai menemukan jalan pintas.
"Krek, krek." Terdengar suara gigi yang sedang gemelutuk seakan sedang mengunyah. Dari suaranya yang keras, seperti bukan berasal dari manusia.
Zero merasa penasaran dengan suara itu. Dia terus berjalan ke depan, sampai tak sadar dia melihat pemandangan mengerikan tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Se-serigala," ucap Zero gemetar.
Rupanya, di depan ada serigala yang sedang memangsa monyet buruannya. Terlihat monyet sudah tak bernyawa dengan bagian kaki yang sudah robek karena dimakan. Zero mulai sadar dalam kondisi bahaya, memundurkan langkahnya, berusaha berbalik arah dan berlari menjauh.
Srek!
Akan tetapi, suara langkah kaki Zero yang tergesa-gesa, membuat serigala tersebut menoleh ke arahnya. Matanya mengkilat terlihat semakin lapar, serigala sadar ada mangsa yang lebih empuk dari seekor monyet yang sedang di mangsanya sekarang.
Lari, aku harus cepat lari, ucap Zero dalam hatinya.
__ADS_1
Kakinya mendadak gemetar, ingin segera lari, namun rasanya seakan terpaku di tempat. Apalagi melihat kilatan merah, mata serigala yang tajam, hendak menerkamnya hidup-hidup dari arah berlawanan. Dua serigala ternyata sedang mengintainya.
"Aaarggh!" Zero berteriak kencang sambil menutup ke dua matanya ketakutan.
Serigala di depan sudah melompat tinggi, sudah siap memangsa Zero saat itu juga. Namun siapa sangka, di belakang Zero serigala satunya pun ikut melompat, hendak menerkam.
Bruk! Kedua serigala beradu dan saling berkelahi memperebutkan buruannya. Zero melihat kengerian itu tak tinggal diam. Dipaksakan kakinya agar cepat menjauh dari dua hewan buas itu.
Naik, aku harus cepat naik ke atas pohon, batin Zero.
Zero berlari kencang, mencari pohon yang tinggi dan harus memanjatnya dengan cepat. Beruntung, tidak jauh dari tempat serigala berkelahi, dia menemukan sebuah pohon yang cukup rindang.
Kaki mungil Zero bergerak cepat naik ke atas. Meskipun sangat kurus, kaki Zero sangat kuat dan lincah. Tak ada lima menit sebelum perkelahian serigala berakhir, dia sudah sampai di ujung atas pohon, bersembunyi di balik rindangnya dedaunan.
Sepertinya mereka tak melihatku, batin Zero.
Sambil menyenderkan tubuhnya di pohon, Zero mencoba mengatur napasnya yang masih menggebu. Walaupun belum selamat betul, setidaknya kini dia bisa bernapas lega.
Anak lelaki itu ternyata terluka. Akibat memanjat tadi, kakinya tertusuk ranting tajam. Zero mengusap darah di kakinya, menahannya agar tak jatuh karena saking derasnya. Zero tak mau, serigala tadi mengetahui keberadaannya di atas karena tetesan darahnya yang jatuh.
Dua serigala sadar mangsanya telah kabur. Tetapi, mereka masih berkeliaran di bawah, menajamkan semua indera untuk mendeteksi keberadaan Zero. Dua serigala yakin, Zero tak akan lari jauh, masih ada di sekitar mereka.
Baru saja bernapas lega, Zero baru sadar ada bahaya lain datang. Dia melihat ada seekor ular berjenis black mamba merasa terancam dengan kehadiran Zero, dan berniat mematoknya.
"Tolong jangan patok aku," kata Zero pelan.
Zero menggeser posisi duduknya menyingkir menjauhi ular. Namun ular tersebut masih merasa terancam dan terus mendekati Zero, tetap ingin mematoknya.
"Pergi, pergi!" bentak Zero.
__ADS_1
Untuk bertahan hidup, Zero mematahkan sebuah ranting yang akan dia gunakan untuk mengusir ular tersebut dan berhasil membuatnya jatuh, tepat mengenai salah satu kepala serigala.
Kedua serigala mulai sadar buruan mereka ada di atas pohon. Jiwa pemburu hewan itu sangat buas, tak ingin mangsanya kabur, keduanya memanjat pohon sangat cepat.
"Pergi, pergi!" teriak Zero ketakutan. Dia sadar nyawanya sudah di ujung tanduk.
"Pergi, tubuhku sangat kurus, jangan makan aku," teriak Zero berusaha menaiki pohon lebih tinggi lagi. Dia mulai menggunakan ranting tadi untuk mengusir serigala.
Sayangnya, menghadapi serigala tidak semudah yang Zero sangka. Rantingnya sudah terjatuh, salah satu serigala berhasil mendekati Zero, bersiap memangsanya hidup-hidup.
"Tolong, tolong, siapa pun tolong aku!" teriak Zero keras.
Suara teriakan Zero, berhasil di dengar Aluna. Wanita itu mendekatkan helikopter yang dikendarainya menuju sumber suara. Tidak jauh, Aluna melihat gerakan daun-daun dari sebuah pohon yang bergerak cepat dari atas. Aluna yakin, ada sesuatu yang berbahaya di sana.
"Lihat, pohon itu bergerak," kata Alvin.
Bersamaan dengan itu, mereka kembali mendengar suara teriakan seorang anak lelaki. Mereka yakin, itu adalah suara anak mereka yang sedang meminta pertolongan. Merasa dalam bahaya, tak mau berlama-lama, Aluna memutuskan untuk melakukan pendaratan cepat.
"Ze-zero," kata Alvin pelan. Dia yakin anak lelaki yang ada di atas pohon itu adalah anaknya.
Deru suara baling-baling helikopter membuat takut dua serigala. Kedua binatang buas itu langsung berlari turun dan menjauh dari tempat tersebut.
Bibir Alvin tiba-tiba kelu tak bisa berkata lagi, dia menyaksikan sendiri bagaimana seorang anak lelaki sedang bertaruh menyelamatkan nyawanya sendiri di alam bebas. Dan anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
"Anak kita dalam bahaya."
Pendaratan sudah sempurna, sepasang suami istri itu pun langsung turun. Alvin berlari cepat dan segera memanjat pohon, dia tak memperdulikan rasa kotor atau pun bahaya lainnya. Yang dipikirkan Alvin kali ini adalah harus menyelamatkan Zero dengan cepat.
Tetapi tidak dengan Aluna, dua serigala terlihat semakin lapar melihat umpan mereka yang bertambah semakin banyak. Dua serigala mulai berdatangan lagi dan mendekati Aluna yang masih berada di bawah.
__ADS_1
"Berani mendekat, aku akan membunuh kalian," ucap Aluna keras.